Pengaruh Hobi Pulpen

Apabila kalian sedang “menganggur”, cobalah menyimak video berikut ini:

Tuh, kan. Si Brian Goulet aja bilang kalau kaos berkerah juga nyaman dikenakan. Tak mengapalah kalau terkesan kebapak-bapakan atau keom-oman. 😀

Perhatikanlah pertanyaan pertama tentang bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa pulpen (fountain pen) itu berharga dan layak.

Kalau aku, biasanya aku coba pamerkan pulpen-pulpenku. Aku biarkan mereka memeganginya, mencobanya untuk menulis. Ah, andaikan ada tersedia banyak pulpen-pulpen murah di sini, tentu aku takkan enggan untuk memberikannya cuma-cuma kepada orang yang benar-benar antusias. Bagaimana?

Pelikano

Jadi Sabtu kemarin itu aku pergi ke sebuah mal. Sebut saja Mall Kelapa Gading. Barangkali memang karena ada di kawasan Kelapa Gading maka mal tersebut diberi nama demikian. Apa yang menjadi tujuanku datang ke situ tidaklah kujumpai. Akan tetapi beruntunglah aku karena ketika aku iseng memasuki toko buku berlogo klip kertas di situ aku menemukan pulpen Pelikan Pelikano ini! Yey!

Pelikan Pelikano di toko alat tulis
Pelikan Pelikano di toko alat tulis

Barangkali aku terkejut karena kupikir tidak akan ada pulpen-pulpen semacam ini di sini (Indonesia). Aku sudah cukup terkejut ketika pergi ke toko alat tulis di Malang beberapa pekan lalu kudapati tinta botol Pelikan 4001 di situ.

Pulpen Pelikan Pelikano yang kutemukan Sabtu kemarin ini barangkali adalah model lama. Karena di situs resminya Pelikan Pelikano tidaklah berbentuk demikian.

Sampai saat ini pulpen inilah yang menjadi pulpen (fountain pen) yang paling murah yang kupunyai. “Cuma” Rp65k. Sudah termasuk 6 tinta “peluru”.

Di toko alat tulis ini aku pun menemukan mata pena berikut:

View this post on Instagram

Mata pena baru. Nikko Pen. G. Made in Japan.

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Senangnya akhir pekan lalu…

Tintailah Parker Vector

Jadi, Saudara, tadi pagi aku membersihkan pulpen Parker Vector-ku. Aku bongkar-bongkar, tuh. Bagi yang ingin tahu bagaimana membongkar Parker Vector, silakan tonton video berikut:

Kemudian aku pun bingung. Haruskah aku menintai pulpen ini?

Parker Vector Metal
Parker Vector Metal

Sejujurnya, aku kurang begitu suka dengan pulpen ini, Saudara. Ketika aku menulis menggunakan pulpen ini, maka aku pun meletakkan jari telunjuk dan jempolku sedemikian rupa sehingga pulpen terpegang dengan nyaman. Akan tetapi bagiku pegangannya ini terlalu licin, Saudara. Apalagi ketika tanganku mulai basah oleh keringat.

Ditambah lagi ujung penanya tidak begitu bagus. Tentu saja ini adalah penilaianku. Sering terjadi “skipping” alias garis terputus apabila kugunakan untuk menulis. Kan tentu ini tidak nyaman, bukan?

Maka, haruskah aku menyimpannya saja dan tak lagi menintainya?

Kaligrafi

Sejak SD aku sudah mengagumi kaligrafi. Di masjid, di musala, di mana saja terdapat kaligrafi arab, aku suka menatapnya lama-lama. Alangkah senang tak terperi ketika dulu ayahku membelikanku buku kaligrafi arab. Berjam-jam aku tahan

Tak hanya kaligrafi arab, aku pun mengagumi kaligrafi latin. Copperplate, blackletter, dan sebangsanya telah membuat otakku serasa meletus. Dorrr! Aku pun terkejut. Di kala bosan menyimak guru menerangkan pelajaran di kelas, aku pun mencoret buku catatan dengan coretan asal kaligrafi. Hatiku pun riang.

