Memaafkan Keadilan

Adil menurut Islam adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Membuang sampah di trotoar termasuk perbuatan tidak adil. Memakai kaos kaki di lengan juga termasuk perbuatan tidak adil.

Berdasarkan konsep ini, tadi pagi aku mengalami sebuah ketidakadilan, Saudara. Bagaimana tidak? Aku datang menghampirinya lebih dahulu, tetapi si Bapak Tukang Bubur Ayam melayani seseorang yang datang setelahku. Okelah orang tersebut adalah pelanggan tetap si Bapak Tukang Bubur Ayam. Dia pula memesan bubur ayam lebih banyak. Tetapi, hei!, aku datang lebih dahulu daripadanya. Mengapakah aku tidak dilayaninya terlebih dahulu?

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapatkan pengalaman yang serupa. Adalah si Abang Tukang Nasi Goreng yang menempatkan aku tidak pada tempatnya. Aku datang ketika si Abang Tukang Nasi Goreng itu membuatkan dua porsi nasi goreng kepada seorang lelaki. Aku memesan satu bungkus nasi goreng dengan kepedasan pada tingkat satu, dan langsung duduk di kursi plastiknya. Aku ingat benar waktu itu memilih kursi yang berwarna merah, bukan yang hijau. Lanjutkan membaca “Memaafkan Keadilan”

Buku Paket

Ada yang tahu istilah buku paket? Entah di tempat dan masa kalian disebut apa, tetapi di tempatku dan pada masaku dulu buku referensi utama yang digunakan di sekolah disebut sebagai buku paket.

Ketika bersekolah di SD Inpres dulu, ada sih buku paket, bisa dikatakan cukup menurut jumlahnya, tetapi setelah dicermati sekarang rasa-rasanya keadaan semasa dulu itu bisa digolongkan kurang. Buku paket ada, tetapi rasa-rasanya (lagi-lagi) kurang saja dari segi kualitas. Apa mungkin kurikulumnya yang menjadi masalah, ya? Banyak materi yang harus dipelajari, tetapi seakan dangkal karena tidak mengupas secara rinci. Apa, ya?

Begitu sajalah. Bukan hal ini yang sejatinya hendak kusampaikan pada kesempatan kali ini. Ingin kalian aku aja menyimak penuturan video berikut ini; mengenai textbook (buku paket).

Dulu pernah aku dan kawan-kawan semasa SMA sama-sama bayangkan \atau lebih tepat dikatakan impikan\ bahwa buku paket di sekolah-sekolah akan semenarik sebagaimana penggambaran di video tadi. Penuh dengan warna-warni dan hal-hal rinci dan penyusunannya sangat sistematis. Tidak membosankan jadinya. Belajar pun semakin menyenangkan. Lanjutkan membaca “Buku Paket”

Jadi Cerita Malam

Jadi begitu, Saudara.

Ceritanya adalah mengambil waktu pada suatu malam yang sudah larut. Setelah menunggu lama, akhirnya aku dapat naik bus TransJakarta koridor 4 Dukuh Atas-Pulogadung yang terakhir pada malam itu. Karena terakhir, maka bus akan berhenti di semua halte termasuk halte Pemuda-Rawamangun (tujuanku seharusnya turun) dan Tugas.

Semua orang kelelahan. Maka banyak yang tertidur di kursinya masing-masing termasuk aku. Yang berdiri tentunya tidak bisa tidur, kecuali bagi yang membawa kasur.

Ketika aku terbangun \dari tidur, tentu saja\ ternyata bus sudah sampai di Terminal Pulogadung. Hal ini hanya berarti satu bagiku: aku terlewat karena ketiduran! Lanjutkan membaca “Jadi Cerita Malam”

Bajuku Dulu

Bajuku dulu ♪ tak begini ♫
♪ Tapi kini… ♫

Ketika mataku menatap setumpukan baju di dalam lemari, tanpa sengaja aku melihat seonggok kaos berwarna aneh. Terbersit dalam ingatanku yang karatan ini bahwa aku tidak pernah memiliki baju dengan warna seaneh itu. Maka aku ambil itu kaos. Aku jembreng. Kulaksanakan falsafah 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang.

