Aroma dan Musik Semangat

Ahad siang yang cerah. Baru saja kuselesaikan santap pagi bersamaan dengan santap siang. Kondisi tubuh? Cukup berkeringat hingga dapat kukatakan aku sedang menuju kesembuhan.

Sejak kutatap purnama di sebelah gedung yang tinggi Jumat kemarin aku merasa tidak enak badan. Tubuh mendemam. Kerongkongan terasa perih. Hidung berair, pilek. Kepala migrain sebelah kanan. Ditambah sembelit!

Aroma tubuhku sudah menuju ke arah harum daripada bau. Untuk itulah aku yakin bahwa aku akan segera sehat.

Berbicara tentang aroma, sekarang aku sedang menyelesaikan membaca novel “Perfume: The Story of a Murderer” karangan Patrick Süskind. Bercerita tentang seorang jenius dalam bidang aroma bernama Jean-Baptiste Grenouille yang hidup dalam abad kedelapan belas di Prancis. Dikisahkan bahwa sejak lahir ia dianugerahi indera penciuman yang sangat tajam serta otak cemerlang yang dapat menyimpan serta memilah-milah beribu-ribu macam aroma.

Dikisahkan dengan gaya bahasa seperti dalam buku-buku dongeng, Grenouille sejak kecil hidup dalam lingkungan yang penuh dengan daya penolakan akan keberadaan dirinya. Ia pun bertekad untuk keluar dari kehidupan yang penuh penderitaan dan berhasrat untuk menglasifikasikan segala aroma yang ada di dunia. Ia lantas bercita-cita menciptakan sebuah parfum yang sempurna, dengan bantuan seorang ahli parfum di kota Paris yang nyaris bangkrut.

Oke. Sekarang mari kita bahas topik Post a Day hari ini saja:

When you’re feeling down, what music cheers you up?

Bonus: why do you think this music has that effect? What music do you prefer when you’re very happy?

Musik yang membuatku semangat? Musik-musik yang rancak dengan suara perkusi yang menghentak-hentak, barangkali. Membuat jantung semakin berdebar, memacu adrenalin, hingga bisa membangkitkan perasaan seperti sedang lari pagi dalam suasana sejuk dan teduh.

Ada juga lagunya Tasya feat. Duta dan Erros So7 yang berjudul “Jangan Takut Gelap”. Lagu dan musiknya sungguh menenangkan. Aku bisa merasakan atmosfer kehangatan dan ketenteraman. Membuat hati menjadi nyaman.

Sekian. Harus segera beranjak ke toilet. Semoga lancar keluar!

===

UPDATE:
Ternyata Perfume: The Story of a Murderer telah difilmkan tahun 2006 lalu! Wah, ketinggalan saya….

Hampa

Sekarang, terbukalah rahasia dari penyakit itu. Dia bukan kebingungan, bukan kegilaan, bukan keputusan harapan, bukan apa-apa, bukan…! Penyakit ini telah terang namanya. Penyakit, tetapi nikmat; nikmat tetapi penyakit. Orang ditimpanya, tetapi orang itu tidak hendak sembuh darinya … penyakit cinta!

(HAMKA – Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk)

Sepertinya penggalan novel Buya Hamka itu bukan jawaban atas kehampaan yang kurasakan saat ini. Bukan, Saudara-saudara. Aku tidak sedang terkena penyakit cinta!

3 Pendekar, Bondan Winarno, Iron Man, dan Pelacur! (updated)

Ya, tiga pendekar-pendekir kembali berpetualang….

Tiga pendekar-pendekir kembali turun gunung menuju kota. Kali ini mereka berangkat secara terpisah-pisah. Kemudian mereka berkumpul di sebuah toko buku silat di sebuah pusat perbelanjaan di kota. Betapa katrok-nya mereka, sampai-sampai dibukalah oleh mereka sampul plastik salah satu majalah yang dipajang di situ. Untung tak ada orang yang melihat. Waduhaduh™….

Hehe…. Kemarin aku baru membeli buku lagi. //Padahal buku yang waktu itu terbeli belum penuh terbaca. TT// Pengarangnya adalah si pemandu acara “Wisata Kuliner” itu. Ya, siapa lagi kalau bukan si Mak Nyuss yang endang bambang gulinem itu, Bondan Winarno. Jangan salah, ini bukan buku tentang kuliner. Judul bukunya “RUMAH IKLAN: Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri”. Ya, buku ini tentang dunia periklanan, reklame, kehumasan, advertensi.

