Terbawa dari Kota Gudeg

Sungguh kenangan yang istimewa bepergian ke Yogyakarta tempo hari kemarin.

Berikut ini adalah beberapa kepingan kenangan tersebut. Tentu saja yang ingin kutunjukkan kepada kalian di sini adalah yang aneh-aneh atau yang absurd. 😛

Bencong Pengamen Ewer-Ewer
Bencong Pengamen Ewer-Ewer

Sudah banyak kudengar dari rekan-rekan kantor tentang legenda hidup Bencong Pengamen Ewer-Ewer yang seringkali muncul di kereta api ekonomi tujuan ke Yogyakarta. Katanya sosok itu akan muncul saat pagi tatkala kereta melintas di daerah Wates. Lanjutkan membaca “Terbawa dari Kota Gudeg”

Jalur Kereta

Berada di dalam sebuah gerbong kereta api yang hobi berhenti ini membuatku berpikir: Apakah kegunaan batu-batuan di sekeliling rel kereta api?

Sudah banyak kujumpai makhluk-makhluk unik dalam seperjalananku. Di antaranya adalah perempuan jejadian yang dapat bergoyang heboh dan menghebohkan penumpang di hadapanku. Haha.

Baiklah. Doakan aku selamat dan lancar dalam perjalanan. Sekian.

If {Duty} Then Goto {Sorowako}

Baiklah, akan kuceritakan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kamis subuh kemarin itu kami bergegas ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Akan naik pesawat yang 05.30 WIB menuju Makassar terlebih dahulu.

Maka beginilah pemandangan cakrawala yang kutatap dari dalam pesawat:

Waktu pagi di atas Laut Jawa
Waktu pagi di atas Laut Jawa

Di dalam pesawat kami dilayani dengan baik oleh para pramugari berkaki jenjang berikut ini: Lanjutkan membaca “If {Duty} Then Goto {Sorowako}”

Ketika … Ini

Baiklah.

Ketika tulisan ini diturunkan, bisa jadi aku sedang berada di atas laut, kemungkinan Laut Jawa, demi berada di dalam sebuah pesawat yang dikendarai dan dikepalai oleh bapak pilot beserta asistennya, sehingga aku dapat dilayani oleh kakak-kakak pramugari berkaki panjang sekadar minta dituangkan secangkir kopi atau segelas susu.

Aku tahu bahwa kalimat di atas sangatlah panjang, demikian pula halnya dengan perjalananku kali ini. Kuharap segala sesuatu dalam perjalanan ini dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana dan kami direstui oleh Yang Maha Kuasa untuk dapat menjejakkan kaki kembali di Jakarta dalam keadaan sehat walafiat tanpa berkurang suatu oleh-oleh apapun.

Bahwa sesungguhnya ingin sekali aku memotret awan yang kubayangkan sangatlah putih dan bersinar, kemungkinan juga lembut, selembut kapas namun tidak menyesakkan. Aku pun ingin sekali berfoto bersama seorang kakak pramugari berkaki panjang agar dapat kucetak untuk kemudian kujadikan poster lantas kutempelkan di dalam ruangan kerjaku di kantor. Kuharap judul “Melangkah Pasti di Atas Awan, Menjemput Angan” akan mempercantik poster itu.

Tapi, apakah aku cukup berani dan percaya diri untuk melakukan hal itu?

Apapun itu, kuucapkan selamat jajan.

Farijsvanjava, pada hari kemarinnya, saat sedang berharap-harap cemas menanti kedatangan tiket.

Perjalanan Terbaik

Pekan keempat bulan Februari. Senin Kliwon ini aku sarapan dengan lima potong roti.

Seperti inilah topik Post a Day hari ini:

Describe the best road trip you’ve ever taken.

Bonus: If you’re feeling all glass half empty, the worst road trip. Or describe a road trip you’d like to take and why you want to take it.

