Siri

Kalian tahu, Saudara? Akhirnya aku baru tersadar atas apa yang dulu kupikir hilang dalam pemikiran. Ketika Apple mengumumkan fitur terbaru pada iPhone 4S yang diberinya nama Siri, otakku seolah hendak mengatakan bahwa ada sesuatu yang janggal mengenai ini, tetapi entah apa.

Malam ini, ketika mendapatkan kabar bahwa seorang kawan diduga telah melakukan pernikahan secara diam-diam dalam tanda petik, langsung terbersit dalam kepalaku akan istilah ‘nikah siri’. Siri, sirri, yang dalam bahasa Arab berarti diam-diam, adalah sangat bertentangan dengan Siri pada fitur iPhone terbaru itu. Kan begitu?

Kawin Dulu Baru Selingkuh

Selamat pagi, Saudara!

Ahad pagi yang cerah, matahari yang bergegas terbit, membuatku jadi tak nyaman tidur sampai siang. Hoho. Ya sudah, tunaikan hajat saja.

Nanti siang hendak pergi ke walimahan nikahnya seorang kawan. Sebaris teks dalam otakku dapt dibaca sebagai: Beruntung sekali dia, dalam hidupnya mulai hari ini akan ada yang mengurus.

Oh, Alhamdulillah. Ada seorang (maksudnya sepasang) lagi yang lulus dari predikat tunaasmara. Lantas bilakah aku?

Baru saja kututup telepon. Tadi berbincang cukup lama dengan seorang kawan yang sudah lama di kampuang nan jauh di mato. Isi perbincangan pun tak jauh-jauh dari pernikahan.

Berceritalah kami tentang bagaimana si fulan menikah, kapan si fulanah melahirkan, dan semacamnya. Rupa-rupanya sudah banyak pula kawan-kawan kami yang berumah tangga, sebagian sudah pula berkembang biak. Lantas giliran kami kapan?

Menikah itu tidak perlu terburu-buru. Kalau sudah waktunya, segerakanlah. Begitu nasehat seorang ustadz kepadaku beberapa tahun yang lalu.

Maka aku pun kembali berpikir, sudah waktunyakah bagiku untuk dapat menyegerakan? Lama kupikir, sembari membuang semua hajatku di pagi yang cerah ini, lantas kudapatkan sebuah jawaban. Adalah bagi mereka yang sudah, sudahlah memang waktunya, dan bagiku waktu belum sampai hingga tak perlulah aku bersegera.

Sudahlah. Takkan lari pula gunung dikejar. Baiknya nanti kupuas-puaskan diri di kondangan nanti. Kalau perlu kubawa serta rantang agar sepulangku dari sana aku tidak bertangan kosong.

😀

Siap Menikahi Mental?

Kira-kira apa yang membuat kita siap mental untuk menikah, ya?

Niat. Apa niatmu?

{Menuntaskan segala keraguan.}

Kalau begitu, lakukan. Atau dirimu akan begitu seterusnya.

Keinginan kuat dan niat tulus untuk menyempurnakan ibadah kepada Allâh SWT.

Orang bakal tahu deh kapan mereka siap ato gak. Kalo ditanya siap ato gak, keknya orang bakal bilang gak. Dan sebagian harus nekad juga. Kalo nunggu siap keknya susah. Yang penting kan nemu orang yang mau diajak nikah dulu. 

{Berarti nikah yang dipaksakan, dong?}

Nekad bukan berarti terpaksa, tapi maksudnya membulatkan tekad. Beda itu. Kalo misalnya ada cewek yang mau diajak nikah, beres kan?

{Masalah awalnya kan bukan itu. Kitanya sudah siap atau belum? Itu dulu.}

Lah, kalo kau siap, si ceweknya gak, gimana hayo?

{ ? }

{Ya cari aja cewek yang siap, lah. Kan masih banyak yang lain.}

Huex!

Bercanda. Mana ada kesiapan mental buat nikah? Yang ada mah kesadaran.

{Lantas kemarin itu gak siap?}

Kagak, lah. Tapi orang mau nikah rizqinya banyak. Makanya akhirnya kejadian juga. Rizqi kan macem-macem. Bisa berupa support dari orang lain supaya niat makin mantap.

{Support? Yang ada sekarang tuh orang-orang malah dorong-dorong, bukannya nyokong!}

Itu artinya pikiranmu belum terbuka, makanya berasa kayak didorong. Kalo belum siap mental artinya belum dewasa.

