Apelmu di Anggurku

Apel dan Anggur

Apel dan Anggur

Sarapan siang adalah istilah baru yang kuusulkan sebagai alih bahasa dari kata bahasa linggis ‘brunch’. Maka yang menjadi sarapan siangku hari ini adalah sepotong apel dan empat buah anggur ini. Tentu banyak dari kalian yang spontan berujar, “Mana Kenyang?” Memang tidak kenyang, Saudara. Tetapi, apapun, aku bersyukur mendapatkannya.

Hakimilah Buku dari Sampulnya

Hari Ahad kemarin aku menyempatkan diri menghadiri Klub Buku yang diadakan oleh Goodreads Indonesia. Temanyalah yang menarikku untuk pergi ke TMBookstore Detos, Depok, pada hari itu. Adapun tema pertemuan kali itu adalah “Arti dan Peranan Sebuah Sampul Buku”.

Menghadirkan seorang editor merangkap penulis dan seorang desainer sampul buku dari dua penerbit (penerbit kakak beradik, sepertinya), aku rasa sudah cukup untuk memuaskan rasa penasaranku mengenai sampul buku. Sekalian pada hari itu aku juga berencana berbelanja buku. Maka di toko buku itulah aku Ahad kemarin itu (dan membolos tugas piket).

Dari acara itu aku beroleh kesimpulan bahwasanya setiap sampul buku memiliki proses kreatifnya hingga menjadikannya sedemikian rupa. Tak ubahnya seperti hasil karya desain visual lainnya semacam poster atau pamflet.

Yang membuatku tercengang adalah ternyata untuk buku-buku terjemahan, karena lisensi sampulnya relatif mahal, maka yang dibeli adalah lisensi isi buku. Sampulnya kemudian dibuat ulang dengan konten yang berbeda. Memang ada beberapa buku terjemahan yang dibeli lisensinya oleh penerbit sekalian dengan sampulnya. Itu pun kalau sampul dari luar negeri tersebut dirasa tidak akan ada yang lebih bagus lagi kalau dibuat baru, dan sudah sesuai dengan tren sampul di pasar Indonesia.

Nah, Saudara. Dari dua sampul buku yang kubeli hari Ahad itu juga, manakah kira-kira yang harganya lebih mahal?

Sampul Buku: Teori Semantik & Bumi Manusia

Sampul Buku: Teori Semantik & Bumi Manusia