Ah, Perempuan

Janganlah kalian pernah meremehkan kekuatan perempuan. Mereka bisa saja menghancurkan kalian dengan hanya datang kepada kalian seraya berkata:

“Ah, aku gundah. Bagaimana ini?”

Lalu setelah kalian tertular kegundahannya, mereka malah pergi seraya berkata:

“Aku sudah tidak gundah lagi. Selamat tinggal!”

Maka yang tersisa dari kalian hanyalah kebinasaan. Ah, perempuan.

Wanita … Dunia

Telah kusaksikan banyak pria yang menderita karena wanita. Terkadang mereka ditampar hanya karena telapak tangannya menyentuh rok si wanita pada bagian belakang. Terkadang pula para pria ini tidak dipedulikan lantaran si wanita sedang khusyuk menyimak jalan cerita sinetron kegemaran.

Sungguh malang nasib pria-pria, yaitu yang disuruh makan sayur asam yang keasaman kalau si wanita sedang berhalangan; yang wanitanya merajuk minta dibelikan aneka perhiasan dan boneka-bonekaan; yang harus menelan ludah kekecewaan karena kalah dalam perebutan wanita idaman.

Wanita adalah makhluk paling aniaya, kalau ia berkhianat dan berbohong kepada pria untuk alasan apapun juga. Pria adalah makhluk paling menderita karena tidak tahu bagaimana cara untuk mengerti keinginan wanita.

Bagaimana pun, telah pula kusaksikan banyak pria yang berbahagia karena wanita. Yaitu pria-pria yang beruntung menikahi wanita-wanita yang dekat dengan Tuhannya.

Obrolan Pekan Ini: Dadah

Malam nan larut, seperti sebungkus bubuk kopi hitam dalam secangkir air panas: hitam pekat. Di atas sana kerlip bintang hanya bisa terlihat kalau kita mengusir awan-awan mendung itu.

Oh alangkah sedapnya. Dalam dinginnya malam aku dipertemukan dengan penjual sekoteng. Apakah ini suatu pertanda bahwa kehangatan akan senantiasa melingkupiku? Bahkan pada malam yang tidak bisa dikatakan sejuk ini?

Semangkuk kecil sekoteng kunikmati di seberang sebuah masjid besar. Ya, memang kontras. Apalagi kalau dibandingkan dengan badanku yang besar.

Dalam remang-remang lampu bohlam kuamati orang-orang di seberang sana. Beberapa perempuan berkerudung terlihat berhamburan keluar halaman masjid. Tepatnya tiga, masing-masing berkerudung putih, ungu, dan merah jambu.

Si perempuan berkerudung merah jambu itu tampak sekali sedang terburu-buru. Meski dari kejauhan, aku tetap dapat melihat dua buah garis pada wajahnya yang menandakan begitu.

Perempuan Berkerudung Merah Jambu: (lari terbirit-birit meninggalkan dua kawannya, menoleh ke belakang ke arah dua kawannya itu) “Dadah!”

Perempuan Berkerudung Putih dan Perempuan Berkerudung Ungu: (melambaikan tangan) “Wa’alaykumussal├óm!”

Kusaksikan sendiri dari kedua mataku yang telanjang ini bahwa si perempuan berkerudung merah jambu itu berkelebat menjauhi kedua kawannya. Suatu hal yang penting tampaknya harus segera ia buru. Bisa jadi ia berlari mengejar kereta. Tak mungkin pula rasanya ia mengejar gunung karena sudah pasti ia tahu takkan lari pula gunung dikejar.

Melalui sepasang telingaku yang menguasai Jurus Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang dapat pula kuketahui bahwa kedua kawan si perempuan berkerudung merah jambu itu sengaja menyindir. Terburu-buru mengejar sesuatu bukanlah penghalang bagi kita untuk terlebih dahulu melemparkan salam perpisahan.

Selamat mamam! Nyam nyam…

Antara Wanita, Busway, dan “Secara”

Menarik sekali apa yang diberitakan dalam salah satu kolom di koran Republika edisi hari ini, Jumat, 4 April 2008. Pada halaman 16 tertulis judul “90 Persen Perempuan Setuju Busway Khusus Wanita.” Menarik sekali, karena dari judul tersebut terdapat dua kata yang mengacu kepada objek yang hampir sama: perempuan dan wanita.

Menurut KBBI Daring, perempuan mempunyai arti pertama orang (manusia) yg mempunyai p*k* //wah, nggak bener juga nih kamus//, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui; wanita. Sedangkan wanita berarti perempuan dewasa: kaum — , kaum putri (dewasa). Sedikit yang dapat kutangkap adalah bahwa kata “perempuan” digunakan sebagai jenis gender, lawan dari jenis kelamin laki-laki. Sedangkan wanita merujuk pada kaum. Jadi menurutku, judul tadi tersebut agak gimanaaa geto. //Hehe, sok pinter aja nih.//

Whatever, lah. Yang jelas, aku setuju dengan rencana pengadaan busway khusus untuk kaum perempuan tersebut. Alasan pertama adalah aku sudah capek untuk berdiri di busway. //Hehe, dasar egois.// Sesuai etika yang berlaku umum di masyarakat //ga juga gitu, deh// sebagai anggota kaum adam, aku harus mengikhlaskan diri untuk mempersilakan kaum hawa duduk sementara aku harus berdiri //dalam keadaan dimana busway penuh sesak orang di dalamnya//. Jadi dengan adanya busway khusus ini, diharapkan kesempatan bagi diriku duduk nyaman di dalam bus menjadi semakin besar. //Hehe. Sekalian aja diadakan busway khusus manula.//

Yang paling menarik dari artikel tersebut adalah tulisan pada paragraf kedelapan. Di situ ditulis:

“Pasalnya, penerapan ini membutuhkan pertimbangan yang matang dan baik. Misalnya pada busway koridor I (Blok M-Kota), secara jumlah penumpang merupakan yang paling tinggi.”

Coba cermati kalimat kedua. Bagaimana itu editornya? Secara ini ada di dalam koran nasional, gitu loh.

(^_^)v

Dah, ah. Dah sore. Pulang dulu. Have a nice weekend….