Kutip Mengutip

Terkadang, kalau hatiku sedang resah, aku membuka-buka Plurk lama yang berisi bagian-bagian masa lalu. Seringkali dengan membaca-baca kalimat-kalimat terdahulu, jiwaku menjadi tenang dan berkurang kegelisahan hati. Bahkan, tak jarang aku menemukan kalimat-kalimat dahsyat yang bisa kukutip sebagian di antaranya:

“women LOOOOVESSSS knowing a MAN would FIGHT or even DIE 4 her! In case he died, meski tu CW lalu menikah dgn yg lain, kau sllu dikenang”

“gw yakin bgt dia mau sama elu, tapi elu kan kadang nyebelin, ngeselin, ngebetein, gak peka, sok cuek, sok gak peduli, sok kambing”

kita kan udah keluarga, jadi gak perlu dikenal2in lagi”

“Dari seberang telepon sana, saudara jauh berkata, ‘Ya sudah, kalo gitu, mau nggak kalo kamu dikawinin sama orang tua?’ Aku pun menjawab, ‘Maaf, Mas. Saya ga mau dikawinin sama orang tua. Saya masih doyan orang muda.'”

Sampai ada pula yang begini:

“mencabut bulu ketiak itu wajib hukumnya…”

Ah, masa lalu yang menyenangkan ini memang patut dikenang.

farijsvanjava pikir sepertinya ada yang salah dengan kaki kirinya…

//Hwehe. Ketahuan deh kecanduan nge-plurk-nya.//

Rusak lagi, rusak lagi. Rusak sekali lagi. Sekali lagi rusak. Lagi-lagi rusak sekali. Begitulah, Saudara-saudara. Sepatuku kembali rusak. Selama setahun ini sudah terhitung empat kali aku berganti sepatu. Beli sepatu baru, beli sepatu baru lagi. Boros sekali. Semuanya gara-gara sepatu-sepatu itu cepat rusak.

Sepatu pertama kulitnya terlepas dari sol. Sudah kujahitkan pada tukang sol sebenarnya. Tapi setelah beberapa waktu kupakai, kulitnya ternyata tidak kuat menahan benang jahitan tadi: kulitnya sobek! Akhirnya aku takut memakai sepatu itu. Takut kalau-kalau solnya tertinggal sewaktu aku berlari di koridor kantor. Kurumahkanlah ia.

Sepatu kedua kupensiunkan dini karena ia sudah berubah menjadi semacam buaya: menganga! Antara dasar sepatu dengan sol tidak lagi menyatu. Karenanya sepatu “buaya” itu sudah tidak nyaman kupakai. Sudah tak sedap pula dipandang mata. Mengerikan!

Sepatu ketiga harus menjadi penghuni sudut kamarku ketika kulitnya sudah banyak terkelupas. Yang lebih parah adalah pada bagian tekukan jari-jari kaki, kulit tersebut nyaris sobek dan berlubang. Khawatir akan menjatuhkan harkat dan martabat serta pamor instansi kantorku, karena tak ada pula tukang tambal ban kulit sepatu, sepatu itu pun kuganti dengan sepasang sepatu baru. //Halah, lebay capcay dicampurcabay!//

Sepatu keempat ini, apakah harus ku-PHK juga, Saudara-saudara? Sekarang sepatu itu dalam kondisi kritis. Sol sepatu pada bagian tekukan jari-jari kaki sudah terbelah. Sol tersebut nyaris bercerai menjadi dua bagian! Nah, apakah harus kubeli lagi sepatu baru atau kulem saja sol tersebut, Saudara-saudara? Perlu Saudara-saudara ketahui, ini adalah kali pertama aku membeli sepatu “dinas” dengan alas karet seperti pada sepatu olahraga.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun lebih beberapa bulan keempat sepatu itu “hancur” kuinjak-injak, Saudara-saudara. Dan yang lebih mengejutkan, Saudara-saudara! Keempat pasang sepatuku itu hanya rusak di sepatu sebelah kiri! Kena apa?! Ada apa dengan kaki kiriku, Saudara-saudara? Apakah ia terkena kutukan? Ataukah memang semua sepatu sebelah kiri lebih jelek mutunya daripada sebelah kanan?

