We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future

Tinta,
Tumpah ruah di meja
Meja kosong tanpa kertas
Yang ada hanya gelas

Kopi,
Tumpah ruah di kepala
Kepala kosong tanpa utas
Yang ada hanya getas

Menulis. Sudah lama tidak menulis. Maksudku … menuliskan isi kepala menggunakan bahasa manusia. Sudah hampir setahun ini belajar menuliskan isi kepala menggunakan bahasa perantara untuk memerintah mesin. Sebab itu, untuk berbahasa manusia kembali kemungkinan sedikit sulit.

Barangkali tidak akan seperti kemampuan naik sepeda, yang apabila kita sudah lama tidak melakukannya maka kemampuan itu tiba-tiba saja datang kembali ketika kita mencoba naik sepeda lagi; seolah-olah segala macam lecet di lutut dan robek di celana ketika belajar naik sepeda dulu … menjadi nyata kembali. Lanjutkan membaca “We Have Never Been Too Close or Too Far to the Future”

Cahaya Purnama Tengah Malam

aku terjaga di toilet ketika cahaya purnama jatuh di wajahku dari genting kaca
akankah diare reda setelah sekian lama?
masih terbuka celana yang tadi tidak sempat kugantung
terjatuh di lantai; di tengah malam tadi ia nampak begitu sepi dan merana

.
.
.

NB.
malam kedua diare membelit perut,
melilit sakit begitu rupa seakan seisi perut
terikat kencang oleh laso koboi;
tiba-tiba aku teringat akan sajaknya SDD

Hujan Oktober

Pekan terakhir di bulan Oktober tahun ini
Langit Jakarta mulai rajin mendung
Kemudian mencurahkan hujan
Genangan air membanjir
Sampah merajalela
Disentri
Diare

AC mati
Gerah sirna
Rajin berkumpul
Di ruang keluarga
Di bawah jalan layang
Jas hujan bagaikan gorengan
Payung bagai cendawan main hujan

Purnama Memanggil

Lihatlah
Hanya hamparan kelam sekelilingku
Bintang-bintang sedang berhibernasi
Barangkali

Lihatlah
Aku tersenyum manis memandangmu
Tersipu-sipu malu bersembunyi
Dari tadi

Tahukah
Aku muncul menghangatkanmu dengan sapuan lembut sinarku
Memberi terang setiap sudut hatimu
Agar kau merasakan kasih
Sayang