Kutipan Pekan Ini: Saudagar

“Pedagang orang paling giat di antara umat manusia ini, Tuan. Dia orang yang paling pintar. Orang menamainya juga saudagar, orang dengan seribu akal. Hanya orang bodoh bercita-cita jadi pegawai, karena memang akalnya mati. Lihat saja diriku ini. Jadi pegawai, kerjanya hanya disuruh-suruh seperti budak. Bukan kebetulan Nabi s.a.w. pada mulanya juga pedagang. Pedagang mempunyai pengetahuan luas tentang ikhwal dan kebutuhan hidup, usaha dan hubungannya. Perdagangan membikin orang terbebas dari pangkat-pangkat, tak membedaka-bedakan sesama manusia, apakah dia pembesar atau bawahan, bahkan budak pun. Pedagang berpikiran cepat. Mereka menghidupkan yang beku dan menggiatkan yang lumpuh.”

Perkataan Thamrin Mohammad Thabrie, dalam Jejak Langkah buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Jejak Langkah Tipografi

Jumat yang indah. Langit cerah. Angin silir semilir menerbangkan debu dan asa. Suasana jalanan riuh rendah. Jiwaku terbawa melayang ke angkasa. Ingin rasanya tubuh ini ikut melanglang buana. Siapa nak ikut? 😀

Kopi manis tersedia di cangkir putih di atas meja. Apa daya harganya naik seribu rupiah. Aku tetap senang berada di sini, Saudara. Di toko donat yang tenang ini aku dapat membaca Jejak Langkah. Kuikuti jalan cerita Minke menerbitkan harian milik pribumi yang pertama.

Ah, aku yang berbahagia. Di halaman tiga ratus enam puluh enam berlanjut ke halaman tiga ratus enam puluh tujuh ini ada terbahas perkara tipografi, Saudara. Bukankah itu indah?

Harian telah menjadi sumber terpercaya untuk menanyakan perkara-perkara hukum pada zaman itu. Saat ini telah pun berkembang bidang konsultasinya. Ada kesehatan, psikologi, agama, urusan rumah tangga, dan perkara cinta.

Berbicara tentang cinta, adakah di antara kalian yang tahu cinta tertulus di dunia? Bukan cinta ibu kepada anaknya, bukan pula cinta istri kepada suaminya.

Haha. Berat sekali hari libur begini memikirkan hal-hal abstrak semacam ini. Akhir pekan panjang ini, apa saja yang akan kalian perbuat? Kusarankan untuk tidak lupa melewatinya dengan menelepon orang tersayang yang sedang terpisah jarak dengan kita. Sekian.

Kabar Malam Keesokan Harinya

Jadi, Saudara, seperti yang pernah kujanjikan kemarin dalam Kabar Pagi, akan kuceritakan kisah perjalananku selanjutnya.

Kemarin siang aku jadi pergi ke toko buku langganan yang gemar memotong harga sekian persen. Di sana ternyata tak ada Jejak Langkah! Betapa menyebalkannya, Saudara. Jauh-jauh berpanas-panas pergi ke situ, ternyata tak ada barang yang diidamkan. Ini sesuai dengan perkataan Antho Hiu bahwa toko buku yang tidak punya persediaan buku yang kita cari laksana warteg yang kehabisan nasi.

Walhasil, belilah aku buku yang keempat dari Tetralogi Buru: Rumah Kaca. Dengan tangan menenteng buku itu dan muka sedang dalam kondisi tampan seadanya, aku pun berbaris di depan kasir. Ketika sedang mengantre untuk membayar, kulihat tumpukan buku yang menarik perhatian. Judulnya: Mozart’s Last Aria buah karangan Matt Rees. Jadilah kubeli juga buku itu. Jadi ada berapa buku yang kubeli di toko buku langgananku kemarin siang itu, Saudara? … Pintaaaaar! Lanjutkan membaca “Kabar Malam Keesokan Harinya”

Sarapan Buku

Sarapan Buku, Cangkir, dan Tisu

Sarapan Buku, Cangkir, dan Tisu

Akhirnya aku ke sini lagi, Saudara. Sarapan kopi dan roti yang tak ada secuil pun keju di dalamnya.

Rasa-rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan rasa yang seperti ini. Yaitu rasa adem dan tenteram; cocok sekali untuk membaca. Memang begitulah maksud kepergianku ke sini lagi, hendak mengkhatamkan buku Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Entah sudah berapa pekan tidak kusentuh buku ini lagi. Sekarang aku kembali berhasrat membaca buku. Aku tahu ini permulaan yang bagus untuk menata hati, Saudara.

Ada satu hal yang ingin kunasihatkan kepada kalian: jagalah cangkir kopi dalam jarak 10 centimeter minimal dari buku jikalau tidak ingin bukumu menjadi basah. Sekian.