Percaya pada-Nya, berani bertanggung jawab atas apa yang kita putuskan.

Kalo dah siap mah enjoy2 aja. Ntar kalo dah ketemu jodohnya juga siap sendiri. Rasa sayang bakalan jadi sugesti untuk siap.

{Loh, seharusnya kan prosesnya dibalik? Kita siap dulu, baru cari jodoh.}

Seorang calon (suami) yang “tepat” dan dia bisa meyakinkanku bahwa aku layak untuk menjadi (istri)nya.

Kalo sudah siap lahir batin, apalagi materi, itu sudah membantu kok. Tapi yang paling utama adalah menggenapkan separuh agama, beribadah karena Allâh. Istikharah saja. InsyâAllâh membantu.

Pada dasarnya apapun bentuk hubungan antara pria dan wanita, terdapat aturannya sendiri dalam Islam. Islam mengatur bahwa hubungan pria dan wanita diikat dalam pernikahan, dimana di dalamnya iman dan takwa adalah standar utama. Bukan usia, materi, penampilan, atau bahkan prestise. Selama iman dan takwa dijadikan sebagai patokan dan Allâh sebagai tujuan, maka perjalanan hubungan pernikahan akan menuju pada akhir yang bahagia, karena masing-masing pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing.

{Lantas kapan dikau menikah?}

Seandainya Allâh menghendaki aku menikah sebelum mati, aku akan menikah tepat pada waktunya. Yaitu waktu yang terbaik yang diberikan Allâh, dan dengan (laki-laki) terbaik yang dianugerahkan Allâh untukku.

Pertanyaan selanjutnya: kira-kira apa yang membuat seorang gadis {bujang} menerima pinangan {meminang} kita, ya?

SPT: Surat Pajak Tanah!

Ummiy: “Lagi ngapain?”

SiAnakNakal: “Hwehe…. Lagi mo mandi.”

Ummiy: “Eeeh, jam segini baru mau mandi? Emang ngapain aja tho Lé?”

SiAnakNakal: “Ya abis lembur, baru aja pulang.”

Ummiy: “Ya tapi mosok yo mandi jam delapan malem gini?”

SiAnakNakal: “Ya mo piyé menèh, Miy?”

Ummiy: “Udah, ndak usah mandi. Kalo mandi malem-malem nanti kamu bisa kena encok. Bisa…bla bla bla… /menjelaskan panjang-lebar-tinggi/”

SiAnakNakal: /Mendengarkan sambil buka baju/ “Inggih, nggih….”

Ummiy: “Oya, tadi ada surat buat kamu.”

SiAnakNakal: “Surat? Surat apaan? Dari mana, Miy?”

Ummiy: “Itu, Surat Pajak Tanah. Emang kamu wis dhuwé tanah, tho Lé?”

SiAnakNakal: “Pajak tanah?”

Ummiy: “Ato jangan-jangan kamu ndak pulang-pulang itu kamu di sana udah kawén ama anaknya juragan tanah, po?”

SiAnakNakal: “Yaelah, Miy. Ya enggak, lah. Ngapain pula aku kawén-nya ama anak juragan tanah. Mending kawén ama anaknya juragan roti , lah.”

Ummiy: “Lha terus kowé kapan muléhé?”

SiAnakNakal: “Ya nantilah, yèn mpun punya anak. Hwehe….”

Ummiy: /Teriak/ “Lééééééé!”

Hoho. Seorang ibu yang merindukan anaknya. Sampai-sampai berkata SPT adalah Surat Pajak Tanah, bukannya Surat PemberiTahuan. Hwehe…

v(^_^)

Pengkhianats Bangsa Penampakanz

Sabtu, 5 Juli 2008

Dear diary, //Ceile… cewek banget, Oom.//
Hari ini aku pergi ke bilangan //satu, dua, tiga, …// Warung Buncit, Jakarta Selatan. Ya, hari ini aku pergi ke nikahannya Naia. Sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, sih. Tapi tetep aja ngga keruan. Mulai dari bangun telat, milih-milih baju dekaka-nya lama, makeup kelamaan, ampe lupa belum nyiapin amplop sumbangan. Oiya, ampir aja tadi kelupaan titipan sumbangan dari Irrr Setiangatjir.

