Masa Depan yang Aneh

Banyak orang memikirkan dan membayangkan bagaimana teknologi menguasai kehidupan manusia di masa depan. Ada yang membayangkan kelak kita akan tinggal di gedung-gedung yang melayang, ada yang membayangkan kelak kita punya peliharaan berupa robot, ada pula yang membayangkan kelak kita mandi tidak pakai air lagi.

Sah-sah saja memikirkan masa depan semacam itu. Mengapa?

Lantas bagaimana halnya dengan masa depan yang penuh dengan augmented reality? Barangkali pemikiran ini yang belakangan tenar karena kedatangan Kacamata Google.

Berikut ini adalah sebuah video dari Sight Systems yang dapat memudahkan pembayangan kita bagaimana kelak masa depan umat manusia apabila konsep aplikasi, permainan video, dan augmented reality yang menjadi primadona:

Kalau demikian yang benar-benar terjadi di masa depan, dunia ini bukanlah lagi sandiwara seperti yang dilagukan Nike Ardila melainkan adalah permainan.

Baca juga tulisan yang berkaitan berikut ini:

Kutipan Pekan Ini: Waktu

Beginilah pendapat Pidi Baiq yang menjawab semaunya perihal masa:

Lantas bagaimanakah konsep waktu menurut Pidi Baiq ini jika dipersandingkan dengan konsep waktu menurut Doraemon?

Kutipan Pekan Ini: Selera Bahagia

“Silakan bahagia sesuai dengan seleranya masing-masing,” begitu katanya. Haha. Setelah kurenungkan masak-masak, ternyata memang benar bahwa manusia memiliki selera masing-masing dalam berbahagia. Ada yang berbahagia dengan hanya makan nasi-garam. Ada yang berbahagia dengan hanya melihat kucingnya kekenyangan. Ada yang berbahagia dengan hari hujan. Ada pula yang berbahagia dengan mempergunjingkan tetangga depan.

Kalian boleh berbahagia, Saudara. Silakan saja, bebas-bebaslah berbahagia. Asalkan jangan berbahagia di atas penderitaan orang lain. Misalnya berbahagia makan bekal kawan kerja sementara dengan begitu si kawan kelaparan.

😀

Sepi

Duduk seorang diri di sebuah toko donat. Ah, kok tiba-tiba jadi sepi?

Pas sekali, karena sekarang aku sedang membaca bukunya Happy Salma dan Pidi Baiq “Hanya Salju dan Pisau Batu” tepat pada halaman 98. Haha.

SEPI: PIDI BAIQ

Ada yang ingin dirinya berada di tempat yang sepi, salah satunya tentu saja adalah maling. Bagi maling keadaan dan situasi yang sepi adalah justru emas. Adalah kesempatan untuk menunaikan niat jahatnya. Selain maling, ada lagi yang ingin dirinya berada di tempat sepi, yaitu dua orang yang sedang berpacaran […]. Selain itu ada lagi, yaitu orang yang melakukan tapa. […]

Di tempat sepi, maling justru tidak pernah merasa kesepian. Di tempat sepi, dua orang yang berpacaran justru tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, yang tapa justru mendapati gairah diri yang menggelora, dia tidak merasa kesepian. Di tempat yang sepi, seekor undur-undur justru mendapati dirinya begitu nyaman, dia tidak merasa kesepian. […]

Tidak pernah merasa kesepian di tempat yang sepi, disebabkan oleh karena mereka menikmati dan menghendaki saat-saat seperti itu, sebagai suatu keadaan yang justru menyenangkannya. […] Karena yang tapa malah berharap tak ada orang yang mengganggu konsentrasinya.

Saya sendiri juga ada saatnya suka di tempat yang sepi, salah satunya kalau sedang buang air besar di toilet, tetapi bukan untuk mendapati diri merasa kesepian. Kalau cuma mau merasa kesepian, sih, tidak harus berada di tempat yang sepi. Di tengah keramaian juga bisa, […], syaratnya gampang, yaitu harus mau merasa sedang dijauhkan dari orang-orang yang selalu memperhatikan, yaitu orang-orang yang sedang tidak bersamamu dan jauh, di tempat lain yang berbeda, tidak kumpul bersama-sama denganmu. […] Syarat lainnya, yaitu harus merasa terkucil, harus merasa tersisih, padahal biasanya tidak. […] Harus merasa diabaikan.

Seorang maling sampai kapan pun tidak akan merasa kesepian selama dia berani mengambil keputusan memanfaatkan keadaan. Itu sama dengan ketika saya berada di dalam toilet sendirian, menjadi tidak merasa kesepian ketika fokus pada apa yang sedang saya lampiaskan.

[…]

HANYA SALJU DAN PISAU BATU, halaman 98-99.

Entah mengapa tulisan ini seperti ingin menasihatiku. Haruskah aku ternasihati?

Aku sedang merasa sepi. Aku sedang ingin merasakan kesepian.

Sampai jumpa, hari-hari yang ceria.

Nani tte?

Ketika aku memosting tulisan ini, sudah pasti bukanlah pada malam hari segera setelah tulisan ini rampung kuketik pada iRhyme-ku.

Adalah pada suatu malam tanpa kedipan bintang dan sorotan sinar rembulan karena mendung tulisan ini kuketik dalam keadaanku yang berbaring dan kebelet buang air kecil. Maka aku pun pergi ke kamar kecil, yaitu kamar yang di dalamnya tidak terdapat urinoir ataupun jamban melainkan selubang toilet bernama Mister Toto.