Dari gambarnya, sepertinya aku kenal. Tapi tidak dengan warnanya. Maka jelaslah kalau kaos itu adalah memang kaosku, yang kini telah berubah rupa sedemikian warna sehingga membuatku pangling.

Kaos itu adalah buah tangan dari seorang kawan yang pernah dinas beberapa hari lamanya di Kalimantan Barat. Maka wajar saja jikalau terdapat tulisan ‘Kalbar’ di kaos tersebut, bukan? Nah, warna bahan kaos aslinya adalah hijau cerah. Kini kaos itu berwarna cokelat kehijau-hijauan atau hijau kecokelat-cokelatan. Bagaimana gerangan perubahan ini bisa terjadi? Lanjutkan membaca “Bajuku Dulu”

Adalah Malam yang Menyebabkan

Aku adalah orangnya satu-satunya lelaki di dalam angkot selain bapak supir di depan sana. Maka wajarlah jikalau aku berada di antara kerumunan ibu-ibu yang hebohnya bukan kepalang seakan sedang berada dalam acara arisan ibu-ibu PKK.

Dalam keterhimpitanku di pojok belakang pada bagian empat dalam istilah Enam Empat, kulihat di belakang sana dua mobil pemadam kebakaran beriringan melewati perempatan jalan. Dengan melambaikan tangan, dua orang petugas damkar itu berdiri di atas blanwir meminta diprioritaskan dalam melintas meski sebenarnya jalurnya telah dihentikan lampu merah. Lanjutkan membaca “Adalah Malam yang Menyebabkan”

Semangat Wengi

Wayah wengi iki kelingan lagu dolanan jaman sik cilik, yo kuwi lagu Padang Bulan. Ono sing sih kelingan?

Yo p’ro konco dolanan ing njobo
Padang bulan padange koyo rino
Rembulane sing awe-awe
Ngelengake ojo podho turu sore

Mbiyen pas cilik iku lebar Isya’, sak budhale ngaji, bocah-bocah podho kumpul nang pelataran. Arep ngopo? Yo dolanan tho ya.

Kadang maen rok benteng (bentengan), kadang maen gobak sodor, kadang rok umpet. Wis pokoke sing serba mloya-mlayu. Kadang ugo dho pepetengan menyang kebon. Perkoro opo? Biyasane nguber jangkrik.

Yen perkoro umpet-umpetan, koyone aku sing paling kreatip ngumpet. Pernah nganti suwe banget aku diluru, aku ngumpet manjat nang wit jambu. Pernah ugo aku ngumpet nang njrone songkro bakso sing wis ora kanggo. Lanjutkan membaca “Semangat Wengi”

Perjalanan Terbaik

Pekan keempat bulan Februari. Senin Kliwon ini aku sarapan dengan lima potong roti.

Seperti inilah topik Post a Day hari ini:

Describe the best road trip you’ve ever taken.

Bonus: If you’re feeling all glass half empty, the worst road trip. Or describe a road trip you’d like to take and why you want to take it.

Perjalanan darat terpanjang yang pernah kualami adalah ketika liburan kenaikan kelas 2 SMA: Darmawisata ke Bali! Berhubung berkas catatan perjalanannya telah terhapus dari komputer dan sudah tidak mungkin dibangkitkan kembali, juga karena sebagian besar ingatanku tentang perjalanan itu terhapus pula bersamaan dengan lenyapnya berkas catatan perjalananan itu, maka liburan ke Bali itu tidak bisa dikatakan sebagai perjalanan darat terbaikku. 😦

Awal bulan April tahun lalu aku dan kawan-kawan The Penampakanz melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta. Perjalanan dimaksudkan sebagai kunjungan balasan atas kunjungan kolega kami dari Kota Gudeg itu dua bulan sebelumnya. Selain itu kami juga bermaksud menjadikan beberapa area di Yogyakarta sebagai latar belakang dalam dua film yang akan kami buat. Yak! Benar sekali, kami syuting di Jogja!

