Target Ramadan

Barangkali memang benar bahwa waktu adalah besaran relatif. Terkadang waktu terasa begitu lama berlalu, yaitu ketika kita sedang melakukan pekerjaan paling membosankan sedunia yang tak lain adalah menunggu. Waktu terkadang terasa begitu cepat berlalu bagi sebagian orang dan terasa begitu lama berlalu bagi sebagian yang lain, yaitu ketika seorang anak tumbuh besar.

Maka bagiku Ramadan kali ini membuatku merasakan bahwa waktu seolah-olah mundur ke masa tiga tahun yang lalu atau bahkan tiga belas tahun lalu.

Aku teringat akan masa kurang lebih tiga belas tahunan yang lalu. Pada masa itu sudah menjadi lumrah bagi anak-anak seusiaku waktu itu untuk memperdalam ilmu agamanya di majelis taklim. Tentu kalian tahu bahwa huruf “k” di situ seharusnya adalah huruf “ع”. Di majelis taklim tempat aku menuntut ilmu setiap akhir tahunnya selalu diadakan beraneka rupa perlombaan menyambut datangnya tahun baru Hijriah. Salah satunya adalah lomba berpuisi.

Adalah seorang seniorku membuat puisi ini dan mendeklamasikannya di hadapan khalayak dan para dewan juri. Aku ingat sekali bunyi bait pertama puisinya karena secara diam-diam aku menyalinnya untuk kumasukkan dalam kotak memorabiliaku. Aku pun berkali-kali mendendangkan bait puisi ini dalam alunan nada dari sebuah lagu berbahasa Arab. Seingatku lagunya mengenai sebuah penyambutan karena terdapat kata “marhaban”. Besar kemungkinan bahwa lagu itu tentang penyambutan kedatangan bulan Ramadan.

Sebait puisi dimaksud adalah sebagai berikut:

Belum sempat aku istirahat
Kau sudah datang menyapa
Lewat detik-detik yang suci
Yang tak seorang pun mampu melebihi

Lanjutkan membaca “Target Ramadan”

Ber-OpenTTD

Tahukah kalian? Saat ini aku sedang kecanduan memainkan OpenTTD.

Apakah itu OpenTTD? Yakni sebentuk pembuatan ulang secara sumber terbuka (open source) dari permainan Transport Tycoon Deluxe (TTD). Barangkali ada di antara kalian yang begitu membaca “tycoon” langsung teringat dengan permainan RollerCoaster Tycoon. Maka yang demikian adalah bukan kebetulan karena yang menciptakan kedua permainan tersebut adalah orang yang sama: Chris Sawyer.

OpenTTD adalah sejenis permainan komputer berupa simulasi transportasi perkotaan. Sebagai pemain, kita didaulat mengoperasikan sebuah perusahaan transportasi. Kita dapat membuat jaringan jalan raya, rel kereta api, membangun bandara, pelabuhan, terminal, pangkalan truk, dan landasan helikopter. Termasuk kita dapat pula membangun jembatan dan terowongan.

Tampilan Permainan OpenTTD - Peta
Tampilan Permainan OpenTTD – Peta

Tersebutlah pada tahun 1950 (atau sesuai pengaturan), kita mendirikan sebuah perusahaan transportasi. Pertama-tama perusahaan transportasi kita diberi pinjaman sejumlah uang oleh bank. Uang tersebut kita pergunakan antara lain untuk membuat sistem dan jaringan transportasi di sebuah negeri antah berantah. Agar perusahaan mendapatkan pemasukan, kita harus mengangkut penumpang dari satu kota ke kota yang lain atau mengangkut bahan baku industri dari daerah pertambangan/ pertanian ke pabrik atau instalasi lainnya. Demikian pula kita dapat mengangkut hasil industri tersebut ke kota. Lanjutkan membaca “Ber-OpenTTD”

Purnama Ramadan

Kalian tahu kan kalau malam ini sudah mulai masuk purnama? Itu pertanda apa, Saudara? Pertanda Ramadan sudah hampir setengah jalan. Yah, tak terasa kan? Berasa kurang saja rasanya.

Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, apabila malam ‘lah purnama, kusempatkan memandang ke langit kalau tidak mendung apalagi hujan. Kupuaskan menatap indahnya bulan yang merupakan ratu malam, sambil menanti-nanti jadwal turunnya para bidadari khayangan turun ke bumi untuk sekadar mandi.

Kalau kita cermati betul-betul, bulan tidaklah memancarkan cahayanya sendiri. Ia mengambil sedikit saja sinar matari untuk kemudiannya dipendarkannya demi menerangi bumi. Barangkali Sang Pencipta sengaja menciptakan malam di bumi agar manusia mengambil contoh darinya: bahwa bermanfaat tidaklah harus dengan berkreasi melainkan apabila tak mampu dapat pula dengan hanya meneruskan kreasi yang dibuat oleh makhluk lainnya kepada sesama.

Barangkali contoh ini pula yang ditiru oleh para penyalur berita baik itu pembangun orang sahur hingga penyiar berita di radio. Meskipun barangkali banyak orang yang lantas latah menjadi bulan yang memantulkan sinar penyebab gosong badan, antara lain dengan secara sembarangan meneruskan berita hoax yang kurang dapat dipercaya tanpa memeriksanya terlebih dahulu.

Dengan mengambil contoh bulan ini, aku kemudian berkeinginan membuat rambu-rambu petunjuk jalan ke arah danau atau sendang berada agar para bidadari khayangan ini tidak kesasar untuk ke sana dalam rangka mandi. Ayo, siapa yang ikut ke dalam barisanku? 😀

Kecele

Kebangun jam 22.55. Kirain udah 02.55. Udah siap-siap mau sahur. Udah bangunin orang-orang. Segalanya masih nampak wajar. Terus semuanya berubah setelah Kerajaan Api menyerang. Aku menjadi kecele. Aku merasa tertipu! Diriku menjadi hampa. Warung-warung sudah tutup rupanya, dan belum lagi mau buka. Aku pun menjadi sadar mengapa alarmku tidak menyala-nyala. Ah, tidaaaaaak! Ternyata waktu sahur masihlah lama.