We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Tinta,
Tumpah ruah di meja
Meja kosong tanpa kertas
Yang ada hanya gelas

Kopi,
Tumpah ruah di kepala
Kepala kosong tanpa utas
Yang ada hanya getas

Menulis. Sudah lama tidak menulis. Maksudku … menuliskan isi kepala menggunakan bahasa manusia. Sudah hampir setahun ini belajar menuliskan isi kepala menggunakan bahasa perantara untuk memerintah mesin. Sebab itu, untuk berbahasa manusia kembali kemungkinan sedikit sulit.

Barangkali tidak akan seperti kemampuan naik sepeda, yang apabila kita sudah lama tidak melakukannya maka kemampuan itu tiba-tiba saja datang kembali ketika kita mencoba naik sepeda lagi; seolah-olah segala macam lecet di lutut dan robek di celana ketika belajar naik sepeda dulu … menjadi nyata kembali. Lanjutkan membaca “We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future”

Kawan Berjalan: A Self Reflection

Alangkah beruntungnya mereka yang menemukan kawan berjalan yang panjang langkahnya sama. Lebih beruntung lagi apabila langkah keduanya seirama.

Postingan yang kutulis pada 30 November 2014 di atas adalah yang paling berkesan karena barangkali bisa menjadi refleksi atas segala perasaan hati dan pemikiranku selama setahun belakangan ini. Memanglah benar betapa susah mendapatkan kawan berjalan yang semacam itu. Dengan cara yang keras/ susah kusadari hal demikian; memang benar pula bahwa kita baru akan menyadari arti pentingnya keberadaan seseorang bagi kita setelah kita kehilangan dia.

Tadi malam aku menonton lagi film “Doraemon: Stand By Me” untuk kedua kalinya. Lalu kusadari kembali akan satu hal: bahwa barangkali aku seperti Nobita, yang baik sadar maupun tak sadar menyabotase diri sendiri karena beranggapan bahwa seseorang bisa jadi akan lebih baik dan bahagia ketika kita tidak bersamanya. Rasa-rasanya aku ingin menangis pada saat adegan itu, kawan, tetapi…

♪ Malu sama kucing.. ♪ Meong ♪ meong ♪ meoong.. ♪

Andai saja sudah sejak lama aku mengikuti serial Modern Family, barangkali kutipan dari salah satu episodenya bisa membuatku bertindak lain: Lanjutkan membaca “Kawan Berjalan: A Self Reflection”

Asmara Penasaran dan Doraemon

Sangkalan: Sesungguhnya tulisan ini sudah terencana untuk kupublikasikan beberapa waktu sebelum pernikahan si anu (Rapi Amat) dan si itu (Nageta Sapina) heboh ditayangkan selama berhari-hari oleh salah satu stasiun televisi swasta kita.

Disclaimer: This is supposed to be a translation of the sentence above in Lingish. So for the sake of our convenience, let’s just say so.

Siapa sih yang tidak menyukai kisah asmara? Kita semua menyukainya, barangkali. Terlebih apabila kita turut ambil peran di dalamnya. Ya, meski tidak sebagai peran utamanya, barangkali peran sebagai figuran cukuplah sudah dapat membuat kita ikut bahagia.

Akan tetapi bagaimanakah halnya ketika kisah asmara tersebut telah mencapai happy ending dan kemudian peran kita di situ berakhir pula? Akankah kita masih turut menikmati bahagia?

Sedikit kecewa sangatlah mungkin kita rasakan. Tetapi sebagai manusia yang terus ingin hidup di muka bumi ini hingga seribu tahun lagi, selayaknya kita terus melangkah maju. Barangkali dalam pelangkahan kita itu akan kita jumpai kisah-kisah asmara yang perlu pelibatan diri kita di dalamnya. Barangkali pula peran kita tidak lagi sebatas figuran melainkan sebagai pemeran pembantu utama. Sungguh mungkin, bukan?

Maka persiapkanlah diri kita untuk selalu siap sedia menghadapi kemungkinan tersebut. Lihatlah selalu peluang-peluang yang ada selama kita melangkah itu. Dengan demikian niscaya kita akan selalu hidup dari bahagia yang satu ke bahagia yang lain. Haha.

