Jawab Cahaya – Tempat Berkesan

Tak ada petir tak ada badai, tiba-tiba aku diharuskan menjawab beberapa pertanyaan dari Mbak Nur) sebagai berikut:

  1. Apa arti nama lengkap kamu?
  2. Apa yang paling ingin kau makan tapi sampe sekarang belum keturutan?
  3. Siapa penulis favoritmu dan apa bukunya yang paling kau sukai?
  4. Adakah buku, film, atau lagu yang pernah merubah hidupmu? Cerita donk…
  5. Selain dompet dan HP, benda apakah yang selalu ada di dalam tasmu?
  6. Apa pendapatmu tentang cinta pertama? 😀
  7. Pernahkah kamu trauma? Cerita ya…
  8. Apakah kamu punya phobia?
  9. Apa 3 hal sederhana yang bikin kamu bahagia?
  10. Sebutkan 3 tempat/kota yang paling berkesan buatmu dan kenapa?
  11. Pernahkah kamu stalking blog orang? Apa pendapatmu terhadap stalker? (oiya, stalking disini bukan silent reader ya… stalking yang kumaksud misal “ini blog istrinya temen” atau “pacarnya temen” dan yang semacamnya

Berhubung karena aku adalah aku dan aku suka acak acak acak acak, maka aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara acak satu per satu. Untuk sekarang, barangkali aku akan menjawab pertanyaan nomor 10.

1. Pondok Laras

Tempat pertama yang paling berkesan bagiku adalah ini. Yaitu nama kosan tempat aku tinggal selama tiga tahun “mengotori” pikiran dengan ilmu tentang keuangan negara. Tempat dimana aku secara iseng mencoret-coret dinding kamar dengan kaligrafi arab untuk kemudian tersadar bahwa kemungkinan besar aku akan dimarahi oleh ibu kos. Tempat dimana aku dijuluki “Mbah DJ” saking berisiknya aku menyenandungkan lagu asal-asalan atau sekadar memukul-mukuli tepian ranjang di kamar hingga mengganggu seisi kosan.

Salah satu tempat dimana aku pernah merasakan sangat kesepian untuk kemudian tiba-tiba merasa sangat berkeramaian. Tempat pertama kali aku merasa merantau dan merindukan kampung halaman. Tempat pertama kali aku mencuci pakaian sendiri, menjahit celana robek sendiri, dan memiliki cermin besar sendiri. Tempat dimana pertama kali aku menyadari bahwa cinta sejati tak harus memiliki melainkan cukup saling merindui. Lanjutkan membaca “Jawab Cahaya – Tempat Berkesan”

Belajar Ulang

Aku berpikir, Saudara, bahwa dalam hidup tidak semua hal sesuai dengan falsafah naik sepeda. Falsafah yang bagaimana? Apabila kita sudah bisa naik sepeda, kemudian selama beberapa waktu kita tidak naik sepeda, begitu kita harus naik sepeda lagi maka dengan sendirinya kita akan teringat keahlian kita bersepeda dan bisa mengendarainya tanpa kesulitan.

Aku bahkan sampai lulus SMA ke mana-mana naik sepeda. Karena kupikir sepeda tidak merugikan lingkungan, tidak menambah polusi udara, dan menyehatkan pula. Di samping memang tak punya sepeda motor pun. 😀 Kemudian selepas lulus SMA aku pun mengembara merantau. Tidak naik sepeda pun selama di tanah rantau. Tetapi ketika pulang ke kampung halaman, aku langsung bisa saja mengendarai sepedaku. Tentunya detik-detik pertama badanku membutuhkan sedikit pengingatan. Tetapi hanya itu, sebentar saja.

Lain halnya dengan pengalamanku mengendarai sepeda motor. Suatu pagi di hari Ahad, ketika masih duduk di kelas 1 SMA, untuk pertama kalinya aku mengendarai sepeda motor. Saking penasarannya mengendarai motor, aku nekad pagi itu diam-diam, setelah diam-diam pula mengambil kuncinya, kukeluarkan sepeda motor 2-tak milik ayah. Kunyalakan, lalu pelan-pelan bisa dengan serta-merta aku mengendarainya. Kuajak si motor keliling kampung. Lanjutkan membaca “Belajar Ulang”

Target Ramadan

Barangkali memang benar bahwa waktu adalah besaran relatif. Terkadang waktu terasa begitu lama berlalu, yaitu ketika kita sedang melakukan pekerjaan paling membosankan sedunia yang tak lain adalah menunggu. Waktu terkadang terasa begitu cepat berlalu bagi sebagian orang dan terasa begitu lama berlalu bagi sebagian yang lain, yaitu ketika seorang anak tumbuh besar.