Diary, dengan tergesa-gesa akhirnya aku pun pergi. Naik busway. Pukul setengah sembilan kurang tibalah aku di halte Warung Jati. Anak-anak pada janjian kumpul di situ soalnya. Dan akad nikahnya Nai jam sembilanan gitu. Aku tuh pengen banget ngeliat prosesi akad nikahnya. Jadi dibela-belain ngga nyalon dulu, deh. Mukaku masih lecek-lecek gitu.

Begitulah diary, akhirnya aku musti nunggu di halte lamaaaaa banget. Satu jam-an aku nunggu, loh. Nungguin si Antho. Entah lagi ngapain tu bocah. Sebel deh eike. Tapi untunglah si Aang dateng naik motornya, ngejemput aku. Hehe. Jadilah aku ke rumahnya Nai dibonceng Aang. Peluk pinggang bo’. Endang markondang, lah. Hehe. Jauh juga rumahnya si Nai dari tuh halte. Eh, ternyata hari itu banyak yang pada nikahan juga, lho. Dari Warung Jati ampe gang masuk ke rumahnya Nai itu banyak aku liat janur kuning melengkung. Yah, pastilah di satu sisi banyak orang sedang bahagia. Namun di sisi lain, pasti lebih banyak lagi orang yagn merana. Merana karena cinta, alias patah hati. Hoho. Kacian.

Dan diary, ternyata sudah ada Bengky di dekat rumah Nai. Cipika-cipiki. Cipok pipi kanan, cipok pipi kiri. Hihihi. Tak lama kemudian datanglah Antho. Uh, akhirnya dateng juga dia. Kami masih belum berani ke rumahnya Nai. Dasar, malu-maluin. Hehe. Di saat inilah kami berdiskusi mengenai suaminya Nai yang tetap misterius sampai saat itu. Karena di janur tertulis Septy (Naia) dan Ari, kami pun membuka wacana jikalau yang dimaksud Ari itu adalah Ari kawan kita juga. Jikalau benar-benar dia itu Ari kawan kita, kami sepakat untuk memberinya tanda mata. Tanda mata yang sebenernya maksudnya, yaitu luka lebam di sekitar mata akibat tonjokan. Huhu. Sadis sekali kami ini.

Here we go. Akhirnya kami telepon si Saugi, kakaknya Nai, biar ngejemput kami. Emang ada-ada aja kami ini. Masak tamu musti dijemput tuan rumah. Hehe. So, Saugi ama Imam, adeknya Nai, keluar dan nyamperin kami. Eh, ga berapa lama dateng juga Kang Wawan. Wah, makin rame, deh. Hoho.

Akhirnya kami pun ke rumahnya Nai. Di depan rumahnya ada pelaminan. Ada Naia, mempelai wanita, dan di sebelahnya ada mempelai prianya yaitu … Ari Bowo! Ternyata emang bener suaminya Nai itu Ari kawan kita. Kagetnya kami. Sampai-sampai udah mo balik kanan trus pulang. Hiks hiks. Mas Ari. Aku kecewa. Aku kecewa, Mas. Kecewa! Patah hatiku ini. Kenapa Mas Ari lebih pilih Naia daripada eike. Ih, sebel deh!

Diary, untuk mengatasi rasa kecewa yang mendalam aku makan sebanyak-banyaknya di resepsinya. Biarin, itung-itung balik modal sekaligus bales dendam. Hoho. Aku ambil semuanya pokoknya. Ada rendang, santap! Ada soto mi, sikat! Eh ada es krim yang mak nyus. Ada juga siomay yang endang bambang gulinem. Enak banget pokoknya. Kenyanglah diriku.

Di saat dah pada abis makannya, eh, Tante Itemz dateng ma temen lakinya. Wah, si Tante ga kaget gitu pas tau ternyata Mas Ari-lah yang jadi mempelai prianya. Mungkin Tante udah ngerelain Mas Ari kali, ya. Dah dapet gantinya. Hihi. Tapi si Tante berkilah bahwa udah sejak di gath di Monas itu si Tante dah mencium bau-bau mencurigakan di antara Naia ama Mas Ari. Yah, si Tante ini pinter banget berkilah.

Tapi diary, beneran deh aku kecewa banget. Udah berharap banget gitu aku ama Mas Ari. Eh, tau-tau Mas Ari-lah yang jadi suaminya Naia. Emang dasar si Naia ma Mas Ari pengkhianat. Curang nih Naia. Kudoain nanti anak-anaknya pada cakep-cakep kek aku, lho. Hehe.

===

Hwehehe. Gimane sodare-sodare, udah girly abis ga tuh tulisan ane ini? Hoho. Sekali-kali boleh dong segmentasinya diubah.