Berangkat dari Jakarta menggunakan sebuah mobil dan supir sewaan. Total kami berenam, termasuk supir sewaan bernama Kang Badi. Perlu aku sampaikan di sini bahwasanya Kang Badi ini adalah seorang supir yang “gila”. Betapa tidak gila, hobinya mengebut, memanuverkan mobil ke kiri dan kanan secara cepat, dan menglakson sepeda-sepeda motor yang ada di depan dan samping mobil kami. Kang Badi telah sukses membuat kami menjadi semakin mendekatkan diri pada Sang Khalik dalam perjalanan itu.

Sepanjang perjalanan kami bernyanyi dan bercanda ria. Sesekali kami mengelus dada dan beristighfar manakala Kang Badi menyalip truk atau bus di depan kami dengan kecepatan yang luar binasa. Yah, dalam perjalanan itu kami semua bergembira.

Tak banyak yang ingin kuceritakan mengenai perjalanan ini. Yang jelas kami di sana berhasil menyelesaikan syuting film pendek perdana kami yang berjudul “Wasiat”. Kami berkunjung ke kompleks Candi Prambanan, Pantai Parangtritis dan Pantai Depok, Jalan Malioboro, Pasar Beringhardjo, Tamansari, dan objek-objek menarik lainnya di Yogyakarta.

Meski sangat menguras tenaga, kami puas. Kami bergembira. Aku berharap semoga pada kesempatan lain dalam perjalanan hidupku bisa bersama-sama lagi dengan mereka melakukan perjalanan yang serupa. Entah ke Jogja lagi, entah ke kota lain. Entah tahun ini, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi.

Maka berikut inilah sedikit dokumentasi perjalanan waktu itu:

My First Online Experience

Selamat malam, Saudara pendengar sekalian. Jumpa lagi dengan penyiar kesayangan Anda, FARIJS MANIJS. Masih di gelombang 168.22.0.1 FM, Radio CEMANGAT, radionya para pemeras keringat!

Saudara pendengar dimanapun Anda berada. Malam ini tampaknya sang purnama tengah merekah di keheningan malam. Cahaya terangnya tampak semakin memesona di antara bintang-bintang yang berpendar-pendar cantik di langit kelam.

Berbicara masalah bintang-bintang, marilah kita simak sejenak sebuah judul lagu djadoel berikut ini. Sebuah nomor manis yang kiranya akan menambah ketenteraman hati Anda sekalian dalam beristirahat bersama sang juwita malam.

FAHMI SHAHAB – KOPI DANGDUT

kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana
saat kudengar melodi cinta yang menggema
terasa kembali gelora jiwa mudaku
kar’na tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

irama kopi dangdut yang ceria
menyengat hati menjadi gairah
membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

Kopi dangdut. Semoga kopi yang satu ini sama ajaibnya dengan secangkir kopi hangat yang dapat menenangkan jiwa Anda tatkala beristirahat pada malam hari ini. Sembari menatap bulan purnama yang sungguh indah di langit, bagi Anda yang ingin kirim-kirim salam atau kirim-kirim lagu, silakan langsung saja SMS ke sini.

dag dig dug detak jantungku
ser ser ser bunyi darahku
dag dig dug detak jantungku
ser ser ser bunyi darahku

na na na mengapa kamu
datang lagi menggodaku
dulu hatiku membeku
bagaikan segumpal salju

‘ku tak mau peduli
biar hitam biar putih
melangkah berhati-hati
asal jangan nyebur ke kali

api asmara yang dahulu pernah membara
semakin hangat bagai ciuman yang pertama
detak jantungku seakan ikut irama
kar’na terlena oleh pesona alunan kopi dangdut

Saudara pendengar sekalian yang kiranya sedang berbahagia. Internet dewasa ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Semakin hari rasanya semakin tak bisa kita hidup tanpa internet. Mulai dari situs web layanan informasi, e-mail penunjang kerja, sampai kepada jejaring sosial, rasa-rasanya akan susah kita menjalani keseharian tanpa itu semua. Lanjutkan membaca “My First Online Experience”

Maramaramarah! Ramah!