Maka bagiku Ramadan kali ini membuatku merasakan bahwa waktu seolah-olah mundur ke masa tiga tahun yang lalu atau bahkan tiga belas tahun lalu.

Aku teringat akan masa kurang lebih tiga belas tahunan yang lalu. Pada masa itu sudah menjadi lumrah bagi anak-anak seusiaku waktu itu untuk memperdalam ilmu agamanya di majelis taklim. Tentu kalian tahu bahwa huruf “k” di situ seharusnya adalah huruf “ع”. Di majelis taklim tempat aku menuntut ilmu setiap akhir tahunnya selalu diadakan beraneka rupa perlombaan menyambut datangnya tahun baru Hijriah. Salah satunya adalah lomba berpuisi.

Adalah seorang seniorku membuat puisi ini dan mendeklamasikannya di hadapan khalayak dan para dewan juri. Aku ingat sekali bunyi bait pertama puisinya karena secara diam-diam aku menyalinnya untuk kumasukkan dalam kotak memorabiliaku. Aku pun berkali-kali mendendangkan bait puisi ini dalam alunan nada dari sebuah lagu berbahasa Arab. Seingatku lagunya mengenai sebuah penyambutan karena terdapat kata “marhaban”. Besar kemungkinan bahwa lagu itu tentang penyambutan kedatangan bulan Ramadan.

Sebait puisi dimaksud adalah sebagai berikut:

Belum sempat aku istirahat
Kau sudah datang menyapa
Lewat detik-detik yang suci
Yang tak seorang pun mampu melebihi

Lanjutkan membaca “Target Ramadan”

Metafora Sambal: Taubat as-Sambalu

Izinkanlah aku untuk sejenak bercerita, Saudara. Dalam rehatku bolak-balik ke toilet, Saudara.

Kalian tahu bukan kalau aku tidak tahan dengan makanan pedas? Sejak kecil, kalau menyantap makanan pedas, maka aku akan bereaksi begini: mulut megap-megap menggumamkan “huah huah” sambil lidah sedikit dijulur-julurkan, mata merem-melek-melotot, lalu kedua tangan menutup kedua telinga.

Karena menderita semacam itu, aku pun menolak makan makanan pedas. Tentunya dengan sedikit pengecualian. Sesungguhnya aku adalah pencinta sambal kacang. Maka segala makanan bersambal kacang, betapapun pedasnya, aku tak menolak. Lanjutkan membaca “Metafora Sambal: Taubat as-Sambalu”

Cadangan dan Inovasi

Kan kalian sudah tahu kalau aku sering mendaulatkan diri didaulat menjadi Cadangan Mempelai Pria?

Nah, aku pun selalu berusaha menjalankan peranku tersebut dengan baik dan benar serta penuh dengan penjiwaan. Maka tak heran kalian sering menjumpaiku selalu siap dan hadir terlebih dahulu di tempat penyelenggaraan akad nikah. \Apakah ini terlalu berlebihan, Saudara?\

Maka jantungku pun akan berdegup kencang manakala si mempelai perempuan datang beserta rombongan. Jantungku pun berdegup makin tak keruan setelah kudapati ternyata sang mempelai laki-laki lama tak datang-datang. Barangkali ia terlambat, maka apabila si mempelai perempuan sudah tidak sabar cadangan pun terpaksa dipergunakan. Kan?

Kebahagiaan memang dapat muncul secara sebentar digantikan dengan kekecewaan. Maka aku sedikit kecewa begitu rombongan datang membawa serta sang mempelai laki-laki. Harapanku untuk menjadi cadangan berguna pun sirna, Saudara.

Ada satu hal ini dapat menjadi obat kecewa hatiku. Inilah apa maksudku dalam “Tahu?“. Bukan ucapan ijab apalagi qabul. Karena ucapan-ucapan itu sudahlah baku kiranya.

Saya nikahkan engkau dengan anak saya Fulanah binti Saya dengan mas kawin Bisa-Perhiasan-Bisa-Rumah-Bisa-Mobil-Bisa-Mukena dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Fulanah binti Situ dengan mas kawin tersebut dibayar ngangsur tunai.