Tapi salut buat Naia ama Mas Ari. Mainnya halus bener. Sampai-sampai kebanyakan dari para Penampakanz tidak menaruh curiga terhadap hubungan kalian berdua. Memang patut dianugerahi julukan Pasangan Makhluk Halus Penampakanz Sejati, deh. Hwehehe. Selamat buat Naia dan Mas Ari. Semoga pernikahannya barakah. “Barakallâhu laka wabaraka ‘alayka wajama’a baynakumâ fî khayr.”

Naia dan Mas Ari
Pengkhianats Bangsa Penampakanz (Naia dan Ari)

Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Doakan diriku ini segera menyusul. Hwehehe. Tungguin undangannya, yah.

(^_^)v

Postingan terkait:

Kondangan

Farijs van Java gaat naar Parijs van Java

Yo!

Ahad kemarin. Dua hari kemarin. Oh, hari Ahad tanggal 8 kemarin. |sigh|

Ahad itu aku ke Bandung, bersama teman-teman. Kami bertiga, dengan menunggangi travel, berangkat jam 7.30 dari Bintaro Trade Center (BTC) menuju Cihampelas, Bandung. //Sempat melewati BTC juga. Bandung Trade Center. Hoho.// Jalan-jalan? Rekreasi? Tamasya? Piknik? Atau studi banding? Bukan! Tapi untuk suatu urusan yang wajib: menghadiri walimah pernikahan saudara kami, Kudang Boro Suminar. Mengapa ke Bandung? Ya karena memang resepsi pernikahannya di Bandung. Tepatnya di Jalan Asia-Afrika 114, Bandung. Lebih tepatnya di Gedung Keuangan Negara (GKN), Bandung. Di depan Hotel Grand Preanger persis.

Pukul 9.58 sampailah kami di Cihampelas. Menurut petunjuk si Gendut yang kutanya tadi malamnya, kami bisa naik angkot hijau jurusan Ledeng-Kalapa arah Kalapa untuk sampai di GKN. Naiklah kami dalam salah satu angkot hijau yang kami temui. Kejadian meng-uwâw-kan pertama: //Catatan: uwâw = kagum. Jadi meng-uwâw-kan = mengagumkan, mencengangkan. Kata “uwâw” diucapkan secara cepat di huruf “u”-nya kemudian diteruskan dengan melafalkan “wâ”-nya diucapkan secara halus sepanjang tiga ketukan dan akhirnya jatuh di huruf mati “w” dengan empuk. Ayo ucapkan bersama-sama: uwâw….//

“Ke Asia-Afrika, Pak?”

“Iya. Naik….”

Naiklah kami; dengan perasaan takjub akan kota Bandung. Uwâw…. Jalan-jalan raya yang tidak terlalu raya. Sempit. Merupakan jalan satu arah. Benar-benar meng-uwâw-kan. Tibalah kami di suatu jalan. Jalan Tamblong. Aku melihat gedung bertuliskan GRAND PREANGER.

“Loh, bukannya kata si Gendut GKN itu di depan Hotel Preanger?” kataku dalam hati.

“Eh, itu Hotel Preanger. Berarti GKN di situ, dong,” kataku pada kedua kawan sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan GRAND PREANGER.

“Oh, iya ya. Tapi kok…masak itu GKN sih?” jawab kawan A.

“Iya, masak GKN berterali tertutup gitu…” timpal kawan B.

“Mbak, tahu Jalan Asia-Afrika nggak?” tanya kawan B kepada seorang penumpang.

“Ini Asia-Afrika,” jawab si Teteh. //Mbak = Teteh//

“Mas, kalau GKN di sebelah mana?” tanya kawan A kepada si supir angkot.

“Itu, di depan,” jawab kang supir. //Kang = Mas//

Kami bertiga berdecak “Oh….” dengan memalukannya.

Turunlah kami dari angkot setelah melihat sebuah gedung bertuliskan “Gedung Keuangan Negara”. Oh, ternyata Jalan Tamblong itu memotong Jalan Asia-Afrika menjadi dua blok. Sementara GKN ada di tepi perpotongan Jalan Tamblong dan Jalan Asia-Afrika. Grand Preanger tepat di depannya, di tepi perpotongan kedua jalan itu juga.

