Lelah Malam

Gerimis, Saudara. Cukup tebal mendung di angkasa. Sampai-sampai susah mendapatkan sinyal GPS.

Rasanya semakin lemah saja badan ini, Saudara. Pengaruh apa, ya? Oh iya. Seharian ini tenaga dan pikiran memang banyak sekali terkuras. Mengapa pula dikatakan terkuras untuk tenaga dan pikiran, ya? Tak bisakah disebut menyusut saja?

Menunggu pemutakhiran WordPress for BlackBerry, lama sekali. Kapan ya keluar? Biar aku nggak ngiri sama pemakai WordPress for Android, gitu loh.

Farijsvanjava,
Dalam kegelapan malam, sembari terbujur sakit.

Panas Dingin

Beberapa hari belakangan ini cuaca makin tidak menentu kurasa. Sebentar terik, sebentar mendung. Kadang pula turun hujan.

Seperti hari ini saja, tadi pagi terik sekali. Siangnya mendung, meski masih terasa panas. Sore hari turun hujan. Malam ini mendung lagi. Entahlah, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.

Angin bertiup kencang-kencang di sini. Menyeramkan. Sementara aku dalam kondisi menahan lapar, duduk di sebuah warung tenda menunggu hidangan ayam bakar siap disantap.

Kondisi sebentar panas sebentar dingin ini sepertinya mengusik ketahanan tubuh sebagian (besar) orang. Termasuk diriku, tentu saja. Biarpun kata orang badan penuh daging dan lemak begini, yang seharusnya kebal terhadap kondisi cuaca apapun, tetap saja aku hanya manusia biasa. Penyakit tidak dilarang menjamah tubuhku. Kan begitu? Lanjutkan membaca “Panas Dingin”

Catat

Ingin rasanya aku menjelaskan sesuatu perkara penting kepada kalian. Namun mengingat rapuhnya tubuh ini, maka harap dicatat saja bahwa hari ini aku gembira telah melakukan hal-hal yang menyenangkan.

Sebebasnya aku dari satu perkara menjemukan sejak kemarin itu, aku bertekad untuk mempelajari hal-hal yang baru. Bagiku sangat menyenangkan apabila hal-hal yang baru akan selalu menjadi hal-hal yang baru dengan mengganti arah sudut pandang pemikiran.

Mungkin kalian tidak mengerti apa yang kukatakan barusan. Maka harap dicatat saja bahwa Anak Semua Bangsa akan kembali kubaca segera setelah aku terbangun dari tidurku akibat kantuk yang ditimbulkan oleh obat ini. Entah tengah malam, entah dini hari nanti.

Apelmu di Anggurku

Apel dan Anggur

Apel dan Anggur

Sarapan siang adalah istilah baru yang kuusulkan sebagai alih bahasa dari kata bahasa linggis ‘brunch’. Maka yang menjadi sarapan siangku hari ini adalah sepotong apel dan empat buah anggur ini. Tentu banyak dari kalian yang spontan berujar, “Mana Kenyang?” Memang tidak kenyang, Saudara. Tetapi, apapun, aku bersyukur mendapatkannya.

Cara Kreatif

Dikatakan dalam Life On Michigan Ave bahwa terdapat 29 cara untuk tetap kreatif.

Ke-29 cara tersebut aku alih bahasakan secara suka-suka sebagai berikut:

  1. Buatlah daftar.
  2. Bawalah buku catatan ke mana saja.
  3. Cobalah menulis bebas.
  4. Hindarilah komputer.
  5. Berhentilah menghukum diri sendiri.
  6. Rehatlah sejenak.
  7. Menyanyilah di kamar mandi.
  8. Minumlah kopi.
  9. Dengarkanlah musik baru.
  10. Terbukalah.
  11. Berkumpullah dengan orang-orang kreatif.
  12. Mintalah tanggapan.
  13. Berkolaborasilah.
  14. Jangan pernah menyerah.
  15. Berlatih, berlatih, dan berlatih.
  16. Bolehkan dirimu berbuat salah.
  17. Pergilah ke tempat baru.
  18. Hitunglah keberuntungan. (?)
  19. Istirahatlah banyak-banyak.
  20. Ambil risiko.
  21. Langgarlah aturan.
  22. Jangan dipaksa.
  23. Bacalah kamus satu halaman.
  24. Ciptakan kerangka kerja.
  25. Berhentilah mencoba menjadi yang sempurna.
  26. Tuliskan segera ketika mendapat ide.
  27. Bersihkan dan rapikan lingkungan kerja.
  28. Bergembiralah.
  29. Selesaikanlah sesuatu.

