Dijodohkan Lagi

Semenjak menikah di awal tahun ini, terhitung sudah ada tiga oknum yang berniat menjodohkanku untuk menikah dengan gadis(-gadis) pilihannya. Entahlah, Saudara. Barangkali inilah yang disebut godaan masa awal berumah tangga. Atau barangkali inilah pertanda bahwa aku harus menikah lagi? \Buk! Langsung kena hantam palu godam dari seberang lautan.\ 😀

Seingatku, aku sudah mengabarkan perihal pernikahanku Januari kemarin kepada tiga oknum tadi. Entahlah, barangkali mereka sudah lelah, atau terlalu bersemangat ingin menjadi makcomblang agar diberi rumah di surga kelak, atau memang akunya saja yang kondang dengan tampang jomblo.

Untuk kemungkinan yang terakhir itu, aku memiliki buktinya. Kejadiannya baru saja, yaitu ketika aku belum menulis postingan ini, seorang oknum terakhir memberiku foto-foto seorang gadis kawannya yang katanya siap menikah. Niat si oknum adalah untuk memperkenalkannya denganku dengan harapan kami berjodoh. Kutanyakan kepada si oknum mengapa dia menawariku hal demikian ini. Jawabannya terus saja membuatku geli sekaligus sedih karena dikatakannya bahwa aku susah cari pacar.

Terlepas dari itu, aku berterima kasih kepada ketiga oknum tadi karena telah mempercayaiku untuk mencoba memperkenalkan kawannya ke arah perjodohan. Semoga gadis-gadis itu segera mendapatkan jodoh yang baik. Amin.

Kawan Kawin

Ahad kembali hadir di bulan Januari. Matahari bersinar dengan irit. Menggugah hasrat makanku yang kian menggebu. Syukur alhamdulillah hari ini dijadwalkan menghadiri kondangan kawinan. Hasratku tersalurkan dengan aman.

Topik PostADay hari ini memang bukan kawinan, melainkan kawan. Tetapi aku berhasrat untuk mengawinkan kedua topik itu hingga menjadi sesuatu yang sepadan.

How do you define the word friend?

Kawan adalah orang yang kita kenal, yang dengan baiknya hingga ia rela mengorbankan segala sumber dayanya untuk menyaksikan satu titik tolak perjalanan hidup kita, yaitu ketika kita melangsungkan akad perkawinan. Bukan kawan adalah orang yang kita kenal, dengan baik ataupun tidak, yang ketika kita melangsungkan akad perkawinan, dia hanya datang ketika makanan resepsi perkawinan telah terhidang.

Hari ini aku adalah kawan, yang dengan rela bangun pukul 3 dini hari untuk kemudian bersiap lalu pergi ke sini, ke tempat berlangsungnya akad perkawinan. Sejauh aku berjalan, sejauh itu pula aku kawan baginya.

Sekarang aku sedang rehat makan. Maka duduk merenunglah aku di salah satu sudut dalam sebuah ruangan sempit demi mendengarkan suara alam. Preeeeeeet!

Gadis vs Pemuda: InsyaAllah Hari Ini

Malam kelam tanpa bintang. Suara dedaunan tertiup angin terdengar sampai ke dalam sebuah kamar. Di situlah berdiam seorang pemuda sedang menekuri secarik kertas. Mulut Sang Pemuda komat-kamit merapal tulisan yang tertera di atasnya.

Hai, Gadis. Ada sesuatu hal serius yang ingin kusampaikan kepadamu. Menyangkut aku, kau, dan masa depan.

Sudah berlangsung sedari lama aku memendam rasa ini. Kupendam rasa ini, dan tak kusampaikan kepadamu. Maka pada kesempatan ini akan kuutarakan kepadamu, bahwa aku telah lama jatuh hati kepadamu, dan aku menghendaki dirimu.

Kupikir sekarang sudah waktunya kau tahu akan hal ini. Bagaimana, Gadis? Sesungguhnya aku bukanlah orang pemaksa dan bukan pula peminta-minta.

Maka jikalau engkau tidak menghendaki, biarkanlah perasaan ini pudar lalu mati. Namun jikalau hal sebaliknyalah yang engkau kehendaki, maka biarkanlah perasaan ini berkembang dalam wadah syar’i.

Mari kita berlari. Aku yakin larimu sanggup aku imbangi. InsyaAllah aku bisa memimpin lantas mengarahkanmu menuju jannah ilahi.

“Semoga besok dapat kulancarkan rencana ini. Kuinginkan segala yang terbaik, ya Allah,” Sang Pemuda berkata dalam hati sebelum kemudian menuju tempat tidur lantas melingkupi tubuhnya dengan selimut bergambar Doraemon kesayangan. Malam itu memang terasa amat dingin.