Waktu baru menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Sementara acara resepsi dimulai pukul 11. Jadilah kami menunggu di depan masjid kompleks GKN tersebut. Pas hampir pukul 11, rombongan pengantin keluar dari masjid tersebut. Akad nikahnya memang dilaksanakan di masjid tersebut, pada pukul 8.30-nya. Dan sebelum resepsi dimulai rombongan berdiam di dalam masjid. Waktu kedua mempelai keluar //yang notabene mempelai laki-laki adalah teman kami// uwâw…! Gagah sekali teman kami itu. Di sampingnya itu siapa, ya? Kok berani-beraninya merangkul tangan teman kami? Oh, iya benar. Dia istri teman kami. Istri-baru-jadinya. Hoho. Kami hanya bisa melongo di belakang rombongan.

Rombongan menaiki mobil menuju ruang resepsi. Tak berselang lama kami pun mengikuti. Di depan ruang resepsi…kejadian meng-uwâw-kan kedua berlangsung. Mojang-mojang Bandung, saudara-saudara! Bertindak sebagai penerima tamu! Uwâw…! Cantik-cantik nian. Berjilbab hijau, berkebaya hijau. Wah, semua hijau. Hijau itu memang indah! //Mau dong dilamarin. Hwehe….//

BERSAMBUNG

//Hwehe. Lagi sibuk, saudara-saudara. Belum sempat melanjutkan. Nantilah kapan-kapan kulanjutkan kisah Farijs van Java gaat naar Parijs van Java ini. Dijamin seru, pokoknya jaminan mutu, lah. Hoho. Semangat!//

Tepat Pilih vs Salah Pilih

Teliti sebelum membeli.
Tak kenal maka ta’aruf.
Sedia payung sebelum hujan.

Kalimat-kalimat nasihat di atas mungkin tidak ada hubungannya dengan apa yang akan kuceritakan ini. Tapi mungkin kalau lebih dicermati ada sedikit hubungannya. //Ah, penulis plin-plan nih.//

Jadi begini //mengawali sebuah kisah//. Tadi malam aku kembali berbelanja di swalayan yang biasa. Kupikir tadi malam itu adalah malam yang tepat untukku berbelanja. Kemarin malamnya kan mendung disertai banyak petir //menggelegar membelah angkasa//. Sedangkan tadi malam itu meski tidak cerah namun masih terlihat banyak bintang //bertaburan menghiasi malam//. So, dengan pasti aku mengambil langkah //tegap majuuuu jalan!// ke TKP alias Tujuan Kaki Pegal.

Seperti biasa, jalanan di depan swalayan ramai, banyak kendaraan berlalu lalang. Ada bajaj, mikrolet, ojek motor, ojek sepeda, dan konco-konconya. Banyak juga orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Ada pengemis, pengamen, pencopet, dan kroni-kroninya. Di emperan jalan terdapat beragam tenda //bukan tenda-tenda pengungsian!// tempat menjajakan beragam makanan dari seluruh Indonesia //bahkan ada juga yang dari mancanegara//. Mulai combro dan misro bandung, martabak bangka, bakso malang, sate padang, tahu sumedang, rawon surabaya, pecel madiun, ayam bakar lamongan, soto ayam surabaya, sate madura, sea food medan, roti unyil bogor, pempek palembang, ikan bakar banyuwangi, gudeg jogja, opor ayam solo, kebab turki, burger amerika, sampai pizza italia. //Sayang tidak ada megono pekalongannya.// Tapi bukan keramaian ini yang ingin kuceritakan. //Yeee, dah ngiler nih…. Dasar emang penulisnya plin-plan!//

Setelah menyeberang jalan //dan hampir menabrak mobil// sampai jualah aku di swalayan yang dimaksud. Baru di pintu masuk, aku segera menyadari kesalahanku. Ternyata aku salah pilih! “Harusnya kemarin-kemarin aku ke sininya,” batinku. Aku lupa kalau ini tanggal muda, tanggal dimana bisa dihitung hanya dengan menggunakan jari-jari tangan kiri. //Tapi sepertinya pakai jari-jari tangan kanan juga bisa, deh. Entahlah, belum pernah kubuktikan.// Tanggal-tanggal segini tentu saja banyak orang berbelanja. Baru saja gajian, gitu loh! Memangnya aku, si pekerja rodi, yang uang jatah bulanannya yang tak seberapa itu belum cair-cair juga. Nggak ngaruh mo tanggal muda kek, mo tanggal tua kek. Tetap saja harus selalu mengencangkan ikat pinggang //biar celananya ga melorot maksudnya//.