Kuakui dalam memakai sepatu aku termasuk tipe barbar yang semena-mena terhadap sepatu. Sudah beruntung mereka rela kuinjak-injak sepanjang hari, masih saja suka kupakai untuk menendang batu atau kaleng di tepi jalan. Belum lagi sepatu yang semestinya dipakai di ruangan berlantai mengkilap atau berkarpet empuk itu malah kupakai untuk berjalan di tepi jalan tak beraspal tak bertrotoar. Ditambah sering pula kupakai untuk skipping /meloncat-loncat/, jogging /lari-lari kecil/, running /lari-lari besar/, breaking /mengerem setelah lari besar/, kicking /menendang sepatu yang sebelah alias tersandung/, hingga kencing /pipis, karena ke toilet kantor pun harus tetap memakai sepatu/.

Ah, tak habis pikir aku. Kena apa dengan sepatu kiriku?

Rawamangun
Ahad malam, 11 Januari 1430
Pukul 23 kurang beberapa menit

ttd

Farijs van Java,
Di sela-sela menuntaskan tugas kantor yang deadline-nya adalah besok pagi.
//Oh, somebody help me! I need more coffee!//

v(^_^)

===

NOTABENE:
Sepatu-sepatu dalam kisah di atas semuanya berjenis kelamin pantofel /pantofel = sepatu yang bagian atasnya tertutup (tanpa tali), mudah dipakai dan dilepas/ dan termasuk dalam kelompok ras kulit hitam. Sepatu-sepatu semacam ini mudah kita suai di toko-toko sepatu, baik yang berada di dalam mal-mal pusat perbelanjaan atau pun ruko-ruko margin jalan.

Mudah juga kita temukan di tempat-tempat penumpangan alas kaki di masjid-masjid besar di kota ini pada hari Jumat ketika matahari tepat berada di atas ketua kita. Atau bisa juga dengan mudahnya kita tonton setiap pagi, sekira pukul 10-an, teronggok lesu di kolong meja pada kantor-kantor karena pemiliknya lebih senang berselingkuh dengan sandal hotel atau sandal jepit. Hidup send-all!!

Captain Farijs van Java is speaking…

Selamat sore, Bapak, Ibu, beserta Saudara-saudara sekalian. Atas nama Perkutut Indonesia, Kapten Farijs van Java dan seluruh bidadari awak kapal mengucapkan selamat datang di pesawat Boeang 737 seri 400 yang sudah karatan ini. Penerbangan ini adalah penerbangan PE 241 dengan tujuan Jakarta. Dan penerbangan ke Jakarta akan ditempuh dalam waktu 52 menit. Tentunya jikalau kita semua selamat dan tidak terjatuh ke dalam neraka.

Sebentar lagi kami akan memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan penerbangan beserta petunjuknya. Sekarang silakan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, dan melipat meja yang masih terbuka. Serta semua telepon selular dan berbagai jenis pesawat radio mohon dimatikan selama berada di dalam pesawat. Dan bagi para penumpang kami yang duduk di dekat jendela-jendela darurat dimohon untuk mengecek kartu intruksi khusus yang berwarna kuning yang terdapat dalam kantong kursi di depan Anda. Terima kasih dan selamat menikmati penerbangan ini.

Hoho. Akhirnya belajar terbangku berjalan dengan sukses. Alhamdulillâh. Terima kasih atas doa dan dukungan Saudara-saudara sekalian.

Bapak dan Ibu yang terhormat, sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan sipil kami akan memperagakan cara penggunaan sabuk pengaman, bagaimana menguncinya, mengeratkan sabuknya, kemudian melepaskannya.

Pesawat ini memiliki empat pintu darurat. Dua di sebelah kanan dan dua di sebelah kiri. Pesawat ini juga dilengkapi empat jendela darurat. Masing-masing dua buah di setiap sisi.

Dalam keadaan darurat lampu di lantai akan menyala untuk menuntun Anda menuju keluar.

Baju pelampung ada di bawah kursi Anda. Dan hanya dipakai pada pendaratan darurat di air. Kalungkan melalui kepala kemudian kancingkan dan eratkan. Tarik sekerasnya kedua buah talinya untuk mengembungkan sesaat sebelum Anda keluar dari pesawat. Jika Anda keluar melalui jendela darurat, kembungkan pelampung setelah Anda berada di atas sayap. Baju pelampung dapat juga dikembungkan dengan meniup pipa karet. Lampu akan menyala jika baterai lepas dan baterai terlepas dalam air.