Bahasa Semua Bangsa

Akhirnya kulanjutkan kembali membaca Anak Semua Bangsa buah karya Pramoedya Ananta Toer. Setelah kubaca halaman demi halaman, kubalik lembar demi lembar, otakku terpancang pada perkara bahasa.

Kubaca di situ betapa Jean Marais sangat menganjurkan Minke untuk menulis dalam bahasa Melayu, yang dikatakannya sebagai bahasa bangsa Minke sendiri. Kemudian datang pula Kommer kepada Minke yang juga menganjurkan hal yang sama. Mereka sama-sama berdalih betapa bahasa Belanda hanya dimengerti oleh kelompok tertentu, tetapi bahasa Melayu dimengerti oleh bangsa Pribumi. Minke, bagaimanapun, haruslah berbicara kepada bangsanya sendiri yang tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti khalayak ramai. Dalam lain kesempatan, Bunda malah menyuruh Minke menulis dalam bahasa Jawa, bahasa leluhurnya sendiri yang harus pula dilestarikan dan dijunjung tinggi.

Perkara berbahasa ini telah lama menggelitik pikiranku. Betapa telah lama kusaksikan banyak orang Indonesia lebih dapat mencurahkan perasaan dan mencetuskan pikirannya dengan bahasa asing. Bukan dengan bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerahnya. Untuk sekadar menyerapah saja misalnya, alih-alih menggunakan kata ‘*ucing’ atau ‘*angsat’, sekarang orang-orang menggunakan kata ‘*hit’ atau ‘*uck’. Banyak pula yang masih latah menggunakan kata ‘*erdomme’. Lanjutkan membaca “Bahasa Semua Bangsa”

Bumi Tempat Tinggal Manusia

Baru saja aku mengkhatamkan Bumi Manusia, Saudara. Buku pertama dari Tetralogi Buru buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Apa hasil? Perasaan seram langsung menyergap. Aku marah, geram, dan kesal juga sekaligus. Emosiku berhasil diaduk keras pada akhir-akhir cerita buku ini. Maka aku pun bertekad, besok akan segera mendapatkan buku kedua dari tetralogi ini. Semangat!

Memang ketidakadilan sekarang pun masih banyak bertebaran di muka bumi manusia ini, Saudara. Maka adalah wajar untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT atas ketidakadilan ini. 😀

Pujian Pujangga

“Ia tak menjawab, hanya memandang padaku jua. Kuletakkan kembali kepalanya ke bantal. Bentuk hidungnya yang indah itu menarik tanganku untuk membelainya. Ujung-ujung rambutnya berwarna agak coklat jagung, dan alisnya lebat subur seakan pernah dipupuk sebelum dilahirkan. Dan bulu matanya seperti sepasang kejora bersinar di langit cerah, pada langit wajahnya yang lebih cerah.”

Bumi Manusia oleh Pramoedya Ananta Toer

Andai aku bisa merangkai kata-kata pemujian yang indah semacam ini, aku sudah akan melamar menjadi pujangga. Haha.

Buku Mahal

Oke. Sekarang mari kita bahas mengenai jawaban postingan kemarin.

Bagi yang menduga buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer lebih mahal daripada buku Teori Semantik (Edisi Kedua) karya Jos Daniel Parera, aku ucapkan selamat karena kalian betul. Namun bagi yang menduga sebaliknya, janganlah berkecil hati dahulu, karena tidak sepenuhnya kalian salah.

Buku Bumi Manusia aku beli seharga Rp76.500,00 dari harga awal Rp90.000,00 dipotong diskon 15%. Sementara itu, buku Teori Semantik aku beli seharga Rp75.225,00 dari harga awal Rp88.500,00 dipotong diskon 15%. Jadi harga kedua buku ini cuma selisih Rp1.275,00.

Dilihat dari sampul bukunya, tentu saja aku dapat mengatakan kalau sampul buku Bumi Manusia lebih bagus daripada buku Teori Semantik. Bukan hanya tentang desainnya, dari bahan dan segi pengerjaannya pun lebih bagus yang Bumi Manusia. Sampul Bumi Manusia kertasnya lebih tebal, dan ada cetak timbulnya segala. Sementara buku Teori Semantik serasa standar sebagaimana buku teks pada umumnya. Lanjutkan membaca “Buku Mahal”

Arok dan Dedes Khatam Riwayat

Alhamdulillah. Senang sekali. 😀
Di Sabtu siang berangin sepoi-sepoi ini akhirnya aku berhasil mengkhatamkan buku Arok Dedes buah karya Pramoedya Ananta Toer.

Seru sekali kubaca buku ini. Sudah berbulan-bulan, baru hari ini selesai. Memang berat. 😛

Sedikit kecewa karena dalam buku ini tidak dikisahkan mengenai keris legenda buatan Empu Gandring. Keris yang katanya akan membunuh nyawa tujuh orang itu tidak tersebutkan. Lanjutkan membaca “Arok dan Dedes Khatam Riwayat”