Terngiang Lagu Nostalgila

Entah istilah “terngiang” tepat ataukah tidak. Walaupun demikian akan aku kabarkan saja.

Saudara, apakah kalian pernah tiba-tiba teringat dan seakan-akan ada suara \suara apa saja, baik berpola maupun tidak\ tebersit entah dari mana untuk kemudian masuk ke dalam benak? Aku sering begitu, Saudara.

Percaya atau tidak, postingan Sarapan Pagi kemarin adalah ketika aku pada saat mandi paginya tiba-tiba terngiang akan lagu tema Chibi Maruko-chan. Maka postingan hari ini adalah karena aku tiba-tiba terngiang akan lagu tema entah serial silat apa. Lagunya kira-kira begini:

Sebatas garis khatulistiwa ~♪
Semua terhampar di hadapan ~♫
Ingin kudekap di saat berjumpa ~♪
Cinta suciku takkan mati ~♫

Kalian tahu lagu apakah itu?

Nostalgila

Apa yang diputar oleh kawanku itu betul-betul membuatku merasa nostalgila!

Tengah malam begini, tak bisa aku tertidur. Barangkali karena yang kusantap pada makan malam tadi adalah sate kambing. “Rakuen” yang dibawakan oleh Do As Infinity adalah lagu yang diputar tersebut, Saudara. Bergegas kunyalakan komputerku. Aku cari-cari itu lagu. Kuputar pula.

Haha! Masa kuliah dulu itu menyenangkan juga, ingatku. Bertemu dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Do As Infinity, misalnya. Dikenalkan oleh kawanku yang tadi kusebut itu. Langsung aku menjadi ikut menggemari itu grup band. Kemudian anime Inuyasha. Kemudian anime Kyou Kara Maou. Kemudian istilah ‘yaoi’. Haha! Lucu pula setelah kuingat-ingat betapa penasarannya aku tatkala mendengar istilah itu untuk pertama kali. Kan kalian tahu istilah itu?


Kokoro no oku ni aru kimochi
Trutaenakucha ne
Would you marry me, honey
Omedetou ima
Yatto deaeta mahou no kotoba

“Do As Infinity – Mahou no Kotoba”

Itulah lagu yang tadi kuputar setelah kutonton film pendeknya Doraemon yang mengisahkan Nobita dan Doraemon pergi menengok ke masa depan di malam sebelum Nobita dan Shuzuka melangsungkan pernikahan. Sebuah lagu yang cocok sebagai penghujung malam. Selamat tidur!

Meja Manis Meja

Tak lain tak bukan adalah meja belajar di dalam kamar yang menyimpan banyak kenangan. Di pintu lemarinya tertempel stiker-stiker dari sekolahan. Ada saat masa orientasi, ada pula saat perpisahan. Juga hasil guntingan logo-logo jajanan bocah yang tenar di masanya yang kutempelkan dengan selotip ganda. Ada pula gambar karakter Kuririn yang sudah berambut gondrong dari seri Dragon Ball yang kugambar sendiri dengan mencontek dari kartu mainan. Juga gambar beruang madu the Pooh yang kucontek dari buku hadiah dari kawan SMP yang perempuan. Ada pula kutempel “daleman” disket yang berwarna hitam. Metal di tengahnya sekarang sudah karatan.

Ah, aku ingat belajar di meja ini. Aku ingat membaca buku-buku aneh di meja ini. Di saat aku jenuh, aku sering menatap gambar lukisan di sebuah kartu yang kutempel di samping lemarinya. Lukisan itu berjudul “Bunga Dekoratif” hasil karya seorang pasien Rumah Sakit Jiwa Grogol, Jakarta. Entah mengapa lukisan ini memberi kesan damai dan bahagia.

Atau aku akan menatap gambar Sylvester, si kucing musuh bebuyutannya Tweety, yang kugambar dengan menconteknya dari sebuah kartu. Gambar ini kutempel di pintu lemari meja belajar bagian dalam. Pintu ini harus selalu terbuka sedemikian rupa sehingga melingkupiku untuk tetap fokus. Kan kalian tahu maksudku?

Di bawahnya si Sylvester ini ada pula MashiMaro menghiasi jadwal pelajaran yang kubuat sendiri menggunakan komputer. Ah, aku jadi teringat dahulu segala yang aku cetak hampir semuanya ada karakter MashiMaronya.

Sekarang aku duduk di kursi menghadap meja belajar ini. Pijakan kakinya sudah patah, papannya sudah sedikit melengkung. Aku merasa nyaman sekali tetapi. Meski dahulu kamarku bukan begini.