Buku yang lumayan bagus menurutku, karena menguraikan sejarah. Sejarah periklanan dan perhumasan di Indonesia. Makin cintalah aku kepada Ibu Pertiwi. Baru kubaca sampai di tengah Bab I, sih. Tapi greget bagusnya sudah terasa. Sejarah…sejarah, saudara-saudara. Ada sejarah tentang Indonesianya pula. Wuih, mantap dah. Mak nyuss! Isi selanjutnya sih agaknya mengenai sebuah perusahaan periklanan, Matari Advertising. Yah, ini buku memang sudah diproyekkan sedari lama oleh sang pendiri perusahaan tersebut yang kini sudah almarhum, Ken Soedarto, bersama Bondan Winarno.

Dari segi fisik buku tersebut agak kurang bagus menurutku. Sampul bukunya sih bagus. Bagus banget. Kertas isinya itu, lho. Putih, terang banget jadinya. Tapi lumayan, di dalamnya ada kertas majalah berisi foto-foto dan beberapa contoh iklan. Ada iklan dari jaman baheula juga, lho. Contohnya:

Waktoe malem dengen pikiran legah nona Jan-tji pentil mandolin di damping kekasinja sembari menjanji:
Jadoe-jadoe! kekasihkoe jang lanang!
Sagelas anggoer hatikoe merasa senang!
Anggoer Tjap Toean adalah paling menang!
Jang bikin tjinta padamoe djadi terkenang!

Terus ada lagi yang ini:

Soesoe “Tjap Nonna” makanan anak-anak jang terbaik diseloeroeh doenia. Toean poenja anak jang masih baji ataupoen jang telah dapat moelai berdjalan, sampai oemoer lima taoenan, berilah minoeman Soesoe “Tjap Nonna”.
Sebab: ada doea kekoeatan dari itoe Soesoe “Tjap Nonna”, jaitoe:
1. Anak toean tinggal gemoek dan sehat.
2. Anak toean tidak moedah kena penjakit.
Inilah kekoeatan Soesoe “Tjap Nonna” itoe tadi.

Font yang dipakai untuk bodytext inti juga terlalu umum. Tak terlalu suka aku. Mengingatkan akan buku-buku teks ekonomi yang membosankan itu. Secara keseluruhan buku ini bagus, lah. Sangat menambah wawasan. Apalagi di dalamnya sarat akan sejarah. Ya, sejarah kusuka!

Ketiga pendekar-kir tak berhenti berpetualang di situ. Dari Arion Mall, mereka segera meluncur pergi ke MKG dengan menunggangi kendaraan bernama “angkot”. Di situ mereka terheran-heran akan keramaian di pusat perbelanjaan tersebut. Apalagi di situ terdapat banyak barang yang baru pertama kali mereka lihat. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah bagian mall tersebut yang sering disebut “bioskop” oleh orang-orang.

Hehe lagi…. Kemarin kami nonton film yang superduper bagus banget: Iron Man! Sebuah film yang diadaptasi dari karya legendaris Marvel, Pahlawan Super Iron Man.

Iron Man

Lanjutkan membaca “3 Pendekar, Bondan Winarno, Iron Man, dan Pelacur! (updated)”

Fenomena Film Ayat Ayat Cinta

Heboh film Ayat Ayat Cinta! Seantero Indonesia memperbincangkannya. Tak terkecuali di dunia maya. Telah banyak kubaca tulisan-tulisan mengenai ulasan film tersebut. Kebanyakan mengritik dan kecewa kepada film yang diangkat dari novel Ayat Ayat Cinta karya Kang Abik ini. Mulai dari cerita yang tidak sesuai dengan novelnya, lah. Tokoh yang kurang, lah. Watak karakter yang kurang, lah. Sampai kepada pesan dakwah yang ada dalam novelnya tidak tersampaikan dalam film ini. Penasaran juga aku jadinya untuk menonton film ini.