Sepertinya aku akan terus tersandung pada angka nomor 27. Susah sekali menjadikan kamar dan meja kerjaku untuk senantiasa bersih dan rapi. Padahal sesungguhnya pemandangan yang bersih dan rapi dapat menenangkan hati dan membuat pikiran kita bersih dan rapi pula.

Demikian pula dengan nomor 29. Sepertinya hal itu akan terus menjegalku. Sebagian rintisan proyek kreatifku terhenti di tengah proses. Sepertinya memang membutuhkan lecutan semangat untuk terus maju. Apakah itu?

My Country, Right Or Wrong

Sekilat aku ingat apa yang pernah dikatakan oleh guru Sejarah waktu SMA dulu tatkala bercerita mengenai imperialisme Barat. “Orang Barat sana,” begitu kata beliau, “selalu berpegang teguh pada prinsip ‘right or wrong is my country‘ dan itulah semangat nasionalisme yang membuat mereka kuat dan tak terkalahkan.”

Hari ini kebanggaanku akan negeri ini dan semangat kebangsaanku sedikit terkecewakan. Rupa-rupanya telah banyak pula orang-orang kita yang berkoar-koar tentang jeleknya negeri kita ini di luar negeri. Mereka berkata negeri kita negeri koruptor, lah; negeri kita sarang penyamun, lah.

Kita semua memang tahu di negeri kita masih banyak koruptor. Di negeri kita memang banyak penyamun hidup. Para wakil rakyat masih banyak yang tidak/kurang peka dengan keprihatinan rakyat yang diwakilinya. Memang tidak ada salahnya mengabarkan suatu kebenaran. Akan tetapi aku tidak setuju dengan kecenderungan menjelek-jelekkan. Tidak, di hadapan negeri lain.

Aku sepakat dengan apa yang pernah diucapkan oleh Carl Christian Schurz:

My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right.”

Inilah negeri kita, benar atau salah. Jika benar, tetapkanlah ia selalu benar. Jika salah, ubahlah ia agar benar.

Bahasa Semua Bangsa

Akhirnya kulanjutkan kembali membaca Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kubaca halaman demi halaman, kubalik lembar demi lembar, otakku terpancang pada perkara bahasa.

Kubaca di situ betapa Jean Marais sangat menganjurkan Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, yang dikatakannya sebagai bahasa bangsa Minke sendiri. Kemudian datang pula Kommer kepada Minke yang juga menganjurkan hal yang sama. Mereka sama-sama berdalih betapa bahasa Belanda hanya dimengerti oleh kelompok tertentu, tetapi bahasa Melayu dimengerti oleh bangsa Pribumi. Minke, bagaimanapun, haruslah berbicara kepada bangsanya sendiri yang tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak ramai. Dalam lain kesempatan, Bunda malah menyuruh Minke menulis dalam bahasa Jawa, bahasa leluhurnya sendiri yang harus pula dilestarikan dan dijunjung tinggi.

Perkara berbahasa ini telah lama menggelitik pikiranku. Betapa telah lama kusaksikan banyak orang Indonesia lebih dapat mencurahkan perasaan dan mencetuskan pikirannya dengan bahasa asing. Bukan dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Untuk sekadar menyerapah saja misalnya, alih-alih menggunakan kata ‘*ucing’ atau ‘*angsat’, sekarang orang-orang menggunakan kata ‘*hit’ atau ‘*uck’. Banyak pula yang masih latah menggunakan kata ‘*erdomme’. Lanjutkan membaca “Bahasa Semua Bangsa”

Malam Goreng Kebosanan

Yang terhidu oleh hidung besarku sekarang adalah aroma nasi goreng yang hampir matang di atas penggorengan. Aroma rempahnya menusuk sekali. Sedap. Juga aroma parfum wanita di sebelahku. Begitu menyengat hingga nyaris saja hidungku bengkak.

Baiklah, akan kuceritakan hari liburku ini kepada kalian. Sebagian besar kuhabiskan untuk tidur, beristirahat, dan berbaring. Kena demam; lagi. Maka malam ini kupuaskan untuk sebentar berjalan kaki, menikmati malam tanpa bintang. Tanpa bulan pula. Ya, sekadar menyegarkan diri. Dan mencari sesuap nasi (goreng).

Percayalah, Saudara. Dalam hidup terkadang kebosanan akan muncul dengan sendirinya. Tetapi tak perlu harus mengakhiri hidup untuk melenyapkannya, karena kebosanan akan lenyap dengan sendirinya pula. #omongopoh