Cahaya Purnama Tengah Malam

aku terjaga di toilet ketika cahaya purnama jatuh di wajahku dari genting kaca
akankah diare reda setelah sekian lama?
masih terbuka celana yang tadi tidak sempat kugantung
terjatuh di lantai; di tengah malam tadi ia nampak begitu sepi dan merana

.
.
.

NB.
malam kedua diare membelit perut,
melilit sakit begitu rupa seakan seisi perut
terikat kencang oleh laso koboi;
tiba-tiba aku teringat akan sajaknya SDD

Purnama Memanggil

Lihatlah
Hanya hamparan kelam sekelilingku
Bintang-bintang sedang berhibernasi
Barangkali

Lihatlah
Aku tersenyum manis memandangmu
Tersipu-sipu malu bersembunyi
Dari tadi

Tahukah
Aku muncul menghangatkanmu dengan sapuan lembut sinarku
Memberi terang setiap sudut hatimu
Agar kau merasakan kasih
Sayang

Dua Purnama

Aku lihat dua purnama
Satu di timur satu di utara
Keduanya besarnya sama
Sama-sama merah pula

Aku bimbang memilih
Purnama manakah yang asli
Keduanya kelihatan sejati
Sama-sama bocel di sana-sini

Tak bisakah keduanya milikku
Hatiku sering merasa sendu
Terang bulan bisa pengobat rindu
Barangkali saja begitu

Malam Purnama, Mari Berdendang

Terima kasih kepada siapa saja yang telah mengingatkanku untuk menyanyikan lagunya Evie Tamala yang berjudul Rembulan Malam. Beberapa waktu lalu aku memang sengaja memosting sebuah tulisan agar siapa saja mengingatkanku untuk demikian.

Tak disangka ternyata malam ini purnama sudah nyaris bundar sempurna. Perhitunganku salah, Saudara. Aku pikir Sabtu malam besok barulah purnama sempurna akan terjadi. Sekarang aku belum bersiap apa-apa dalam menanti datangnya bidadari-bidadari khayangan yang turun ke bumi hendak mandi.

Dan tidaklah disengaja bahwa malam ini ada serombongan pengamen perempuan yang berkeliling kompleks mendendangkan lagu sendu tersebut. Turutlah aku terhanyut dalam musik yang mereka mainkan dan bersama-sama menyanyikan lagu ini:

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Aku damba engkau bersemayam di hati
Walau dalam mimpi
Tetapi mungkinkah rembulan malam
Berpijak di bumi berdebu

Sungguh diriku tak kuasa
Menahan gejolak di hatiku
Yang semakin lama
Semakin menjadi

Begitu ingin kusampaikan
Rasa cinta ini yang mendalam
Tetapi tak mampu bibirku berkata
Mengharap kasih yang tak sampai

Dirimu bagaikan rembulan
Di malam yang sepi
Purnama bersinar menerangi hati

Bagaimana? Kalian bisa turut menyanyikannya?

Nalub Amanrup

Purnama di balik dedaunan di Malang
Purnama di balik dedaunan di Malang

Relung Semeru mengintip dari balik semak. Dilihatnya Purnama berpilu. Rona wajahnya memucat dan semakin berjerawat.

Berkatalah Relung Semeru kepada Pohon Angsana di atasnya: “Apatah hal kiranya penyebab Sang Purnama gundah gulana demikian, wahai Angsana?”

Angsana menjawab sembari menyibak-nyibak rambutnya yang tertiup angin: “Kukira adalah kesepian gerangan penyebabnya, duhai Relung Semeru.”

“Bagaimana kesepian, kiranya ia sudah dikelilingi banyak bintang?”

“Kurasa Purnama merindu bidadarinya.”

\Pengennya mau bikin narasi puitis-puitis gitu, kok dapetnya malah dialog beginian. Hadeuh~\

Nuansa malam di Malang saat purnama
Nuansa malam di Malang saat purnama

Bulan Penuh Bikin Hati Penuh

Seharian ini aku merasa kosong. Bahkan di tengah keramaian. Barangkali bukan bahkan kata tepatnya. Karena, Saudara, keramaian membuat suatu kekosongan terasa lebih kosong. Bukankah noda hitam jauh lebih terlihat kotor jika terkena di pakaian putih?

Maka aku pun mencoba sendiri. Agar kekosongan tak terasa sebegitu kosongnya. Hingga kemudian aku pun melangkah keluar untuk mengangkat jemuran. Terlihatlah ia, duhai purnama cantikku.

Sekian.

Purnama Kawan

Purnama Ramadan 1433 H
Purnama Ramadan 1433 H

Sejatinya ingin berpuisi. Namun lalu saja puisiku tak berbunyi.

Ternyata tak banyak orang yang antusias melihat purnama, Saudara. Terlebih bulan-bulan biasa. Padahal tahukah kalian bahwa purnama itu kawan sejati orang yang sepi sendiri?

Jika malam ini kalian tak berkawan, Saudara, tataplah purnama maka kalian takkan lagi merasa kesepian.

Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