Farijsvanjava,
Pekalongan, 01 Mei 2012, bernostalgila dengan meja belajarnya

Nikmati Awal Malam dengan Nostalgila

Kunikmati awal Sabtu malam ini dengan lantunan nada-nada sumbang gitar, vokal, dan drum oleh sekelompok pengamen jalanan yang membawakan Kisah-nya Boomerang. Maka malam ini dunia khayalku penuh dengan tokoh-tokoh nostalgia semacam Tuksedo Bertopeng, Kotaro Minami, Billy Rangers Biru, dan Doel Sumbang.

Dalam bus yang melaju perlahan–kukira karena kemacetan namun setelah kutengok ternyata karena mencari penumpang–anganku berlari menuju masa belasan tahun silam, saat anak-anak mengidolakan Trio Kwek-kwek dan Ksatria Baja Hitam.

Ku bernyanyi
Ku bernyanyi lagu tentang cerita asmara kita
Tiada pernah
Dan tiada pernah dapat kulupa
Tersimpan s’lalu dalam jiwa

Boomerang – Kisah

Rasanya betapa indah masa remajaku dulu. Musik selalu menginspirasi. Lagu-lagu puitis bak wabah yang menjangkiti para muda belia untuk berpuisi dan menyatakan cinta. Lanjutkan membaca “Nikmati Awal Malam dengan Nostalgila”

Mungkinkah Juwita Malam di Bawah Pohon Kamboja?

Menanti di bawah pohon kamboja
Datangmu, kekasih yang kucinta

Janganlah sekalipun melalaikan
Janjimu yang telah kauucapkan

Bila kasih tak ingat padaku
Lihatlah sekuntum kamboja
Di sana kita kelak berjumpa

Menanti di bawah pohon kamboja
Datangmu, kekasih yang kucinta

***

Bila kasih tak ingat padaku
Lihatlah sekuntum kamboja
Di sana kita kelak berjumpa

Menanti di bawah pohon kamboja
Datangmu, kekasih yang kucinta

Menanti Di Bawah Pohon Kamboja
Rien Djamain

Selamat malam, Saudara pendengar dimanapun Anda berada. Jumpa lagi dengan penyiar kesayangan Anda, Farijs Manijs.

Masih di gelombang 30.30.58 FM, kami masih setia mengudara menemani Saudara para pendengar yang berbahagia melewati malam nan syahdu ini. Tentunya masih di acara kesayangan kita semua, BANG BANG TUR, Tembang-Tembang Pengantar Tidur.

Sebuah nomor manis dari salah satu legenda musik jazz kita, Rien Djamain, sebuah tembang kenangan dengan tajuk “Menanti di Bawah Pohon Kamboja” telah bersama-sama kita simak di awal perjumpaan kita kali ini.

Saudara pendengar dimanapun Anda berada, tentunya masih ingat dengan lagu tadi, bukan? Sebuah lagu yang dapat mengingatkan kita semua akan masa-masa nostalgia ketika kita masih muda dahulu. Masa-masa di saat kita masih belia, masa-masa kita masih berpacaran dengan cinta pertama kita, tentu saja dengan sembunyi-sembunyi agar orangtua kita tidak mengetahui. Masa itu adalah masa di saat kita dengan setia menanti kedatangannya di bawah sebuah pohon kamboja.

Yah, masa-masa itu, Saudara pendengar yang berbahagia, masih jamak kita berpacaran di pekuburan. Saling berjanji untuk bertemu dan mengadu kasih kita di situ. Pada waktu listrik belum banyak masuk ke desa-desa, kita dengan nyamannya bermalu-malu kucing dengan si doi di hadapan batu-batu nisan. Tidak takut rasanya akan diganggu lelembut ataupun hantu ataupun pocong penghuni kuburan, yang sering sekarang ini tinggal di bioskop tidak lagi di kuburan, karena pada masa itu kita jauh lebih takut kepada orangtua si doi bilamana ketahuan memacari anaknya.

Betapa indahnya masa-masa itu…. Nah, Saudara pendengar sekalian, bilamana Anda ingin berbagi cerita tentang indahnya masa-masa berpacaran di bawah pohon kamboja, silakan, tidak perlu ragu ataupun malu untuk mengirimkan komentar di kotak yang sudah disediakan. Kami juga menerima bilamana Anda juga ingin berbagi makanan ataupun sekadar minuman wedang jahe penghangat suasana.

Agar lebih membawa Anda kepada suasana masa-masa indah berpacaran di bawah kuburan dahulu itu, baiklah kami putarkan sebuah tembang lawas dari Frankie Valli berikut ini. Selamat mendengarkan. Lanjutkan membaca “Mungkinkah Juwita Malam di Bawah Pohon Kamboja?”