Takut Waktu

Kalian tahu buku “Puisi-Puisi Remy Sylado: Kerygma dan Martyria”? Yang katanya setebal 1.056 halaman itu? Kira-kira lebih tebal mana dengan buku “Nagabumi”, ya?

Kata Remy Sylado di buku itu, dalam sebuah puisinya berjudul “Jarum Waktu”, takutlah pada masa datang, jangan pada masa lalu.

Kerygma dan Martyria: Puisi-puisi Remy Sylado - Remy Sylado - Google Books
Kerygma dan Martyria: Puisi-puisi Remy Sylado – Remy Sylado – Google Books

Waktu mana yang kalian takuti, Saudara? Aku sungguh takut waktu mati. Siapa bisa menjamin waktu mati kita dalam keadaan baik? Kan?

Pintu Kemana Saja

Sudah sejak bulan lalu sejatinya aku ingin memosting perihal ini, Saudara. \Karena puasa, barangkali sebagian orang akan sedikit ofensifisasi kurang berkenan.\

Kan kalian tahu aku adalah penggemar Doraemon? Kalian tahu pula kalau malam ini tepat di langit akan ada bulan (moon) yang berbentuk persis seperti kantong ajaib 4-matranya? Maka ingin kusampaikan pula kepada seorang gadis di luar sana, bahwa kita tidak bisa selalu bergantung pada Pintu Kemana Saja.

Apapun perkara kalian, cobalah hadapi sesekali. Jangan kabur terus-terusan. Haha. Aku akan ingat postingan ini pada Jumat depan. 😀

Jadi video di atas adalah PV-nya Doko Demo World-nya Ken Tanaka Band. Kalian tahu Ken Tanaka? \Bukan yang di Glee, woi!\ Dia adalah makhluk nyentrik yang mengarang buku “Everybody Dies: A Children’s Book for Grown Ups“. Buku itu sungguh menyentuh sekali, Saudara. Betapa semua makhluk akan meninggal. Di buku itu dikatakan beberapa orang berusaha menghindari kematian. Beberapa orang malah mencoba “bermain” dengan kematian. Sedangkan yang lain justru tak bisa menunggu kematiannya sendiri \bunuh diri\.

doko demo dowa ga attari, nakattari suru kara yo
(kita tidak bisa selalu mengandalkan Pintu Kemana Saja)

Sebuah lagu yang ringan didengar, ringan pula dilagukan. Tetapi memiliki makna filosofis yang teramat mendalam. Halah. Ini dia versi lain:

Selamat berak hir pekan!

Niat Baik yang Tulus

Aku pikir niat baik itu cukup segera dilaksanakan. Ternyata tidak boleh hanya itu, Saudara. Kita harus banyak-banyak mempertimbangkan apakah niat baik kita itu harus benar-benar kita laksanakan ataukah tidak perlu.

Kasusnya begini. Kita niat baik secara tulus untuk membantu seseorang yang kita pikir membutuhkan bantuan itu. Dia memang membutuhkan bantuan tersebut, tetapi ternyata dia tidak membutuhkannya dari kita. Dia membutuhkan bantuan itu tetapi lebih baik orang lainlah yang memberikannya.

Barangkali memang susah mengerem niat baik begini. Kita ngotot melaksanakannya, tetapi hasilnya sungguh di luar dugaan karena niat baik kita bisa ditafsirkan tidak baik.

Sebenarnya batasan antara peduli dan ikut mencampuri hidup orang lain itu apa, sih? Menurutku kita tidak cukup peduli kalau tidak sampai mencampuri. Tinggal bagaimana mencampurinya, sampai sebatas mana kita boleh dan tidak boleh mencampuri kehidupan orang lain. Barangkali itu yang harus kita tahu sebelum melaksanakan niat baik yang tulus kita itu tadi.

Bermain dengan Sugesti #2

< Bermain dengan Sugesti #1

Permainan sugesti itu ada bermacam rupa, Saudara. Salah satunya adalah mengenai rindu.

Pada tulisan “Merindu Pulang” aku mengeluarkan sebuah pernyataan begini:

“… barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.”

Kemudian aku pun bermain dengan sugesti. Aku pengaruhi hatiku sendiri untuk rindu bukan kepada sesuatu atau sesiapa yang senyatanya kurindukan, melainkan kepada sesuatu atau sesiapa yang ada dalam jangkauanku. Aku pikir pengalihan kerinduan semacam ini terbukti efektif.