\Otak sedang kacau karena lama tak minum kopi, barangkali.\

Berbicara mengenai Doraemon \anggap saja kita tadi sedang asyik membicarakan robot kucing berwarna biru muda itu\ tahukah kalian kalau di negara serikat seberang lautan sana ditayangkan dalam televisi mereka satu seri kartun animasi Doraemon? Disney XD nama stasiun televisinya, kalau aku tidak salah.

Katanya di sini, ada beberapa pengadaptasian dari bagian cerita sehingga barangkali lebih berterima di hati para pemirsanya di sana. Seperti misalnya Nobita menjadi Noby, Suneo menjadi Sneech, Shizuka menjadi Sue, Gian menjadi Big G, dan seterusnya. Bahkan Doraemon tidak lagi disalahanggapkan sebagai rakun melainkan anjing laut.

Apapun itu, aku mendukung segala pengadaptasian semacam ini. Sama sajalah seperti dulu dilakukan oleh Wali Sembilan. Kan?

Jalan Acak

Seharusnya postingan ini kukirimkan ke sini melalui surel (email) tadi malam. Akan tetapi ternyata aku memang semakin melupa, sehingga tidak sadar kalau tombol Send-nya lupa kujawil.

Baiklah. Jadi begini, Saudara. Setiap kali aku merasa pikiran sedang banyak dipenuhi hal-hal buruk, aku akan keluar ambil jalan kaki. Kupikir dengan berjalan kaki maka pikiranku akan teralihkan kepada hal-hal yang kulihat atau kudengar di sepanjang jalan.

Jadi malam tadi aku keluar untuk ambil jalan. Ternyata banyak sekali hal menarik yang kulihat atau kudengar. Ketika melintasi trotoar di sebuah jalan yang gelap, kudapati sesuatu cahaya merah jingga di selokan. Awalnya aku pikir itu hanyalah bayangan bulan atau lampu di kejauhan. Akan tetapi malam tadi mendung dan tak ada lampu semacam itu di kejauhan. Kupikir lagi, apakah itu benda atau bahkan makhluk hidup fluoresens. Lanjutkan membaca “Jalan Acak”

Tetap Berlatih

Seorang guru olahraga pernah mengatakan hal ini kepadaku. Katanya, sekali dalam satu kurun waktu seorang atlet yang sedang rehat dalam karier profesionalnya harus berlatih agar dapat menjaga kebisaannya dalam olahraga yang ditekuninya. Perkataannya itu mendatangi ingatanku kemarin malam, yaitu pada saat aku menatap bulan sabit untuk kali pertamanya dalam bulan ini.

Benar juga. Badan manusia relatif lebih mudah pikun daripada hatinya. Barangkali seseorang akan mudah melupakan betapa sakit kakinya ketika terjatuh di jalan. Akan tetapi hatinya tetap akan ingat betapa sakit sekali hatinya mengetahui bahwa orang terkasihnyalah yang telah mendorongnya dengan sengaja sehingga ia terjatuh.

Tetapi bukan hal itu yang ingin aku tekankan. Seorang pemain sepak bola yang dilarang bermain sepak bola untuk sementara waktu karena cedera kaki yang dialaminya, akan membutuhkan waktu untuk setidaknya mengingatkan kakinya kepada teknik-teknik mengolah bola ketika dia sudah sembuh. Ia tidak akan bisa langsung melakukan tendangan ajaibnya seperti sedia kala. Memori kakinya tidak serta merta kembali seperti sedia kala. Katanya.

Maka mulai sekarang aku pun bertekad untuk melakukan hal yang menjadi kejagoanku minimal sebulan sekali. Aku tahu sudah lama aku tidak mempraktikkannya. Sudah hampir setahun ini, barangkali. Tentu aku tidak ingin kehilangan keahlianku ini.

Aku memang tidak berniat untuk kembali lagi menekuni dan berkarier secara profesional di bidang ini. Sudah lama aku memutuskan untuk keluar malahan. Tetapi aku merasa sayang untuk menghilangkan kebisaan ini secara total.

Maka inilah aku sekarang, berbahagia dalam keadaan perut kepenuhan makanan. Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan, barangkali dalam satu bulan ke depan. 😀

Leap of Faith

Belakangan ini aku beberapa kali mendengar frasa “leap of faith“. Apa pula itu maknanya? Bahkan mendengarnya dari mana saja aku sudah lupa.

