Aceh Flu

Beberapa hari yang lalu itu, sambil bersantap siang dengan menu mi aceh rebus, kami mengobrol tentang orang-orang Aceh. Bagaimana mereka dulu sewaktu menjadi DOM, dan sebagainya. Tadi siang sewaktu bersantap siang dengan menu ekor bandeng goreng, aku lihat tayangan berita di televisi tentang maraknya aksi teror di Aceh dalam naungan masa pilkada. Kemudian sore tadi ketika sedang bersantap kudapan rapat, kudengar kabar Aceh terserang gempa berpotensi tsunami. Innalillahi wa ilayhi rajiun.

Ketika masuk kantor dalam keadaan sakit flu, kupikir hanya aku yang menyedihkan melewati libur pekan panjang dengan berbaring sakit. Ternyata banyak pula rekan sekantor yang bernasib serupa, oleh flu pula. Ketika tadi salat Zuhur dan Asar di masjid kantor, kudapati bukan aku seorang yang ‘srupat sruput’ mengisap ingus seberdirinya dari sujud. Beberapa apotek pun kehabisan obat andalanku kalau terjangkit flu. Barangkali karena sedang laris, barangkali pula sedang habis pasokan. Maka secara lancang kusimpulkan saat ini di sini sedang musim orang sakit flu.

Sekseh

Adakah di antara kalian yang percaya bahwa suaraku semakin seksi karena flu?

Rasanya tidak perlu pergi ke luar untuk menyaksikan indahnya bintang-bintang di langit kelam, Saudara. Dengan hanya berbaring di kamar semacam ini, aku dapat melakukannya. Cukup dengan bersin, bintang-bintang akan bermunculan entah dari mana. Indah sekali.

Walau bagaimana pun aku masih dapat bersyukur dengan keadaan badan lemah lunglai begini. Dengan pembaringan badanku, kepalaku masih dapat berpetualang ke mana-mana. Itulah yang dinamakan halusinasi, Saudara.

Oke. Sampai jumpa esok di hari kerja.

Mimisan Ingus

Dengan mimisan ingus kutulis ini. Maksudnya, ketika kutulis ini hidungku sedang beringus. Ya, Saudara. Badanku sedang dihinggapi virus influenza. Semoga kalian semua di seantero penjuru dunia tidak bernasib sama.

Sayang tak ada kamera padaku. Padahal ingin sekali kuabadikan bundarnya purnama pada malam hari ini. Langit bersih tanpa awan. Betul-betul hitam legam dengan bintik-bintik terang bintang-bintang di sana-sini. Dan bundar bulan purnama di bagian timur, sudah seperti bolam saja.

Aku pun sedang bermasalah dengan mulas. Entah apa yang dicerna perutku hingga menyebabkan begini. Kalau kalian mengalami perut “mulas tidak pada tempatnya”, kira-kira apa yang akan kalian lakukan?
a. Langsung jongkok di tempat
b. Cari masjid terdekat
c. Mengunyah rerumputan
d. Minum teh pahit
e. Memasukkan kerikil ke dalam saku celana
f. Mencari tempat yang tepat untuk mulas

Terjebak Angin

Kalian tahu kalau akhir-akhir ini di sini sedang musim angin mengamuk? Ya, awal-awalnya mereka ribut satu sama lain terlebih dahulu, kemudian \you know\ mereka mengamuk. Sudah banyak korban berjatuhan, Saudara. Salah satunya pohon di depan kompleks kantorku. Ingin rasanya besok aku memotretnya lantas kutunjukkan kepada kalian.

Angin-angin itu berkeliaran liar ke sana ke mari, Saudara. Mereka menerjang apa saja yang dikehendaki. Beberapa ada yang masuk ke dalam tubuhku. Mereka terjebak di dalamnya.

Tentu saja aku merasa kasihan kepadanya. Menurutku ini bukan cara yang adil untuk menghukum mereka. Kalian tahu, kan, apa jadinya mereka setelah keluar dari tahanan ini?