Perjalanan darat terpanjang yang pernah kualami adalah ketika liburan kenaikan kelas 2 SMA: Darmawisata ke Bali! Berhubung berkas catatan perjalanannya telah terhapus dari komputer dan sudah tidak mungkin dibangkitkan kembali, juga karena sebagian besar ingatanku tentang perjalanan itu terhapus pula bersamaan dengan lenyapnya berkas catatan perjalananan itu, maka liburan ke Bali itu tidak bisa dikatakan sebagai perjalanan darat terbaikku. 😦

Awal bulan April tahun lalu aku dan kawan-kawan The Penampakanz melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta. Perjalanan dimaksudkan sebagai kunjungan balasan atas kunjungan kolega kami dari Kota Gudeg itu dua bulan sebelumnya. Selain itu kami juga bermaksud menjadikan beberapa area di Yogyakarta sebagai latar belakang dalam dua film yang akan kami buat. Yak! Benar sekali, kami syuting di Jogja!

Berangkat dari Jakarta menggunakan sebuah mobil dan supir sewaan. Total kami berenam, termasuk supir sewaan bernama Kang Badi. Perlu aku sampaikan di sini bahwasanya Kang Badi ini adalah seorang supir yang “gila”. Betapa tidak gila, hobinya mengebut, memanuverkan mobil ke kiri dan kanan secara cepat, dan menglakson sepeda-sepeda motor yang ada di depan dan samping mobil kami. Kang Badi telah sukses membuat kami menjadi semakin mendekatkan diri pada Sang Khalik dalam perjalanan itu.

Sepanjang perjalanan kami bernyanyi dan bercanda ria. Sesekali kami mengelus dada dan beristighfar manakala Kang Badi menyalip truk atau bus di depan kami dengan kecepatan yang luar binasa. Yah, dalam perjalanan itu kami semua bergembira.

Tak banyak yang ingin kuceritakan mengenai perjalanan ini. Yang jelas kami di sana berhasil menyelesaikan syuting film pendek perdana kami yang berjudul “Wasiat”. Kami berkunjung ke kompleks Candi Prambanan, Pantai Parangtritis dan Pantai Depok, Jalan Malioboro, Pasar Beringhardjo, Tamansari, dan objek-objek menarik lainnya di Yogyakarta.

Meski sangat menguras tenaga, kami puas. Kami bergembira. Aku berharap semoga pada kesempatan lain dalam perjalanan hidupku bisa bersama-sama lagi dengan mereka melakukan perjalanan yang serupa. Entah ke Jogja lagi, entah ke kota lain. Entah tahun ini, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi.

Maka berikut inilah sedikit dokumentasi perjalanan waktu itu:

Gadis vs Pemuda: Kanibal

Dari balik jendela sebuah kamar terlihat purnama yang indah bertengger di langit malam nan cerah. Malam begitu hening hingga bunyi-bunyi jangkrik terdengar sampai ke dalam kamar. Di kamar tersebut terdapatlah seorang pemuda sedang berbaring sembari memegang sebuah ponsel. Ah, hawa Pekalongan yang sejuk memang sungguh melenakan.

sang_pemuda: meoong

si gadis: moo

sang_pemuda: lagi dimana? di rumah?

si_gadis: iya, kak. ga di rumah sih. di rumah temennya ibu
si_gadis: udah bunuh berapa orang, kak?

sang_pemuda: hmm? dua. ni mau tiga.

si_gadis: besar-besar, ga? nanti aku yang masakin, ya

sang_pemuda: boleh.

si_gadis: enaknya dimasak apa, ya?

sang_pemuda: mmm… digoreng ato disate juga boleh

si_gadis: oke
si_gadis: eh, kak. perjalananku mudik seru banget!

sang_pemuda: seru? tapi ga pake jatoh, kan?

si_gadis: mau denger, ga?

sang_pemuda: mau

si_gadis: perhatiin, ya

sang_pemuda: oke

si_gadis: tangannya di meja, pandangan ke depan

sang_pemuda: baik, bu guru

si_gadis: dimulai dengan aku mengorbankan 1,25% TC (PSW //pulang sebelum waktunya//)
si_gadis: tujuan, terminal pulogadung

sang_pemuda: terus? Lanjutkan membaca “Gadis vs Pemuda: Kanibal”