Memang kuakui kalau belakangan ini aku sedang bermasalah dengan kepercayaan: tidak terlalu percaya dengan kebaikan orang, tidak terlalu percaya bahwa kebaikan pada akhirnya akan datang. Jadi mendengar frasa tadi seolah bagaikan menampar pipi sendiri; tidak sakit tetapi lebam-lebam itu pipi.

Kemudian sekarang aku mencoba untuk kembali percaya. Terlebih setelah mendengarkan Neng Najwa Latif menyanyikan “Cinta Muka Buku” sebagai berikut ini:

Banyak soalan banyak juga jawabannya
Kata hati dan rasa tak dibiar saja
Setiap yang berlaku ada kebaikannya
Harus pejam mata dan cuba apa saja

Percaya saja. Melompat saja, karena barangkali kita memang melompat ke tempat yang kita tuju. Jangan lupa memakai sepatu. Tak perlulah khawatir melompat ke tempat yang salah, karena setiap kejadian pasti ada sisi baiknya. Kan?

Indonesia di Mata Orang Jepang

Baru saja kubeli sebuah buku. Kubeli buku ini di toko buku, bukan toko donat apalagi toko bayi. Judulnya “Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang” buah karya seorang peneliti tentang Indonesia asal Jepang bernama Hisanori Kato.

Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (karya Hisanori Kato)
Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (karya Hisanori Kato)

Tentang apa buku ini? Sesuai dengan judulnya, tentu saja, yaitu tentang pandangan orang Jepang terhadap (orang) Indonesia. Adalah seorang Hisanori Kato, yang berbagi pengalaman pribadinya ketika hidup di Indonesia di buku ini.

Aku baru baca sebagian saja, Saudara. Tetapi aku ingin menceritakan sedikit pengalaman si penulis buku dan bagaimana pemikirannya. Pernah Pak Kato berbincang dengan seorang tukang parkir di Yogyakarta bahwa dia capek dan kurang tidur karena melakukan penelitian. Pak Kato ini terheran dengan tanggapan si tukang parkir, karena tukang parkir menyarankannya untuk beristirahat sebentar, bukannya menyemangati layaknya orang Jepang pasti bereaksi dalam situasi demikian.

Begini pernyataan dari Pak Kato:

Waktu itu saya berpikir bahwa ada tempat bagi saya untuk pulang. Di saat yang sama saya teringat realitas di Jepang bahwa setiap tahun ada 30.000 orang yang mengakhiri hidup mereka.

Di sini juga Pak Kato menanggapi perkara sifat sangat pemaklum dan pemaafnya orang Indonesia mengenai ketepatan waktu. Ada pula tentang agama Islam dalam masyarakat kita. Makanya aku pikir buku ini sangat layak untuk kita baca dan kita renungkan. Tentu bagi kita yang mengaku sebagai orang Indonesia. Haha.

Kabur

Yang kumaksudkan adalah kabar dalam artian melarikan diri. Flee. Escape. Atau apalah.

Kusadari bahwa dalam menjalani kehidupan ini aku banyak melarikan diri. Dulu, yang aku ingat adalah melarikan diri dari tugas membantu Ibu bersih-bersih rumah. Hwehe. Kemudian melarikan diri dari lingkungan main yang kurang kondusif. Melarikan diri dari anjing galak. Dan banyak lagi yang lainnya.

Yang baru-baru ini aku masih sering melakukannya adalah melarikan diri dari kawasan  tertentu; melarikan diri dari menonton anime (semisal Space Brother) dan serial televisi (semisal Person of Interest) tertentu; melarikan diri dari mobil tertentu; melarikan diri dari toko alat tulis tertentu; melarikan diri dari kenangan tentang orang tertentu; melarikan diri dari makanan tertentu; dan melarikan diri dari kekecewaan tertentu (semisal “dikaretin” dan dibohongi).

Pada tingkat-tingkat tertentu, aku pikir melarikan diri adalah mutlak harus dilakukan. Seperti misalnya kalau kita masuk ke dalam ruangan penuh dengan kucing, lebih baik kita melarikan diri dari ruangan itu alih-alih mengusir semua kucing keluar ruangan. Kan?

Akan tetapi pada hal-hal tertentu, aku pikir melarikan diri seharusnya dihindari. Seperti misalnya ketika terhidang sepotong besar cheese cake di atas meja sementara kita kelaparan, lebih baik kita memakan cheese cake itu tadi alih-alih membiarkan cacing di usus kelaparan. Kan?