Empatbelas Juli

Tanggal Empat belas bulan Juli lima tahun yang lalu, aku mengajukan Surat Permohonan Cuti.

Tanggal Empat belas bulan Juli empat tahun yang lalu, aku menunaikan makan siang di Telaga Seafood Restaurant, Cibubur.

Tanggal Empat belas bulan Juli tiga tahun yang lalu, Sang Pemuda pertama kali mengetahui bahwa ternyata Si Gadis akan segera menikah, dan bukan dengan dirinya.

Tanggal Empat belas bulan Juli dua tahun yang lalu, aku baru saja pulang dari Sorowako.

Tanggal Empat belas bulan Juli setahun yang lalu, aku tak punya kenangan.

Tanggal Empat belas bulan Juli tahun ini, aku ingin membuat kenangan.

 

Tangkapan Layar Postingan 14 Juli 2008
Tangkapan Layar Postingan 14 Juli 2008

Lanjutkan membaca “Empatbelas Juli”

Target Ramadan

Barangkali memang benar bahwa waktu adalah besaran relatif. Terkadang waktu terasa begitu lama berlalu, yaitu ketika kita sedang melakukan pekerjaan paling membosankan sedunia yang tak lain adalah menunggu. Waktu terkadang terasa begitu cepat berlalu bagi sebagian orang dan terasa begitu lama berlalu bagi sebagian yang lain, yaitu ketika seorang anak tumbuh besar.

Maka bagiku Ramadan kali ini membuatku merasakan bahwa waktu seolah-olah mundur ke masa tiga tahun yang lalu atau bahkan tiga belas tahun lalu.

Aku teringat akan masa kurang lebih tiga belas tahunan yang lalu. Pada masa itu sudah menjadi lumrah bagi anak-anak seusiaku waktu itu untuk memperdalam ilmu agamanya di majelis taklim. Tentu kalian tahu bahwa huruf “k” di situ seharusnya adalah huruf “ع”. Di majelis taklim tempat aku menuntut ilmu setiap akhir tahunnya selalu diadakan beraneka rupa perlombaan menyambut datangnya tahun baru Hijriah. Salah satunya adalah lomba berpuisi.

Adalah seorang seniorku membuat puisi ini dan mendeklamasikannya di hadapan khalayak dan para dewan juri. Aku ingat sekali bunyi bait pertama puisinya karena secara diam-diam aku menyalinnya untuk kumasukkan dalam kotak memorabiliaku. Aku pun berkali-kali mendendangkan bait puisi ini dalam alunan nada dari sebuah lagu berbahasa Arab. Seingatku lagunya mengenai sebuah penyambutan karena terdapat kata “marhaban”. Besar kemungkinan bahwa lagu itu tentang penyambutan kedatangan bulan Ramadan.

Sebait puisi dimaksud adalah sebagai berikut:

Belum sempat aku istirahat
Kau sudah datang menyapa
Lewat detik-detik yang suci
Yang tak seorang pun mampu melebihi

Lanjutkan membaca “Target Ramadan”

Nostalgila

Apa yang diputar oleh kawanku itu betul-betul membuatku merasa nostalgila!

Tengah malam begini, tak bisa aku tertidur. Barangkali karena yang kusantap pada makan malam tadi adalah sate kambing. “Rakuen” yang dibawakan oleh Do As Infinity adalah lagu yang diputar tersebut, Saudara. Bergegas kunyalakan komputerku. Aku cari-cari itu lagu. Kuputar pula.

Haha! Masa kuliah dulu itu menyenangkan juga, ingatku. Bertemu dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Do As Infinity, misalnya. Dikenalkan oleh kawanku yang tadi kusebut itu. Langsung aku menjadi ikut menggemari itu grup band. Kemudian anime Inuyasha. Kemudian anime Kyou Kara Maou. Kemudian istilah ‘yaoi’. Haha! Lucu pula setelah kuingat-ingat betapa penasarannya aku tatkala mendengar istilah itu untuk pertama kali. Kan kalian tahu istilah itu?


Kokoro no oku ni aru kimochi
Trutaenakucha ne
Would you marry me, honey
Omedetou ima
Yatto deaeta mahou no kotoba

“Do As Infinity – Mahou no Kotoba”

Itulah lagu yang tadi kuputar setelah kutonton film pendeknya Doraemon yang mengisahkan Nobita dan Doraemon pergi menengok ke masa depan di malam sebelum Nobita dan Shuzuka melangsungkan pernikahan. Sebuah lagu yang cocok sebagai penghujung malam. Selamat tidur!

Kutipan Pekan Ini: Waktu

Beginilah pendapat Pidi Baiq yang menjawab semaunya perihal masa:

Lantas bagaimanakah konsep waktu menurut Pidi Baiq ini jika dipersandingkan dengan konsep waktu menurut Doraemon?