Apabila tekanan udara di kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar secara otomatis dari tempatnya sehingga terjangkau. Tetaplah duduk dan kenakan sabuk pengaman. Tarik masker ke arah Anda untuk mengalirkan oksigen. Pasang masker menutupi mulut dan hidung, kalungkan di kepala dan bernafaslah seperti biasa. Pakailah masker Anda terlebih dahulu sebelum Anda menolong yang lainnya.

Selanjutnya di setiap kantung kursi tersedia kartu intruksi mengenai cara-cara penyelamatan diri dalam keadaan darurat. Silakan membacanya dengan saksama.

Terima kasih atas perhatian Anda.

Akhir-akhir ini tidak sempat ngeblog. Kena apa? Ya, mungkin benar apa kata orang-orang. Plurk ternyata memang dapat membuat orang terlena. Plurk dapat membuat blog seseorang menjadi terbengkalai! Karena itu, mulai sekarang aku bertekad akan…akan nge-plurk terus! Hwahaha….

(^_^)v

Saudara-saudara, silakan kunjungi halaman Plurk-ku. Di situlah segala perjalanan hidup seorang Farijs van Java dalam usaha menggapai mimpi tercatat dan terbukukan dengan rapi. Semangat! Bersemangatlah!

p(^ ^)q

Bapak dan Ibu yang terhormat, kita akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Waktu setempat sedang menunjukkan pukul 4 kurang 4 menit di sore hari. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Neraka.

Silakan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan menguncinya. Bapak-Ibu yang duduk di kelas eksekutif sandaran kaki dipersilakan dikembalikan ke tempat semula.

Terima kasih.

Setelah kembali dari Semarang, banyak sekali kesibukan menghadang. Rentetan tugas dari bos datang mendera; bertubi-tubi hingga aku hampir tak tahan lagi.

Masih banyak beragam baris-mati yang menantiku, bahkan setelah kegosongan menimpa lengan dan wajahku. Hari-hariku selalu dipenuhi dengan beragam tekanan dunia kerja. Sungguh melelahkan. Penat. Segalanya terasa berat. Bahkan untuk hanya sekadar rehat.

Namun akhirnya aku menyadari akan satu hal, Saudara-saudara. Tentang keikhlasan. Keikhlasan memang dahsyat. Ia bukan hanya bukti kehambaan yang luar biasa tinggi kepada Sang Maha, namun juga tanda bersyukur atas segala pemberian-Nya. Segalanya terasa ringan tatkala keikhlasanlah yang dibawa-serta; bukan keluh kesah, bukan pula saling menyalahkan. Tak perlu menuntut orang lain menghargai jerih payah kita, Saudara-saudara. Tak perlu pula orang lain tahu akan segala usaha kita. Berpikir bahwa Allâh mengetahui segala yang kita lakukan, itu sudah cukup.

Karena itu mulai sekarang ikhlaslah dalam bekerja, Saudara-saudara. Segala lelah takkan terasa tanpa keluh kesah. Segala bahagia akan tercipta dengan sendirinya; ketika kita ikhlas, ketika kita semangat. Yo! Semangat ikhlas!

(^_^)v

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang terhormat, selamat datang di Jakarta. Kota metropolitan ibukota negara Indonesia, yang hobinya macet, berlangganan banjir, dan biang demonstrasi massal. Cuaca di bandara sekarang terang-benderang. Suhu udara mencapai 40 derajat Celcius, bukti bahwa Jakarta menyambut dengan hangat atas kedatangan Anda.

Sebelum meninggalkan pesawat kami anjurkan untuk memeriksa kembali barang-barang Anda. Kapten Farijs van Java mengucapkan selamat berpisah dan terima kasih atas penerbangan Anda bersama Perkutut Indonesia.

Mulai Senin ini aku akan mengikuti pendidikan. Tak lama, hanya dua pekan. Barangkali blog ini akan terbengkalai lagi. Atau bisa jadi akan ramai kembali. Atas segala hal yang mungkin terjadi, mohon doa dan dukungan dari Saudara-saudara. Onegai!

Ganbatte!

(^_^)v