Yah, sepertinya orang Indonesia harus belajar mengenai bagaimana mengelola penghasilan. Menurut salah seorang pakar keuangan, //lupa aku namanya// yang pertama harus disisihkan dari penghasilan kita adalah zakat. Segera setelah kita menerima gaji, keluarkanlah zakat, sedekah, dan segala hak-hak fakir-miskin yang masih dititipkan di harta kita. Tunaikan segera perintah Allâh. Kemudian sisihkan untuk membayar utang bila kita punya utang. //Yang punya tagihan kartu kredit maupun tagihan tukang kredit, harap dicatat tuh.// Setelah itu, sisihkan sebagian sisanya untuk ditabung. Boleh ditabung di bank //dalam bentuk tabungan, deposito, dsb//, aset investasi //semisal emas, saham, reksa dana, SBSN//, ataupun disimpan secara mandiri di rumah //dalam celengan semar, celengan bambu, ataupun di bawah bantal//. Baru kemudian sisa gaji setelah dikurangi tiga macam pos tadi kita gunakan semua untuk berbelanja barang-barang konsumsi. Jangan sampai ada sisa nantinya. Habiskan semua untuk belanja. Karena kalau nanti ada sisa, dikhawatirkan digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan pula ada pikiran “toh nantinya bisa ditabung”. Jangan. Kalau misalnya sering ada sisa, berarti bulan depan pos tabungan (saving) harus ditambah. //Sudah kek Safir Senduk aja, nih.//

Kita lanjutkan ke pembahasan semula. Setelah mendapatkan keranjang belanjaan, //Waktu aku masuk keranjang yang biasanya ditumpuk di sebelah pintu sudah habis. Untung ada mas-mas yang merelakan keranjangnya untuk kupakai.// segera aku mulai memburu baran-barang yang terdaftar dalam shopping list. Tak banyak yang ingin kubeli. Tetapi untuk mendapatkan satu per satu barang, harus terlebih dahulu kena sikut orang, ditabrak troli, didorong kiri-senggol kanan dulu. ABCDE! //Aduh Bo’, Cebel Deh Eike….//

Ketika sampai di stand bagian deterjen, aku terhenti. Wow! Di depanku ada sesosok makhluk //Tuhan paling seksi//. “Yah, ketemu kakak cantik di marih. Ternyata kagak salah pilih dah, aku belanja malam ini,” ocehku dalam hati. Jadi begini, saudara-saudara. Aku waktu itu bertemu dengan kakak-kakak cantik yang sering kujumpai ketika kupulang dari masjid sehabis Isya atau di warteg, atau kadang pagi-pagi ketika akan berangkat ke kantor. Sepertinya kakak ini tinggal di dekat kosku. Cantik sih memang. Usianya kalau kutaksir sekitar 25-26 tahunan, lah. Ya, boleh dikatakan aku ini memang penggemar gadis-gadis yang lebih tua. Meski aku juga suka anak-anak kecil, tapi perempuan yang kuanggap cantik itu ya yang seumuran lima tahunan di atasku saat ini. Salah satunya ya kakak cantik ini. //Jadi penulis ini pedofil atau gimana? Yang jelas, dong. Emang dasar plin-plan, nih.//

Entah kenapa, dari dulu aku lebih suka dengan perempuan yang lebih tua. Teman seangkatan atau bahkan adik kelasku pun kubilang ketuaan untuk menjadi istriku. Kukatakan itu kepada teman-teman yang sering menjodoh-jodohkanku. Kutambahkan, kalau aku ingin istriku nanti lebih muda 4-5 tahun dariku. Yah, lagi-lagi masalah menikah. Forget ’bout marriage.

Kakak cantik sih waktu itu tidak melihatku. Jadi jangan dibayangkan kalau kami itu sempat berbincang-bincang, temu-kangen, cipika-cipiki, dsb. Kenal aja belum. Makanya, kalau tak kenal ta’aruf dong. //Tuh kan bener yang kubilang di awal tadi.// Ini kakak cantik, kemana pun aku pergi, pasti muncu. Di stand sabun, ada kakak cantik. Di stand tisu, eh ada kakak cantik juga. Sepertinya kakak ini membuntutiku, deh. Atau mungkin aku yang membuntutinya? Aku jadi bingung, saudara-saudara! Sepertinya susah dibedakan. //Yah, penulis lagi-lagi plin-plan….//

