Kesegaran Pertama

Kalian tahu keuntungan apa saja jikalau kita menjadi salah satu dari golongan pendatang pertama di masjid?

Musim hujan memang sudah datang. Akan tetapi dua hari belakangan ketika siang maka cuaca bukanlah mendung melainkan terik. Maka apabila datang pertama ke masjid, kita datang pertama pula ke tempat wudu. Maka jika terik demikian terjadi, air wudu menjadi hangat karena tandon air terjemur seharian.

Akan tetapi, Saudara, apakah kalian memperhitungkan bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah? Apakah kalian juga memikirkan bahwa dari tandon air untuk sampai kepada keran di tempat wudu air harus melewati beberapa tempat melalui pipa?

Beberapa pipa tersebut berbahan polyvinyl chlorite dan tertanam di dalam tembok. Kalian tahu apa artinya hal itu, Saudara? Jika jawaban kalian atas pertanyan di atas adalah ‘iya’, maka gerangan kalian pun tahu jawaban pertanyaan di awal tulisan ini.

Jika kita pertama datang ke masjid, kita akan bebas memilih keran di tempat wudu. Kita pun akan mendapatkan tetesan air pertama dari keran tersebut. Dan tetesan air tersebut adalah dingin hingga menyegarkan, Saudara.

Dua hari ini aku telah mencobanya. Sekarang giliran kalian! 😀

Menghidu Debu

Aku menghidu serpihan debu yang beterbangan di serambi masjid. Aku yakin sekali serpihan debu yang melintasi depan hidungku itu adalah debu yang suci. Aku begitu yakin karena serpihan debu itu mengudara memasuki masjid.

Hujan turun deras sekali, membuat kami bertahan di serambi masjid dan tidak kembali ke kantor. Pun serpihan debu itu. Mereka berteduh menghindari guyuran hujan yang bertubi-tubi. Maka aku yakin sekali mereka itu suci, karena yang tidak suci atau yang merasa dirinya bukanlah debu yang suci akan tetap berdiam di atas jalanan.

Tiadalah mengapa diri mereka yang sudah kotor itu terkena hujan lantas dirinya basah dan terkena kotornya asam. Mereka, debu-debu yang tidak mau berteduh itu, sudah merasa kotor sedari semula. Tidak akan menjadikan harkatnya bertambah tinggi apabila mereka berteduh demi menghindari hujan. Begitulah debu-debu kotor itu berlogika.

Maka kini aku sedang menikmati aroma serpihan debu-debu suci yang berhamburan memasuki pelataran masjid demi menghindari kebasahan. Bersama masuknya sebagian kecil dari mereka ke dalam sistem pernapasanku, aku pun bertasbih.

Masjid di Kala Ramadhan

Kran Air
Kran Air Tempat Wudhu @ Masjid Baitut Taqdis - Kompleks Pusdiklat BC

MASJID DI KALA RAMADAN

Masjid di awal bulan Ramadan
Tumpah-ruah dengan manusia yang butuh peningkatan iman
Masjid di awal bulan Ramadan
Ajang fashion show dan pameran

Masjid di tengah bulan Ramadan
Tempat berkumpul dan mengadakan pengajian
Masjid di tengah bulan Ramadan
Menjadi saksi atas orang-orang yang benar-benar beriman

Masjid di akhir bulan Ramadan
Kembali lengang seperti kebiasaan

Hari kedua Ramadhan Empat Belas Dua Puluh Sembilan. Di luar kepanasan, di dalam kedinginan. Alhamdulillâh, aku tidak kelaparan. Hwehe.

Ingin membicarakan kebiasaan masyarakat kita dalam hal be-Ramadhan dan bermasjid, nih. Tapi mungkin saudara-saudara sudah tahu semua. Bukan begitu? //Bukaaaaaan.//

Fenomena apakah yang sedang hot belakangan ini? Ialah fenomena membanjirnya manusia-manusia di masjid. Khususnya ketika waktu Isyâ’ tiba, orang-orang sudah berada di masjid. Tarawih berjamaah menjadi rutinitas di awal bulan Ramadhan ini. Bagus. Bagus sekali. Tapi sebentar, kita tengok mall, swalayan, dan supermarket. Oh, ternyata manusia-manusia itu masih membanjiri pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Ya, tapi setidaknya sudah banyak orang-orang yang kadar keimanannya meningkat. Tapi, tunggu dulu, saudara. Akankah orang-orang yang mulai membanjiri masjid ini akan tetap bertahan hingga Ramadhan berakhir kelak?