Ya paling tak jauh-jauh dari ucapan itu. Kalau pun berimprovisasi, tak jauh-jauh dari sekadar perubahan bahasa. Lanjutkan membaca “Cadangan dan Inovasi”

Hari Batik Tidak Beruntung

Jika kemarin adalah harinya Pancasila, maka hari ini adalah harinya batik. Sedangkan besok adalah harinya debu dan lusa adalah harinya orang-orang berkumis.

Maka pembuat diriku spesial di hari ini adalah aku mengenakan kemeja batik bukan dalam rangka merayakan Hari Batik melainkan karena hari ini adalah Selasa. Dengan demikian barangkali inilah penyebab diriku tidak atau kurang beruntung meski mengenakan baju batik.

Pada suatu malam di mana langit mendung sehingga purnama hanya tampak sesekali dan itu pun buram, hawa gerah menyelimuti bumi Rawamangun. Hatta, malam tersebut dapat dikatakan sebagai tadi malam sehingga berlaku persamaan sebagai berikut:

Dalam pada itu, tiba-tiba kartu SIM pada ponselku rusak sehingga tidak bisa kugunakan untuk menelepon atau sekadar mengirim SMS iseng dan jahil. Maka konon kabarnya banyak kawan menjadi kesal karenanya, yaitu karena tidak bisa membalas kejahilanku. Lanjutkan membaca “Hari Batik Tidak Beruntung”

Hawamangun Membakar Harddisk

Kalian tahu siapa berani membakar rambutku? Tak lain adalah teriknya Rawamangun siang ini. Bahkan dengan angin sepoi-sepoi ini penguapan atas cairan di atas kepalaku menjadi semakin cepat berlangsung.

Dalam pada itu, isi kepalaku sedang dalam keadaan kacau berantakan. Hal ini diakibatkan oleh hilangnya data dua tahun terakhir ini sebanyak 600 GB lebih. Bagaimana mungkin aku bisa seceroboh ini?

Halah, ngomong apaan sik?

Kejadian-kejadian semacam ini sudah sering kutakutkan sejak bertahun-tahun lalu. Komputer boleh rusak, tetapi kandungan di dalam harddisk tidak boleh ikut rusak apalagi lenyap. Menyesal adalah sebuah keterlambatan. Maka kata-kata mutiara “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” tidak berlaku dalam hal ini. Memang tak ada guna menangisi kepergian data ke alam matrix.

Jadi, Saudara, bagaimana akhir pekan kalian?

Posted from WordPress for BlackBerry.

Bodoh

Pada saat itu aku sedang berada di kamar mandi. Seekor lalat mengganggu konsentrasiku yang sedang menoto pagi dengan beterbangan ke sana ke mari membunyikan sayap-sayapnya; berisik sekali. Bagaimana dia bisa masuk ke sini, begitu aku pikir.

Apapun, dia seperti sedang mencari jalan keluar. Berkali-kali dia tabrakkan diri ke jendela kaca. Kalian tahu, kan, kamar mandiku punya dua lubang ventilasi yang masing-masing terdiri atas dua papan kaca yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat disebut sebagai ventilasi?

Setelah bingung mengapa dia tidak bisa keluar padahal menurutnya jalan yang ia tempuh sudah benar, ia pun mondar-mandir ‘bbzzz’ menggangguku. Saat itulah aku berkesimpulan bahwa lalat adalah makhluk paling bodoh yang dengan mudah dapat tertipu oleh hal buatan manusia.

Lanjutkan membaca “Bodoh”

Beli Embing Makanan Aneh

Sarapan, Saudara? Roti belimbing susu cokelat!
Sarapan, Saudara? Roti belimbing susu cokelat!

Berbicara menu makanan aneh dan tak wajar, pengamalanku sudah berbilang. Kalian pernah makan burger jambu biji? Itu dia salah satunya.

Dulu di pekarangan rumahku ada pohon jambu biji. Setiap musim berbuah, aku betah berlama-lama nangkring di salah satu dari dua cabangnya. Pohonnya kecil sebenarnya. Kalau ada dua orang bocah nangkring di masing-masing cabangnya, pastilah itu pohon akan goyah. Untung saja dulu aku tergolong petinju kelas kapas. 😀 Lanjutkan membaca “Beli Embing Makanan Aneh”