Aku coba menghindar dari kakak cantik itu. Aku segera menyelonong ke stand makanan ringan. Harus jaga-jaga soalnya, siapa tahu ada paparazi atau wartawan infotainment yang sedang membidikku. //Halah, dasar obsesi selebritis!// Lega, untung kakak cantik tidak mengikutiku. //Ini lagi, sok kegantengan.//

Setelah semua barang dalam shopping list ada dalam keranjang, aku segera menuju kasir. Busyet, dah! Semua kasih penuh antrean orang yang mau bayar. Segera saja kuanalisis kira-kira antrean mana yang lebih cepat habis. Tips berikut ini barangkali berguna bagi saudara-saudara dalam memilih antrean yang menguntungkan. Pertama, jangan pilih antrean yang terdapat troli berisi penuh barang di dalamnya. Jangan, karena nanti ia akan lama diinterogasi di kasir. Kemudian hindari juga antrean yang ada satu keluarga berkumpul di situ. Meski tidak memakai troli, biasanya masing-masing dari ayah, ibu, dan anak membawa keranjang belanjaan sendiri-sendiri. Terus hindari pula antrean yang ada pasangan muda-mudinya. Mereka seringkali tak tahu diri dengan berpacarang mesra-mesraan di muka umum. Kalau di permainan monopoli, mereka sudah pasti kena denda sebesar Rp100.000 dan harus membayarnya kepada semua pemain.

Alhamdulillâh, kutemukan satu antrean yang prospek ke depannya lumayan lancar. Bismillâh, aku melangkah masuk ke dalam antrean. Tentunya masuk di bagian antrean paling belakang. Sebagai pemuda bangsa ini, kita harus membudayakan tertib mengantre. Jangan seperti orang-orang yang akan naik bus transjakarta itu yang suka memotong antrean ataupun tidak berbaris rapi dalam mengantre. Kalah dengan semut-semut kecil yang tinggal di dalam tanah bersama papa-mamanya, pokoknya. Apalagi sama semut-semut merah yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya sedang apa di sini, kalah telak dah.

Tak berapa lama ternyata pilihanku terbukti salah, saudara-saudara. Salah strategi! Rupanya bapak-bapak di depanku hanyalah joki. Ada ibu-ibu yang muncul dari koridor stand kemudian mendekati bapak itu terus menaruh barang-barang belanjaan ke dalam keranjang yang dipegang si bapak. Ternyata tak hanya ujian SPMB dan jalur three-in-one yang ada jokinya. Mengantre pun ada jokinya! Belakangan kuketahui kalau mereka adalah sepasang suami-istri. Yah, curang!

Tapi kemudian penghakiman salah pilih itu perlu diajukan PK alias Peninjauan Kembali. Karena tak berapa lama juga, tiba-tiba si kakak cantik ada di belakangku. Sewaktu kutengok, kakak cantik mengembangkan senyum manis merekahnya. Mak nyot! Jantungku berdetak makin kencang. Darahku mengalir dengan derasnya ke seluruh bagian tubuh. Dan hal ini membawa akibat negatif di organ tubuh bagian bawahku. HIV-ku kambuh! Entah mengapa HIV-ku kambuh di saat sedang berdiri mengantre lama, di depan kakak cantik pula! Tapi itu wajar saja sepertinya. Karena memang sedari keluar dari kos kemudian makan di warteg terus keluar dari masjid dan sampai saat itu aku belum lagi membuang water of art-ku.

Mengantre dengan menahan HIV ternyata sakit juga. Yah, lega juga sewaktu di depan kasir dengan si kakak cantik masih di dekatku tentunya. Segera kubayar, langsung bergegas keluar. Pulang ke kos dengan berlari. Karena apa, saudara-saudara? Karena aku gerimis mengundang, saudara-saudara! Sewaktu aku keluar, langit tiba-tiba menangis. Tak bawa payung pula. Basah-basahan deh.

Yah, jadi bingung lagi. Malam itu sebenarnya aku tepat pilih atau salah pilih untuk berbelanja, sih? Benar juga apa kata komentator. Memang plin-plan diriku ini.

Sekian dan terima kasih.

Antara Angka, Gembira, Tawa, dan … Menikah?

Kejadiannya berlangsung kemarin sore, dalam perjalanan pulang kantor. Setelah turun dari angkot, seperti biasa aku menyusuri sebuah gang di kompleks dekat kosan. Berjalan perlahan, dengan mimik wajah penuh bahagia, mulut senyum-senyum sendiri, tertawa-tertawa kecil. Tepat di depanku ada dua anak kecil kira-kira seumuran 8-9 tahun, berboncengan naik sepeda ke arahku. Mereka nyeletuk:

“Seneng banget, Mas, hari ini….”

