Memanggil Mas-Mas

Untung aku orang Jawa. Mengapa?

Ternyata ada, loh, beberapa orang di sekitarku yang merasa tidak suka atau sekadar segan atau justru tersinggung ketika dipanggil dengan sebutan “mas”. Antara lain beberapa putra Sunda yang memberi saran untuk memanggilnya dengan sebutan “aa'” saja. Juga beberapa putra Melayu Medan yang menginginkan dia dipanggil dengan sebutan “abang”. Juga di antaranya berupa mbak-mbak yang tidak suka disamakan dengan Omaswati.

Maka begitulah kiranya aku paham mengapa bapak-bapak tentara di kantor memanggilku dengan sebutan “om”. Tak lain tak bukan tentunya karena bapak-bapak ini tidak atau belum mengetahui dari mana asalku sehingga demi keamanan memanggilku dengan sebutan demikian. Kira-kira bisa kalian terima?

Jadi, Saudara, demi menyambut si Ramadan yang entah datang Jumat atau Sabtu nanti, tadi aku pergi ke aa’ tukang cukur rambut. Tentu saja tujuanku adalah untuk bersilaturahmi sekalian meminta dipangkas rambutku agar kepalaku terlihat lebih ganteng dari biasanya. Lanjutkan membaca “Memanggil Mas-Mas”

Merindukan Mas-Mas

“Jam berape, Om?”

Baru saja sopir angkot ini bertanya kepadaku.

“Ojek, Om?”

Seorang tukang ojek bertanya demikian kepadaku sekitar lima menit yang lalu tatkala menawariku tumpangan berbayar.

Entah sudah berapa kali aku dipanggil Om oleh orang-orang tak dikenal semacam itu. Sudah pernah pula kubahas dalam suatu postingan di blog semangat ini.

Tapi karena suasana sekarang ini lain, karena sudah mulai musim penghujan. Juga seiring dengan menyesaknya aroma bau kambing menusuk hidung. Maka aku tiada suka dipanggil Om semacam itu oleh orang tak dikenal sebagaimana contoh di atas.

Berbicara mengenai aroma bau kambing, kira-kira kambing-kambing yang sekarang jamak kita saksikan sedang memakan trotoar itu asalnya dari mana, ya? Kalau tidak menjelang lebaran haji seperti sekarang ini, tak ada seekor pun kambing berkeliaran di jalan semacam itu, bukan? \Kecuali mungkin Kampus Ali Wardhana tempo doeloe.\