Hari ini aku berencana akan berkumpul kembali dengan kawan-kawan setelah sekian lama tidak berjumpa. Kerinduanku akan mereka dan suasana kebersamaan bersama mereka tentulah sudah lama kupendam. Barangkali satu atau beberapa orang dari mereka membatalkan kepergiannya ke tempat berkumpul secara mendadak. Tentu hal ini akan sangat disesalkan. Daripada menyesal tak berguna, aku pun sudah bersiasat. Akan kulakukan permainan sugesti: rinduku akan kualihkan kepada makanan. Beres sudah! 😀

< Bermain dengan Sugesti #1

Bermain dengan Sugesti

Aku pikir sudah banyak orang yang menyatakan bahwa sembuhnya seseorang dari suatu penyakit pada hakikatnya hanyalah sebuah permainan sugesti. Walaupun sudah diobati segala macam rupa, apabila si sakit tidak tersugesti atau menyugesti dirinya sendiri untuk segera sembuh dari penyakitnya, kecil sekali kemungkinan untuk si sakit ini sembuh.

Ketidakdoyanan seseorang akan suatu makanan barangkali pula demikian. Ia tergolong sebagai permainan sugesti. Tentu kalian sudah pernah kuberi tahu bahwa aku terkejut sekali kala mudik lebaran kemarin tatkala aku diberi tahu bahwa tatkala masih kecil aku begitu suka dengan keju. Maka aku pun paham bahwa “bahwa” dan “tatkala” terkadang memang mengganggu.

Bermain dengan Sugesti
Bermain dengan Sugesti

Aku pun terheran-heran menjalani sebuah kenyataan bahwa ketika aku sudah beranjak tua dewasa begini aku lupa akan kesukaanku akan keju dan malah beralih tidak menyukainya. Maka aku pun kembali bermain dengan sugesti, yaitu bahwa mulai dari sekarang aku akan, kalaupun tidak bisa kembali suka, setidaknya bisa makan keju.

Ah, Perempuan

Janganlah kalian pernah meremehkan kekuatan perempuan. Mereka bisa saja menghancurkan kalian dengan hanya datang kepada kalian seraya berkata:

“Ah, aku gundah. Bagaimana ini?”

Lalu setelah kalian tertular kegundahannya, mereka malah pergi seraya berkata:

“Aku sudah tidak gundah lagi. Selamat tinggal!”

Maka yang tersisa dari kalian hanyalah kebinasaan. Ah, perempuan.

Asing

Sekitar dua hari lalu aku pernah berkicau demikian:

غرباء و لغير الله لا نحني الجباه
غرباء و ارتضيناها شعارا في الحياة

Lagu ini barangkali terinspirasi oleh sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang seingatku mengatakan bahwa Islam pada mulanya datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing seperti kedatangannya itu.

Entah hadis ini ada kaitannya dengan paham anti-mainstream yang belakangan ini sering digalakkan oleh para generasi muda ataukah tidak ada kaitannya sama sekali. Yang jelas aku tidak ingin membicarakan dua hal itu, Saudara. Sudah cukuplah para pakar di bidangnya mengupasnya secara tuntas.

Aku hanya ingin berujar bahwa pada mulanya apabila dua orang insan bertemu, keduanya sama-sama dalam keadaan asing. Kemudian mereka mengenal satu dengan lainnya sehingga sirnalah keasingan di antara mereka. Apabila keduanya kemudian berpisah, tidaklah keduanya akan menjadi asing sebagaimana mulanya. Karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pengenang dan makhluk perasa.

Tentu saja semua itu akan berbeda hukumnya manakala satu atau keduanya menderita insomnia amnesia. 😀

Buncit Dulu, Buncit Kemudian

Memiliki perut buncit membuatku berpikir maju ke depan. Seperti misalnya ketika sedang rapat di pagi hari ini, aku memikirkan kira-kira makan siang apa hendaknya harus kusantap nanti agar aku bisa berkonsentrasi dalam rapat ini. Kalian begitu juga, bukan?

Sini aku kabarkan kepada kalian. Berperut buncit itu memiliki banyak sekali kelemahan, Saudara. Kalian akan kesulitan untuk memotong kuku jari-jari kaki seorang diri. Kalian akan kesusahan duduk tahiyat akhir dengan baik dan benar. Kalian akan kerepotan mencari celana pendek maupun celana panjang. Kalian pun tidak akan gampang jongkok di pojokan toilet lagi.

Apapun itu, Saudara, mari kutunjukkan kepada kalian satu rahasia penting. Betapapun banyaknya kelemahan berperut buncit, tetapi semua itu akanlah sirna karena satu saja kelebihannya. Ingin tahu apa itu kelebihannya? Yaitu kalian akan senantiasa tampil seksi. 😀

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.