===

Lain ladang lain belalang, lain kamar lain penghuninya. Maka di dalam sebuah kamar yang dihuni oleh seorang gadis keadaannya begitu terang karena lampu belajar sedang dinyalakan. Si Gadis itu tampak sedang melihat sebuah buku kecil Spongebobs-nya. Itulah buku agenda. Lanjutkan membaca “Gadis vs Pemuda: InsyaAllah Hari Ini” →

Kapan Kawin? Kapan-kapan…

X: Kowe kapan kawin? //Kamu kapan menikah?//
Y: Setu //Hari Sabtu//
X: Setu sesuk? //Hari Sabtu besok?//
Y: SetutukĂŠ //Sekenanya/sebisanya//

Lagi-lagi sedang lagi menghadapi agenda permasalahan besar yang menanti. Menikah. Eh, bukan. Maksudku menghadapi pernikahan. Eh, bukan begitu maksudku. Tolong Saudara-saudara jangan salah paham. Bukan, bukan aku yang akan menikah. Ya, aku sih memang ingin menikah. Tapi nanti, nanti sajalah. Kapan-kapan. Hwehe. (^^);

Sebegitu sulitkah menikah? Iya, iya. Menikah memang mahal untuk ukuran orangtua zaman sekarang. //Orangtua? Iyalah. Pesta pernikahan kan memang acaranya orangtua. Kita mah jadi penggembira saja, jadi pajangan di pelaminan. Kalau aku mah, asal selesai ijab-qabul, terus malam pertama, selesai dah. Bukan begitu, Saudara-saudara? Hoho.// Yang ingin kubahas di sini bukan tentang itu. Tapi tentang siap-tak siapnya menikah, sudi-tak sudinya menikah. Itu.

Siap-tidaknya menikah, kira-kira dari mananya, ya? Sekali lagi, kesampingkan masalah dana, ya. Coba kita tengok dari sisi ketahanan mental seseorang dua orang yang akan menikah. Siapkah mereka membina sebuah mahligai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah? Sebenarnya aku tidak berkompetensi untuk membahas masalah ini. Karena apa? Karena Farijs belum laku! Hwehe….

Sedang malas membicarakan kapan pernikahanku akan berlangsung. Gara-gara mudik lebaran kemarin dijodohin lagi. Dasar budhe-budhe itu, tak ada kerjaan lain apa, selain menjodohkan diriku? Waduhaduh™….

Ada lagi masalah kawanku seorang itu. Patah hatinya mendengar gadis pujaannya hendak dilamar orang. Remuk redam semangatnya, nyaris tak mau makan. Kukatakan saja padanya sebuah pepatah yang dahsyat tentang hal ini:

“Tenang saja, kawan. Selama janur kuning belum melengkung, teruslah engkau berusaha mendapatkannya. Pantanglah berputus asa, teman. Tak ingatkah kau kata pepatah nenek moyang para supir truk itu, kawan? ‘Kutunggu jandamu’!”

Setelah mendengar petuah dari orang tak belum laku ini, dia pun termanggut-manggut. Damailah hatinya. Hoho. Padahal sebenarnya ada satu kalimat pusaka lagi yang ingin kusampaikan kepadanya, namun urung kuucapkan. Kalimat apakah gerangan? Sebuah kalimat yang berasal dari pepatah betawi kuno ini sebenarnya agak sedikit mengerikan. Bunyinya begini:

“Selama bendera kuning belum berkibar, masih tersedia banyak kesempatan.”

(^_^)v

Aha! Ngomong-ngomong soal janur kuning, aku memiliki sebuah ide yang menarik, Saudara-saudara. Sudah lama kutemukan inovasi yang cukup cerdas ini. Hwehe. /Bergaya ala pahlawan bertopeng setelah memenangkan pertarungan./ Saudara-saudara sudah pernah menikah? Ada pesta resepsinya? Di gedungkah atau di rumahkah? Pasti ada janur kuning, kan? Bukan janur kuning pas perang kemerdekaan itu. Bukan pula janur kuning yang dibuat menjadi bungkus ketupat pada lebaran kemarin. Tapi yang kumaksud adalah janur kuning yang ada dalam istilah “selama janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan buatku untuk merebutnya” yang telah kusebutkan tadi. Atau janur kuning yang termaktub dalam lirik lagunya Desi Ratnasari yang berjudul “Tenda Biru”:

tak sengaja kulewat depan rumahmu
‘ku melihat ada tenda biru
dihiasi indahnya janur kuning
hati bertanya pernikahan siapa

Sekarang sudah mengerti bukan, janur kuning yang kumaksud? Kalau memang Saudara-saudara belum mengerti juga, silakan lihat foto di bawah ini! Dasar, gitu aja ndak ngerti-ngerti. Simelekete…. (^_^)