Ahad Berseri

Selamat Ahad pagi yang cerah, Saudara!

Sudah mendingan dari tadi malam. Tadi muntah tapi cuma sedikit. Kuharap itu yang terakhir.

Bagaimana kabar kalian hari ini? Sudah ber-jogging pagi ini? Di daerah kalian apakah langit biru cerah tanpa awan seperti di sini?

Baru saja kulihat burung dara terbang. Kuyakin itu burung dara, karena kulihat sang pemiliknya melepaskannya. Biasanya itu untuk melatih sang burung dara, mengenalkan lingkungannya, apakah bisa mengenali tempat tinggalnya dan kembali pulang ataukah tidak.

Masa lalu adalah masa yang telah lalu. Tidak bisa kembali. Tidak bisa kita raih kembali. Maka masa lalu yang indah akan menjadi kenangan, sementara yang jelek akan menjadi mimpi buruk.

Lantas bagaimana kalau masa lalu itu membayangi masa sekarang? Tersenyum sajalah. Toh kenangan itu baik, dan mimpi buruk tidak perlu kita tanggapi secara serius.

Maaf, hari ini sepertinya berbicara melantur dan meloncat-loncat. Tapi beginilah aku, selalu kepalaku dipenuhi pikiran-pikiran yang beranek macam. Indah, bukan? 🙂

Oh iya. Kuucapkan selamat bertanding bagi grup gamelan Seta Kresna Wirama di Bandung. Jadikanlah ini sebagai pengalaman. Jadikanlah ini menjadi masa lalu yang indah untuk kelak di masa depan kalian. Jadikanlah ini sebuah pelajaran.

Baru saja aku melihat sesuatu yang lucu. Ceritain nggak ya? Sudahlah. Biarkan ini menjadi kenangan manis untukku saja. Hwehe. 😀

Layang-layang (updated)

Sekarang musim layang-layang, ya? Kok banyak kulihat di angkasa banyak beterbangan layang-layang merahkuninghijaubiruputihungujinggahitamabuabu. Waktu ke Bandung Ahad kemarin juga kulihat layang-layang beterbangan. Bak burung bulbul yang sedang mencari mangsa, kata kawanku. //Emang tau burung bulbul tu yang kek mana?? Yah, jadi teringat. Belum kulanjutkan cerita waktu aku kondangan ke Bandung itu, ya? Waduhaduh™, besok deh InsyâAllâh.//

Teringat masa-masa ‘ku muda dulu nih jadinya. //Sekarang juga masih muda. Hwehe.//

Waktu zaman dahulu kala, ketika diriku ini masih belia, aku seringkali berpanas-panasan di tanah lapang. Berjemur? O, tentu tidak. Dengan berbajukan kaos berkolorkan celana pendek dan bersandalkan jepit tanpa ingus di hidung, //halah bahasanya// aku melangkah pasti dengan menenteng kaleng bekas yang dililiti senar yang tersambung dengan layangan. Bersama kawan-kawan senasib seperjuangan, aku bermaksud menerbangkan layang-layang kesayangan yang kubeli di desa seberang. //Soalnya layangan buatan sendiri ga bisa terbang. Hoho.//

Kusiapkan layanganku, kutarik-tarik senarnya. Tapi oh tapi, layangan kawan-kawanku sukses terbang tinggi sementara layanganku selalu nyungsep ke sana ke mari. Tak gentar tak putus harapan, layanganku kusiapkan kembali. Kutarik senar kembali. Dan…ia pun nyungsep lagi. Buhuhu. Nasib oh nasib. Ternyata tak berbakat aku menerbangkan layangan. Karena itulah cita-citaku menjadi pilot kubatalkan. Kacian. //Sampai sekarang aku sama sekali belum pernah dengan sukses menerbangkan layang-layang, lho. Memalukannya diriku.//

Wah, jadi ingat lagu masa-masa SD ini:

Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

Bermain, berlari
Bermain layang-layang
Bermain kubawa ke tanah lapang
Hati gembira dan riang

Benar kagak tuh liriknya? Judulnya apa, ya? Penciptanya siapa pula? Hoho. Kagak ngarti.

Lagu tentang layang-layang ada satu lagi yang kutahu. Lagunya Koes Plus:

Layang-layang yang kusayang
Layang-layang yang kusayang
Jauh tinggi sekali
Melayang-layang

Layang-layang benang panjang
Layang-layang benang panjang
Kutarik kencang sekali
Putus di tangan

Layang-layang
Layang-layang yang kusayang
Jauh tinggi melayang
Akhirnya jatuh di hutan

Benang panjang
Benang panjang ikut melayang
Hancur lebur berantakan
Karena datangnya hujan

Entah mengapa, kupikir lagu ini lucu. Ya lucu aja, liriknya tentang layang-layang, tapi alunan nadanya mellow. Yah, orang dewasa ngomong layang-layang begini jadi aneh. Hoho.