Project Pop – Maramaramara

Ape lo??
Ape lo??
Ape lo??
Eh, Ape??
Ape lo??
Ape??

Lo kalo mencak-mencak mencak kayak kocak
Lo kalo mencak-mencak mencak kayak cicak
Maca githu aja kamu kok bolo kokok
Kamu yang gitu aku jadi bolo kokok

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge eh biasa aja dong
Ga usah pake otot
Napa mesti nyolot melotot wee wee wee biasa aja tahu
Ga usah pake otot

Reff:
Maramaramara itu ga perlu
Udahan marahnya
Cepetan dong cepetan dong…
Maramaramara itu ga perlu
Udahan marahnya
Cepetan dong cepetan dong…

Salahmu!
Salahmu!
Enak aja salahmu!
Enak aja salahmu!
Enak aja salahmu!

Lo klo mencak-mencak mencak kayak kocak
Lo klo mencak-mencak mencak kayak cicak
Maca githu aja kamu kok bolo kokok
Kamu yang gitu aku jadi bolo kokok

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge biasa aja dong gemuke
Ga usah pake otot
Napa mestinya lotot lotot wee wee wee nyante aja lagi
Ga usah pake otot

/Reff/

Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…
Lo dulu minta maaf…

Napa mesti nyolot melotot nge nge nge biasa aja deh
Ga usah pake otot
Napa mesti nyolot melotot wee wee wee lo yang biasa aja
Ga usah pake otot

/Reff/

Hoho. Saudara-saudara, tahukah kalian kalau ternyata marah-marah itu mempunyai efek samping? Sini kuberi tahu. Marah-marah itu, Saudara-saudara, dapat membuat badan pegal-pegal! Percayalah. Sudah kualami sendiri.

Ketika koneksi internet* terputus-putus di saat sedang terjadi perbincangan yang teramat penting dengan sejawat, yang dapat mengguncangkan alam sejagad. Ketika layar ponsel mengalami hidup segan mati tak mau alias nyala-padam-nyala-padam byar-tep-byar-tep selagi mendapatkan sebuah SMS yang teramat penting karena menyangkut masalah yang sedang genting. Ketika lagi-lagi harus membatalkan pulang kampung lantaran ponselku “lagi-lagi” rusak dan harus segera diperbaiki. (doh)

Ketika-ketika itu, uh, ingin rasanya kutendang monitor komputerku dan kubanting ponselku. Kala itu benar-benar terasa pegalnya sekujur badanku mulai dari ubun-ubun kepala menjalar sampai ke ujung kaki. Sakit sekali. Entah itu karena apa. Darah yang mengalir tidak lancar? Darah mengalir tersendat-sendat? Ada suatu “zat” yang menyumbat aliran darah tersebut? Yah, agaknya para ahli fisika** harus meneliti tentang ini. Atau sudah pernah ada yang meneliti?

Sebagaimana yang telah kuceritakan pada zaman baheula di blog ini, bahwa menahan kencing dapat membuat tingkat amarah menjadi semakin tinggi. Daya tahan kita untuk tidak meluapkan kemarahan menjadi rendah. Nah, untuk hal ini agaknya para ahli harus kembali meneliti. Atau sudah pernah ada yang meneliti juga?

Ingatlah ajaran Rasulullâh SAW mengenai marah. Apabila marah, segeralah mengucapkan ta’awudz, mohon perlindungan dari Allâh SWT. Dan ubahlah posisi: Kalau kita marah ketika kita sedang duduk, segeralah berdiri. Kalau kita marahnya ketika sedang berdiri, segeralah duduk. Dan ingat, lebih baik diam. Niscaya ini dapat meredam amarah kita. Oke, Saudara-saudara?

 

===

* Koneksi XL-HSDPA-ku terkadang mengalami putus-sambung-putus-sambung seperti lagu barunya BBB. Meski ketika tengah malam koneksinya kencang, namun kalau diselingi dengan putus-sambung ya ndak asek tho?

** Kok sepertinya nggak nyambung, ya?