Kujawab dengan ringan:

“Iya, dong.”

Eh, setelah mereka berlalu melewatiku, mereka nyeletuk lagi sambil ketawa:

“Mo nikah, ya Mas?”

Dalam batinku:

“Hah? Nikah? Kok mereka bisa….”

Kujawab saja dengan ringan, sambil lalu:

“Iya….”

Wow, amazing! Sampai-sampainya diledek anak kecil. Mau nikah? Hah? Aku masih ternganga, sampai sekarang. //Ep, mingkem dulu.// Nggak habis pikir, kok mereka bisa berkata seperti itu, gitu loh. Sebahagia itukah aku sore itu kelihatannya? Ah, jadi ingin melihat potretku kala itu. //Sayang nggak ada paparazi di deket-deket situ.//

Iya, sore itu aku bahagia. Ya…lumayan bahagia, lah. Meski mungkin tidak sebahagia ketika akan menikah. //Sotoy, lu! Nikah aja belon….// Berawal sore itu juga sewaktu masih di kantor. Sewaktu jam kantor sudah hampir habis-waktu, meski kontras dengan beberapa orang yang masih mondar-mandir dengan map berisi naskah-naskah dinas yang harus segera diproses. Sewaktu si nona manis penghuni kotak hitam nan mungil yang tertempel di tembok dekat tangga sudah mulai bersiap-siap sibuk melayani, “Masukkan jari Anda.” Kala itu, seorang mbak-mbak yang meski terpisah jarak yang cukup jauh dariku namun masih terhubung lewat koneksi internet gateway-nya Depkeu memberitahuku sederetan angka yang bisa membuatku berucap lega, “Akhirnya….” //Makasi, mbak. Jasamu tiada tara. Halah.//

Belum cukup itu saja. Ketika sedang di angkot, ada seorang kawan meneleponku, katanya:

“Harusnya kau yang duduk di sana….”

Cuma berujar sesingkat itu, kemudian ditutupnya; sengaja. Alhamdulillâh…. Tak perlulah tahu urusan apa itu. Yang jelas, ini juga menyangkut angka. Angka; tapi yang ini bukan sederetan angka. Cuma angka tunggal. Kemarin memang benar-benar bahagia. Dalam perjalanan menuju kos setelah bertemu dua anak kecil itu pun aku masih tertawa-tawa sendiri. Senyum-senyum seperti orang gila.

Di depan gerbang kos, ada sosok makhluk yang sedang nongkrong. Makhluk kamar sebelah.

“Lagi happy nih keknya….”

Aku cuma bisa tersenyum. Segera kumasuk ke kamar. Ketika kusendirian itu, masih saja tersenyum, ketawa sendiri. Kali ini aman, tak perlu khawatir disangka orang gila. Tapi, eh tunggu dulu. Menikah? Mengapa anak kecil itu bisa-bisanya nyeletuk seperti itu? Ah, ga tau, lah. Forget ’bout marriage.

(^_^)v

Nikah yuk Nikah…

Bulan depan tercatat sudah dua temanku akan segera melengkapi setengah agamanya. Fuhh! Kapan saya?

(^_^)v

“Barakallâhu laka wabaraka ‘alayka wajama’a baynakumâ fî khayr.”

Hanya itulah yang sanggup kuberikan. Sebuah doa. Semoga engkau dibarakahi oleh Allâh dan semoga barakah-Nya selalu menyertaimu. Semoga kalian berdua dikumpulkan dalam kebaikan. Amin.

Tanggal 7 Maret ini, Dedy InsyaAllâh melangsungkan akad. InsyaAllâh saya datang di pestanya, ba’da Jumatan.

Tanggal 19 Maret, InsyaAllâh mBak Rina melangsungkan akad. Acara resepsinya, 22 Maret, tak tahu apakah saya akan hadir atau tidak. Rencananya tanggal 20 itu saya mudik ke Pekalongan. Bulan ini batal pulang gara-gara cuti bersama dibatalkan, jadi berat rasanya membatalkan jadwal pulang Maret nanti itu.

Yah, semoga kalian berdua berbahagia bersama pasangannya masing-masing. Doakan semoga saya segera menyusul….

(^_^)v