Saat

Saat waktu terhalang oleh malam
… Tidur dan berkembangbiaklah
Saat aku menahan sendiri
… Diterpa dan luka oleh Senja Utama
Saat diriku tak mampu berdiri di sini sendiri
… Ceritakan dayang
Saat bahagia mahkotamu
… Bila kedamaian selingkuhanmu
Saat kau palingkan arah
… Jejak langkahmu terbajak

Saat sang pagi kembali menari
… Datanglah dengan taksi
Saat kau peroleh rasa
… Dalam makan cendol
Saat kau jauh
… Seberapa hebat kau untuk kubayangkan
Saat kau menjadi istriku nanti
… Jangan pernah berhenti menyuapiku
Saat ragaku terasa tua
… Tetaplah kau selalu di sini menemani aku mandi

===

NB.
Best album ever!

Dendang Malam Mingguan

Malam minggu malam yang panjang
Malam yang asyik buat bakaran
Bakar lilin bakar kemenyan
Ngepet di Jalan Jenderal Sudirman

Hai bulan yang hampir penuh
Kusapa engkau dengan sungguh
Adakah kau malam ini mengaduh
Melihat jalanan macet begituh

Hai bulan yang hampir menawan
Kusapa lagi janganlah heran
Siapakah kekasih engkau gerangan
Sampai rela kautunggu jam-jaman

Hai
Lagi-lagi aku menyapamu, bulan
Janganlah marah apalagi bosan
Daku hanya ingin mengadukan
Bahwa sekarang aku kelaparan
Tenggelam dalam kemacetan panjang
Seakan sedang mudik lebaran
Hingga pantat ini kesemutan

Melukis Kematian

Dalam tiga puluh menit kuberdiri
Kusaksikan beberapa malaikat sedang melukis Zeus di atap bumi
Indah sekali
Sekaligus ngeri

Maka aku pun pergi
Mencari tempat melindungi diri
Kemana aku harus melangkahkan kaki?

Kuputuskan pergi ke masjid
Kuambil air wudu
Salat
Lantas berbaring
Menunggu sang malaikat melukis kematian di atap masjid

Dalam Diamku

Dalam diamku di kamar mandi
Tidak seperti di kamar mayat
Tidak seperti di kamar Astri
Tidak seperti di kamar pas
Tidak seperti di kamar Susi

Aku duduk terpaku di pojokan
Kaki membentuk sudut siku-siku
Tangan mengepal

Pikiranku melayang pergi
Keluar dari kamar mandi
Keluar dari kamar Astri
Keluar dari kamar Susi
Ke surga

***

Lagi senang bikin puisi di kamar mandi nih. Hewehe. Selamat berlibur! 😀

Di Atas Sebuah Kloset Aku Diam Tanpa Tanya

Cermin berbingkai biru menatapku
Pun tong sampah kecil di pojok itu
Sepasang sikat gigi beserta pastanya melirikku
Pun botol sampo yang hampir kosong itu

Air keran jatuh ke ember dan bak mandi
Nyaring bunyinya gemericik, mengusik sekali
Bolam yang menempel di plafon seperti cecak itu tiba-tiba mati

Tep!

Dalam gelap penuh bau aku diam
Dalam gelap penuh misteri aku diam
Air pun berhenti jatuh lantas suasana kian mencekam
Tanpa bertanya aku pun tahu bahwa listrik sedang padam

Sang Penguras

Dasar bedebah!

Aku rawat engkau
Berkhianatlah engkau
Aku pelihara engkau
Bawa perkara engkau

Laksana kumbang buah engkau
Memakan buah tempat asal telurmu dulu
Laksana daun senamaki engkau
Menguras segala yang kumiliki

Aku tahu kumbang tidak seekor
Dan bunga tidak sekaki
Aku tahu engkau tidak berekor
Tapi engkau kemaki
Memperbesar badan engkau sendiri
Memakan banyak tempat untuk kau sendiri!

Kau adalah penguras isi kantongku
Dari permen hingga pulpen
Dari pensil hingga ponsel

Oh, sungguh benar engkau daun senamaki
Kau lubang tersial yang pernah kumiliki!

Kamu

Kamu adalah aroma kopi arabika yang terhidang di meja kayu. Kamu adalah sofa ekisehir pada vestibula kantor yang berwarna kelabu. Kamu adalah kipas angin biru yang mengusir kepengapan dalam kamarku. Kamu adalah telur mata sapi dalam menu sarapan di hari Sabtu.

Kamu adalah sonata dalam Canon yang merdu. Kamu adalah pulpen 5-in-1 yang bertengger di saku kemeja kantorku selalu. Kamu adalah purnama penanda para bidadari turun dari kayangan untuk mandi beramai-ramai di situ. Kamu adalah mi goreng aceh apabila takaran kecap manisnya cukup bagiku.

Kamu adalah pengganggu pikiran dan pengacau debar jantungku. Maka kamu adalah hantu. 😀

===

Topik Post a Day hari ini adalah:

What was the last time you did a random act of kindness?

Bonus: If you’ve never done a random act of kindness, do you think you should? why or why not?

Sedang berada dalam pusaran kemarahan imbas dari kemarahan seseorang kepada seseorang yang lain.