Rambut yang Melelahkan

Sudah dari kemarin-kemarin ingin kutunjukkan video ini kepada kalian. Tahu Alaa Wardi, kan? Nah, di video ini dia curhat mengenai rambut gondrongnya. Haha!

Seandainya aku lebih kreatif, barangkali aku pun ingin membuat semacam lagu tentang rambutku begitu, Saudara. Haha!

Si Alaa Wardi ini katanya sering dikata-katai seperti kera atau seperti manusia gua gara-gara rambutnya yang “begitu”. Haha. Sejatinya aku ingin rambutku gondrong seperti rambutnya. Tetapi kata si Alaa rambutnya yang begitu itu sungguh melelahkan. Meski begitu, tetapi dia tidak ingin mencukur rambutnya. Haha!

Jadi lewat video itu si Alaa meminta kita mencari solusi perkara rambutnya yang sering mengganggunya itu. Haha. Bagaimana? Kalian ada ide?

Rambut Doraemon

Dikarenakan banyaknya rikues alias permintaan untuk menampilkan foto rambut baruku yang sudah tidak Chrisye lagi, maka dengan malu-malu kucing bangga kupersembahkan foto berikut ini:

Farijsvanjava dan Kantong Doraemon
Farijsvanjava dan Kantong Doraemon

Bagaimana, Saudara? Semakin ganteng, bukan? 😀 Jadilah aku sekarang tidak perlu sisiran lagi. Hwehe.

Siang ini aku dikejutkan akan sebuah amplop cokelat besar di atas meja kerjaku. Tentu saja aku senang tak terkira, karena aku mendapatkan tambahan koleksi berupa dua prangko berikut ini:

View this post on Instagram

Tambah koleksi #prangko #stamp

A post shared by Feriska Drajat (@farijsvanjava) on

Isi amplop tersebut tak lain tak bukan ialah tas kecil berbentuk Doraemon sebagaimana kutunjukkan dalam foto paling atas. Bagus sekali, bukan? Jadi di depannya berbentuk serupa perut Doraemon yang berkantong \kantongnya beneran kantong loh ya\ sementara di bagian belakang bergambar kepala Doraemon yang lucu.

Kepada pengirimnya, aku ucapkan terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas amal kebaikanmu. Dan tidak kekanak-kanakan kok mengirim barang semacam ini. Apapun barang pemberian, terlebih bertema Doraemon, tidaklah terlalu kekanak-kanakan dan akan kuterima dengan hati riang.

Teori Kepribadian dan Rambut Chrisye

Penyangkalan: Tulisan ini banyak memuat teori-teori ngawur.

Banyak teori yang tercipta dan kemudian berkembang mengenai bagaimana kita dapat menilai kepribadian dan karakter seseorang. Misalnya saja “Teori Tulisan Tangan”. Katanya \jangan tanya kata siapa, tolong\ dari tulisan tangan seseorang kita dapat mengetahui kepribadian dan karakter seseorang itu bagaimana. Menurut teori ini, kalau tulisan tangan kalian terkadang miring ke kanan, terkadang ke kiri, dan terkadang tegak lurus, maka kalian memiliki kepribadian plin-plan dan tidak teguh pendirian.

Apabila kalian menulis persis pada garis di buku tulis \sepertiku\, berarti kalian adalah orang-orang yang patuh terhadap hukum dan norma-norma yang berlaku. Sementara jika kalian menulis di tengah-tengah antara garis (mengambang), maka bisa jadi kalian adalah pengikut mode dan berjiwa pemberontak. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Kemudan ada juga “Teori Bahan Bacaan Kesukaan”. Teori ini barangkali sejalan dengan makna peribahasa dalam bahasa linggis: “Judge the book by its cover”. Nilailah (kepribadian dan karakter) seseorang dari apa-apa yang dia baca. Apabila seseorang suka membaca koran dan buku silat, kemungkinan besar seseorang tersebut adalah guru/ tukang silat yang sedang mencari pekerjaan (tunakarya). Apabila seseorang suka membaca buku resep masakan dan buku tabungan, bisa jadi dia sedang mendalami “ilmu food combining pada tanggal-tanggal tua”.

Mengesampingkan lelucon, bahan bacaan yang serius menandakan seseorang yang gemar membacanya adalah orang yang cerdas dan berjiwa intelek. Bahan bacaan lucu menandakan seseorang yang gemar membacanya adalah orang yang sedikit kekanak-kanakan atau hanya sekadar sedang stres. Lanjutkan membaca “Teori Kepribadian dan Rambut Chrisye” →

Beginilah Tukang

Aku benar-benar bingung. Apa pendapat kalian, Saudara-saudara?

Kemarin malam aku ke tukang cukur. Aku minta si tukang cukur untuk merapikan rambutku. Maka dia pun beraksilah. Dipangkaslah rambutku. Digunting-gunting pula. Hingga pada suatu langkah, dia kelihatan menyesal. “Aduh,” begitu keluhnya.

“Yah, kepotong. Padahal tadi sudah pas,” begitu pula keluhnya dengan suara pelan tetapi cukup dapat kudengar dengan jelas.

Harus bagaimanakah aku bersikap?