Semenjak menggemari fountain pen, aku pun menjadi tahu bahwa untuk membuat kaligrafi atau tulisan indah yang aku kagumi itu membutuhkan pena-pena dengan kriteria khusus. Ada yang mata penanya lentur, ada pula yang mata penanya seperti klem kertas.

Rencananya aku ingin membeli pena semacam itu sebelum pulang ke kampung halaman akhir pekan ini. Sembari ngabuburit menunggui ibu memasak makanan buka puasa, alangkah nikmatnya sambil belajar kaligrafi, bukan?

Calligraphy
Calligraphy

Buah Jeruk Buah Delima

Setelah kudalami bidang perpulpenan, ternyata tidak banyak pulpen tersedia di tanah air. Di Gramedia Matraman saja, hanya ada Montblanc, Cross, Parker, Sheaffer, dan Faber-Castell. Rotring ada, tetapi pulpen kaligrafi saja.

Barangkali...
Buah jeruk buah delima. Tulisan buruk jangan dihina.

Di luar sana, ternyata banyak pulpen beraneka rupa dan beragam rasa. Dari rasa jambu biji hingga stroberi. Dari pisang hingga durian. Sementara di sini? Diejeknya aku pakai pulpen. (doh)

Pena Lama Ditemukan

Akhirnya aku menemukan pena lamaku.

Kalian tahu ia ada di mana? Ternyata ia bersembunyi di laci meja kantor. Aku bilang pernah punya pena murah dengan kondisi patah di sambungan dan batangnya, kan? Nah, ternyata tidak patah melainkan longgar di sambungannya itu, Saudara.

Awan mendung tidak jadi datang sore ini karena ada banyak hal bisa kuceritakan mengenai ini pena. Ujung penanya tajam, sama sekali tidak lembut kalau digunakan untuk menulis. Maka jangan sekali-kali berpikiran menggunakan ujung penanya untuk kerokan. Terukir tulisan semacam Sailor dan F-8. Sailor si pembuat pena itu? Tetapi tanpa logo jangkar. Aneh, bukan? F barangkali untuk tiFis. Lanjutkan membaca “Pena Lama Ditemukan” →

Pena

Sudah semenjak kecil aku tertarik dengan pena.

Waktu kecil, pertama kali aku tahu bahwa alat tulis tak hanya pulpen dan pensil. Ada pula pena. Pamanku memperkenalkannya.

Waktu membesar \beranjak besar, maksudnya\ ada seorang kawanku sekelas membawa tinta ke mana-mana. Rupa-rupanya dia pakai pena.

Kemudian aku pun membesar dan semakin besar. Suatu hari aku melihat pena di deretan pulpen-pulpen dan pensil. Langsung aku beli pena itu. Pena murah itu kupakai beberapa waktu untuk kemudian patah di sambungan pegangan dan batangnya.

Aku kemudian membeli pena baru. Kali ini pena untuk menulis indah alias kaligrafi. Dengan pena ini aku pun sukses mengguratkan tulisan-tulisan aneh dan mencoret beberapa baju.

Hari berganti hari, bulan berubah tahun. Sebulan lalu aku pun membeli pena baru (untuk menulis). Bentuknya mirip dengan pena murah waktu itu. Aku pun lantas mulai mempelajari perihal pena. Ternyata pena itu beraneka ragam, beraneka bentuk, dan beraneka tingkat kemahalan.

Karena penasaran, maka aku pun memutuskan untuk membeli pena lagi. Akhir pekan kemarin aku pun memutuskan untuk membeli pena baru. Maka betapa sungguh beruntung aku di saat membeli pena itu karena aku mendapatkan kesempatan mengambil undian. Ternyata aku memenangkan sebuah pena lagi. Oh, oh~

Pena-penaku
Pena-penaku

Begitulah kisah pena-penaku. Bagaimana dengan penamu?