Setelah kesenian itu kusalurkan dengan cara yang elegan, aku pun kembali menjamah iRhyme-ku agar supaya bisa melanjutkan mengetik tulisan ngawur ini.

Hanya Salju dan Pisau Batu adalah sebentuk tulisan nyentrik karya Happy Salma dan Pidi Baiq. Mengapa buku itu diberi nama begitu? Tak lain tak bukan adalah agar supaya ada orang yang mempertanyakan kesamaan inisialnya dengan inisial nama kedua pengarangnya. Begitulah yang kupikirkan.

Dari radio aku pun tahu kalau sudah pukul 23 ketika kuketikkan baris ini. Maka aku pun tahu dari radio itu juga kalau Piano Concerto No. 2-nya Beethoven dimainkan pertama kali di Wina pada tahun 1795 tarikh Masehi.

Malam ini aku telah melahap dua potong ayam yang renyah dari Ayamnya Jago karena dari kemarin aku mengidamkannya. Adalah kenyang yang tercipta setelah itu dan aku tidak dapat tidur karenanya. Jadi memang bukan karena seharian tadi aku banyak tidur maka aku terserang insomnia lagi.

Aku pun iseng pindah saluran. Ada petikan-petikan harpa di suatu saluran. Mirip piano pula rupanya. Dan memang piano itu sebenarnya terdiri atas senar-senar panjang yang menyerupai harpa pula. Ternyata di harpa pun ada pijakannya. Seperti piano pula. Bahkan ada tujuh!

Rumit sekali ternyata bermain harpa. Serumit bahasa Jerman, kata seorang narasumber dalam acara di saluran radio yang lain.

Kata si narasumber itu, orang Jerman itu adalah orang yang paling taat aturan. Bahkan dalam persoalan berbahasa, orang-orang Jerman dalam kesehariannya selalu memakai bahasa yang baku, persis sama sebagaimana guru bahasa mereka mengajarkannya di sekolah.

Waktu tahun terakhir SMA dulu sempat kudengar kabar yang mewartakan bahwa kata-kata bahasa Jerman yang panjang-panjang itu akan disederhanakan. Dipangkas agar supaya ringkas, mudah dipelajari, dan efisien serta hemat penggunaan tinta dan kertas. Waktu itu sih katanya sudah diujicobakan secara resmi, meski kata-kata sebelum penyederhanaan masih tetap berlaku.

Terkait katanya si narasumber tadi, apakah orang Jerman itu dapat menerima secara cepat penyederhanaan kata dalam bahasa mereka itu? Kelanjutannya sendiri bagaimana? Apakah program penyederhanaan itu telah sukses diberlangsungkan?

Ah, tiba-tiba jadi teringat isu redenominasi mata uang Rupiah. Seandainya itu benar-benar dalam waktu dekat diterapkan, sudah pasti gajiku susut tiga digit. Menyedihkan.

Sudah pukul 23.30 dan musiknya berganti dari Beethoven menjadi Chopin, Waltz No. 3, nada dasar A Minor. Maka aku pun mencopot earphone Kak Ria di kuping kananku lantas menggantikannya dengan earphone iRhyme-ku ini. Hingga bercampurlah bunyi Polonaise-nya Chopin di kuping kanan dengan Waltz No. 3 di kuping kiri.

Mulutku menguap dan mataku berair. Itulah caranya Insomnia untuk pamit pergi pulang ke kandangnya. Lanjutkan membaca “Nani tte?”

Radio Melahap Buku

Tadi malam iseng-iseng kunyalakan radio pada Kak Ria, ponselku. Sudah lama sekali sepertinya aku tidak melakukannya.

Dulu waktu kuliah aku sering mendengarkan radio. Sembari menanti waktu kuliah, atau ketika malam harinya. Utamanya acara Delta Siesta yang kemudian berubah nama menjadi Indonesia Siesta di Radio Delta FM Jakarta. Setiap hari kerja, pukul 10.00 s.d. 14.00 WIB kalau tidak salah.

Penyiar utamanya Shahnaz Haque. Kalau awal-awal ada pula Miing Bagito yang menemaninya. Lantas ada reportase dari penyiar-penyiar Delta FM beberapa kota, seperti misalnya Gilang Pambudi dari Delta FM Bandung. Aduh, kocak sekali orang itu.

Waktu awal-awal kerja, untunglah seruangan dengan ibu bos penggemar Indonesia Siesta pula. Jadi kalau waktu-waktu segitu ya di ruangan bisa menyimak ocehan-ocehannya Shahnaz Haque dan kawan-kawan via radio si ibu bos. Oke, kuakui memang seleraku beberapa tingkat di atas sewajarnya usiaku. 😀

Jadi kangen masa-masa itu. Sekarang sih sepertinya acara itu sudah tidak ada. Atau masih ada dan pindah waktu siar saja? Entahlah.

Kembali lagi di awal. Semalam iseng saja kuhidupkan radio. Loncat gelombang sana loncat gelombang sini, eh tersangkut di gelombang 92.0 FM Radio Sonora Jakarta. Sedang ada acara Lagu Legenda Nusantara, kalau tidak salah ingat.

Betul sekali, di acara itu diputarlah lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bers. Khusus malam tadi lagu-lagu yang diputarkan semua berhubungan dengan wanita. Memperingati Hari Kartini barangkali.

Aduh, langsung merasakan nostalgila ketika lagu Oh Lala diputarkan.

Tanda mata darimu untukku
Akan selalu mengingatkanmu
Oh Lala
Oh Lala

Koes Plus – Oh Lala

Kemudian ada lagi lagunya Koes Plus dalam bahasa Jawa: Lanjutkan membaca “Radio Melahap Buku”