Dua Purnama

Aku lihat dua purnama
Satu di timur satu di utara
Keduanya besarnya sama
Sama-sama merah pula

Aku bimbang memilih
Purnama manakah yang asli
Keduanya kelihatan sejati
Sama-sama bocel di sana-sini

Tak bisakah keduanya milikku
Hatiku sering merasa sendu
Terang bulan bisa pengobat rindu
Barangkali saja begitu

Bermain dengan Sugesti #2

< Bermain dengan Sugesti #1

Permainan sugesti itu ada bermacam rupa, Saudara. Salah satunya adalah mengenai rindu.

Pada tulisan “Merindu Pulang” aku mengeluarkan sebuah pernyataan begini:

“… barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.”

Kemudian aku pun bermain dengan sugesti. Aku pengaruhi hatiku sendiri untuk rindu bukan kepada sesuatu atau sesiapa yang senyatanya kurindukan, melainkan kepada sesuatu atau sesiapa yang ada dalam jangkauanku. Aku pikir pengalihan kerinduan semacam ini terbukti efektif.

Hari ini aku berencana akan berkumpul kembali dengan kawan-kawan setelah sekian lama tidak berjumpa. Kerinduanku akan mereka dan suasana kebersamaan bersama mereka tentulah sudah lama kupendam. Barangkali satu atau beberapa orang dari mereka membatalkan kepergiannya ke tempat berkumpul secara mendadak. Tentu hal ini akan sangat disesalkan. Daripada menyesal tak berguna, aku pun sudah bersiasat. Akan kulakukan permainan sugesti: rinduku akan kualihkan kepada makanan. Beres sudah! 😀

< Bermain dengan Sugesti #1

Merindu Pulang

Barangkali ini hanya pengalamanku saja, Saudara. Ketika hendak pergi ke suatu tempat, biasanya aku gelisah. Hal ini karena aku akan meninggalkan sesuatu atau sesiapa yang akan kurindukan di kala bepergian. Tetapi dalam suatu waktu aku pun akan merasa gembira dan penuh kegairahan sehingga tidak sabar untuk segera berangkat karena di tempat tujuanku pergi tersebut ada sesuatu atau sesiapa yang sudah kurindukan. Bisa jadi perasaan yang begitu bercampur tersebut membuatku enggan dan malas untuk berkemas.

Kemarin, sesampainya aku di Jakarta setelah enam hari berada di Malang, barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.

image

Rindu Itu Lindu Pakai R

Tidakkah kalian memesonakan cahaya purnama di langit sana?

Aku rindu pada ketertarikan-ketertarikanku dulu. Terlalu banyak rasa ingin tahuku dahulu hingga menyebabkan aku tak sempat memikirkan hal-hal remeh seperti ‘mengapa aku masih saja mengompol bahkan ketika sudah masuk SD’. Yang aku pikirkan adalah ‘mengapa langit kadang berwarna biru, kadang kala merah, dan kadang kala hitam’, ‘mengapa bulan bisa purnama padahal dahulu kala ia pernah terbelah’, ‘apakah kita sewujudnya benar-benar diciptakan di dunia’, dan lain sebagainya.

Sekarang, dalam terpaan angin jalanan, paparan polusi malam, dan ketakjuban akan indahnya cahaya bulan, aku hanya bisa bertanya ‘mengapa produk minyak anginnya Agnes Monica tak ada layanan konsumennya’. Duhai si cantik Agnes Monica, yang gelas minumnya sedang ramai diperbincangkan dan dibenci orang banyak, mengapakah produk yang engkai bintangi itu tidak mencantumkan nomor telepon atau alamat email sebagai sarana berkomunikasi dengan pengguna? Aku yang konsumen ini ingin berkeluh kesah tentang betapa mudah lepasnya bola roll-on itu terlepas dari sarangnya. Mengapa oh mengapa?

Ketertarikan itu menyesuaikan zaman. Rasa ingin tahu dapat bergeser mengikuti bertambahnya usia seseorang. Kan begitu?

ttd
Farijsvanjava, Ahad malam, duduk di sebelah hydrant di emperan jalan, menghadap persis ke arah purnama, menantikan bidadari-bidadari khayangan turun ke bumi untuk mandi.

Merindu Purnama

Hai, Sabit. Apa kabar? Makin cantik aja, nih. Apa rahasianya? Bagi-bagi, dong. 😀

Di Khayangan lagi musim apa? Di sini lagi musim rambutan, nih. Banyak banget tukang jualan rambutan. Ampe di depan kantor juga ada. Sabit suka rambutan? Kalo mau, ntar aku beliin, deh.

Sabit, temen kamu si Purnama kemana? Kok udah lama gak nongol? Apa dia sakit? Sakit apa? Udah dibawa ke tabib? Jadi ikut prihatin kalo Purnama kenapa-napa. 😦

Kalo ketemu ama dia, tolong sampein salam dari aku ya, Sabit. Tolong sampein juga ke Purnama kalo aku kangen banget ama dia. Hampa banget malamku tanpanya.

Makasih ya, Sabit. Sekarang aku mau tidur dulu. Mana tau ketemu Purnama di alam mimpi. Kamu jaga kesehatan ya. Jangan lupa pake jaket. Angin malemnya dingin. Bye bye… 🙂

Kosong

Awan-awan kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratus-ratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut, meninggalkan pohon-pohon kelapa yang membujur di sepanjang Pantai Tanjong Kelayang. Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat menjadi penghibur bagi mataku, tapi dia takkan pernah menjadi sahabat bagi jiwaku, karena sejak minggu lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosakata baru dalam hidupku: rindu.

Andrea Hirata – Laskar Pelangi

Sepertinya penggalan paragraf dalam bagian “Miang Sui” pada novel karya Andrea Hirata ini juga bukanlah penyebab kekosongan jiwaku sekarang ini. Bukan, Saudara-saudara. Kosakata itu belum ada dalam kamusku.

Alamak Sekali Lagi, Sekali Lagi Alamak, Lagi-lagi Alamak

Api nostalgia menyala. Suasana menghangat. Kedamaian tercipta. Kerinduan sirna sesaat. Namun hati masih gundah gulana. Gerangan apakah penyebabnya?

Senandung-senandung nan mendayu. Mengiringi malam-malamku. Berusaha menghibur batinku, menenangkan jiwaku. Tapi mengapa wajah itu malah terbayang selalu?

Alamak! Aku merindu….

Suaranya. Seperti baru kemarin aku mendengarnya. Merdu, indah, riang, manja. Sekarang, kapan lagi aku bisa berjumpa? Arrrgh…bisa gila aku karenanya!