Akhirnya kesempatan menonton film Ayat Ayat Cinta datang juga kemarin. Kami, sebanyak 20 orang, kemarin siang berangkat dari kantor //bolos sebentar// ke Atrium Mal. Tujuannya tak lain tak bukan untuk menonton film tersebut. Di kantor memang fenomena film ini sudah menyebar. Banyak yang membicarakannya. Kebanyakan sih memuji. Kami pun menonton, meski datang terlambat sekitar lima menit setelah film diputar.

Poster Film Ayat Ayat Cinta

Aku memang datang ke bioskop dengan hati yang penuh kecewa terhadap film ini. Kekecewaan itu timbul setelah membaca banyak tulisan mengenai ulasan mengritik film ini. Namun karena penasaran, aku menjadi ingin menontonnya. Semoga tidak bertambah kecewa.

Beberapa menit kutonton, gelitik di hati pun muncul. Mengapa sering memperlihatkan tasbih? Aisha memegang tasbih, orang di metro memegang tasbih, ayah Fahri memegang tasbih, dll. Kebanyakan orang awam memang sering menjadikan tasbih sebagai simbol kealiman. Seseorang yang memegang tasbih dianggap alim dalam ilmu agama, dan dekat dengan Tuhannya. Padahal setahuku, Rasulullâh SAW tidak pernah berdzikir menggunakan biji-biji tasbih. Tidak ada tuntunan dalam Islam tentang tasbih. Bahkan ada segelintir orang yang mengatakan bahwa tasbih itu bid’ah.

Film Ayat Ayat Cinta memang berbeda dengan novelnya. Ceritanya banyak yang ditambah. Semisal Fahri yang memimpin rapat organisasi di awal film, serta kehidupan poligaminya Fahri yang di dalam novel tidak sempat dilalui karena keburu Maria ke “surga”. Memang, sebagaimana halnya Harry Potter dan The Da Vinci Code, film dan novel boleh beda. Film dan novel merupakan dua produk yang berbeda. Sah-sah saja kalau ceritanya dibuat agak berbeda. Namun aku kecewa, karena banyak pesan-pesan dakwah yang ada pada novel tidak tersampaikan di film tersebut. Pesan dakwah yang terselipkan lewat karakter-karakter para tokohnya, banyak yang berkurang.

Karakter Aisha yang di dalam novel yang sangat shalihah, di film ia terlalu “nakal” menurutku. Lancang sekali ketika ia membuang komputer Fahri, suaminya, tanpa izin. Kemudian ia hendak kabur dari rumah, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya.

Kekecewaan lain tentang setting dalam film tersebut. Proses syuting memang tidak dilakukan di Mesir melainkan di India dan Indonesia. Namun untuk mencitrakan bahwa itu seolah-olah terjadi di Mesir, menurutku kurang //meski aku belum pernah ke Mesir//. Adegan ketika Fahri akan pergi talaqi, debu-debu yang beterbangan kulihat tidak natural.

Ada lagi sewaktu adegan di rumah Paman Eqbal. Mikrofon yang dipakai untuk mengambil suara para pemain terlihat dalam film. Menurutku itu sangat besar pengaruhnya dalam menilai profesionalisme pembuatan film tersebut. Film layar lebar, ini. Kok bisa-bisanya Mas Hanung mengambil scene ini?

Terus ada lagi, tentang pemunculan produk makanan dan minuman sponsor. Aneh saja kupikir, ada minuman tersebut di Mesir. //Meski aku tak tahu produk tersebut diekspor ke Mesir atau tidak.//

Setelah keluar dari bioskop, banyak yang masih memperbincangkan film ini. Film yang bagus, kata mereka. Malah beberapa mengaku menangis sewaktu adegan-adegan sedihnya. Yah, film ini memang tentang kisah percintaan dan drama agaknya. Lumayan lah, daripada film ber-genre horor yang masih marak belakangan ini.

Yah, tulisan ini sebatas pendapat pribadiku. Semoga pendapatku dihargai sebagaimana aku menghargai orang-orang yang memuji film ini. Yang telah membaca novelnya sekaligus menghayati makna yang terkandung di dalamnya, sepertinya memang bakal kecewa dengan film ini. Setidaknya itu menurut penilaianku. Hehe. Peace!

(^_^)v

[UPDATE]

Setidaknya dari film ini orang-orang kebanyakan tahu bahwa Islam tidak mengenal sistem pacaran. ^^