Djanoer Koening
Djanoer Koening

Sebagaimana terpampang dalam foto di atas, terlihat jelas bahwa janur kuning telah berubah menjadi kecoklatan. Janur kuning ‘lah layu. Karatan, kalau istilah dalam dunia pertukangannya. Mengapa oh mengapa? Lulusan IPB mungkin bisa menerangkan dengan lebih gamblang. Yang jelas, janur kuning sebagai perlambang pernikahan itu tidaklah berpanjang usia. Tidak awet. Terang aja banyak pasangan suami-istri yang pernikahannya nggak awet belakangan ini, ya. //Hwehe. Ini mah kagak ada hubungannya ama janur kuning layu, kaleee.// Padahal pernikahan adalah sebuah peristiwa yang sakral. Diagung-agungkan. Suci. Kalau bisa sekali saja seumur hidup. Jadi perlambangannya harus yang awet, dong. Tapi kenyataan yang terjadi sekarang ini? /Senyum-membawa-luka mengembang/ Inilah ide dasarnya, Saudara-saudara.

Lantas, inovasi apa yang ditawarkan oleh seorang Farijs van Java? Simpel saja, Saudara-saudara. Awetkan si janur kuning. Bilamana? Pertanyaan selanjutnya yang muncul: bahan apa yang mudah dibentuk, mudah didapat, murah, yang awet tak teruraikan selama seratus tahun? Tepat sekali, Saudara-saudara. Jawabannya adalah plastik. /Ngasih standing applause buat para pemirsa./

Tidak adakah seseorang yang berinisiatif membuat janur kuning sang perlambang pernikahan suci-mulia itu dengan bahan dasar plastik?

(^_^)v

===
Postingan terkait:
Menikah Itu Indah?
Pacaran

Menikah Itu Indah? (updated)

Menikah itu indah.
Apa? Indah sudah menikah?
Oh, hatiku jadi patah.

Tapi benar, menikah itu indah.
Sebuah jalan meraih berkah.
Karena menikah itu ibadah.
Asal berniat karena Lillâh.

Teman-temanku banyak yang sudah menikah.
Banyak juga yang akan segera menikah.
Yah, kapan aku menikah?
Ayo kapan aku mengakad Aisyah?
Ya Allâh, kapankah?

(^_^)v

Yah, belakangan ini banyak yang menikah. Teman menikah. Teman menikah. Kakak kelas menikah. Teman menikah. Anak pak dosen menikah. Tetangga menikah. Teman menikah lagi. //Lagi? Kedua kalinya? Bukan, lah. Hwehe….//

Si Umar Donny belum sebulan menikah. Tanggal 8 giliran si Kudang. Tanggal itu juga Mas Septian menikah. Tanggal itu juga //kok kompakan, yah?// anak Pak Bambang menikah. Yah, bingung aku memilih hadir di mana. Jadi teringat cerita si Lebai Malang. Tanggal 14-nya si Arum menikah. Yah, banyak hati patah-patah, dah. Hyehehe. Terus, kapankah aku menikah? //Kapan-kapan.// Akankah aku menikah? //Ya pastilah, InsyâAllâh.// Lalu kapan? //Bersabarlah. Sesungguhnya orang yang sabar cepat menikah. Hoho.//

Nantilah, setelah terpenuhi segala ambisiku.

(^_^)v

Semangat!

Buat para saudaraku yang sudah, //sedang, //dan akan menikah, kudoakan semoga pernikahan kalian membawa barakah.

[UPDATED-2 JUNI 2008]

Oh ya, kelupaan. Bulan depan, tepatnya tanggal 5 Juli 2008, NAIA InsyâAllâh nikah. Banyak yang hatinya patah-patah juga, dah. Hwehe…. //Buat KRISNA, nyang sabar aja, ye. Jangan minum racun nyamuk. Minum racun serangga aja. Hyehe….//

Selamat ya, buat kalian semua yang akan menikah. Semoga lancar.

[UPDATED-4 JUNI 2008]

Tadi pagi dapat kabar, kawanku satu angkatan, Dino, akan mengakad teman seangkatanku juga, Tutik, 29 Juni nanti. Waduhaduh™…ini mah berita heboh! Sudah bisa dipastikan akan banyak berjatuhan korban-korban hati patah. Hoho. Tentu aku tak termasuk, dong. Masak playboy hatinya patah. Hwehe.

Kepada saudara-saudari, kawan-kawanku, daku cuma bisa berpesan:

“Siapa cepat dia dapat. Orang hebat memang layak nikah cepat.”

Semoga kalian berdua diberkahi Allâh SWT. Dan bagi para korban, bersabarlah. Sesungguhnya jodoh sudah ada yang mengatur. Hoho….