Baiklah. Dari kaleng minuman herbal ini, barulah kutahu ada orang-orang yang menyebut angin-angin malang yang terpenjara di dalam tubuhku seperti ini sebagai trapped wind. Kalian lebih suka yang mana? Istilah ini atau istilah yang lama alias enter wind?

Dear Doctor

Yang terhormat dokter,

Bersama tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas jasa Anda selama ini. Saya ingin Anda tahu bahwa usaha Anda dalam menganalisis dan mendiagnosis tubuh saya teramatlah berarti bagi hidup saya. Tanpa Anda, saya hanyalah akan menjadi seorang pasien tak berguna bagi para dukun dan paranormal.

Ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada Anda sejak lama. Apakah Anda mempunyai anak gadis? Kalaulah iya, bagaimana kabarnya? Apa yang dilakukannya? Masihkah ia sekolah atau sedang kuliah? Lanjutkan membaca “Dear Doctor”

Ikutan Sakit

Entah karena tersugesti atau tertular, tetapi aku malah juga merasakan tidak enak badan.

Aku sedang mengantar orang sakit ke klinik dokter umum. Sang dokter lama belum datang-datang. Karena itu berarti aku juga turut menunggu lama, jadilah aku mondar-mandir di depan klinik. Sebentar kemudian duduk, sebentar lagi berdiri lantas mondar-mandir.

Entah mengapa, dalam masa penantian itu aku merasakan badanku lama kelamaan menjadi kurang enak. Kepala terasa pening, kening mendemam, dan sekujur badan pegal-pegal. Mengapa, ya? Haruskah nanti aku ikut periksa?

Perkara Dingin

Dingin itu bagaikan dua sisi mata uang. Ia pula bagaikan dua sisi mata pedang. Bahkan ia bisa bagaikan dua sisi sayap elang. \Oke, cukup sudah membuat paritasnya.\

Dingin adalah seperti es pada saat ia dingin. Bisa membuat dingin kerongkongan kita yang kehausan jika membuatnya jadi es teh manis. Bisa pula membuat dingin dahi kita dengan membuatnya jadi kompres.

Dingin adalah seperti angin pada saat ia dingin. Bisa membuat dingin kamar kita jika membiarkan jendela terbuka. Bisa pula membuat dingin badan kita membiarkannya bertelanjang dada.

Maka pakailah dingin yang bagai sisi tajam mata pedang dengan bijak. Gunakan ia untuk menebas ilalang ataupun semak belukar yang menghadang jalan. Jangan gunakan ia untuk sekadar merajang bawang.

Sekian.

Farijsvanjava,
Suatu malam yang dingin habis turun hujan,
Di dalam sebuah kamar yang tertutup jendelanya,
Berbaring dengan kompres di atas kepala.

Lelah Malam

Gerimis, Saudara. Cukup tebal mendung di angkasa. Sampai-sampai susah mendapatkan sinyal GPS.

Rasanya semakin lemah saja badan ini, Saudara. Pengaruh apa, ya? Oh iya. Seharian ini tenaga dan pikiran memang banyak sekali terkuras. Mengapa pula dikatakan terkuras untuk tenaga dan pikiran, ya? Tak bisakah disebut menyusut saja?

Menunggu pemutakhiran WordPress for BlackBerry, lama sekali. Kapan ya keluar? Biar aku nggak ngiri sama pemakai WordPress for Android, gitu loh.

Farijsvanjava,
Dalam kegelapan malam, sembari terbujur sakit.

Hilang

Beberapa hari ini sepertinya sedang tidak baik. Badanku. Dan juga ponselku.

Badanku? Karena kehilangan jiwa. Sakit. 😦

Ponselku? Karena kehilangan sinyal. Sial! 😦

Ah, rasa-rasanya ingin tidur di pipa bekas di taman, tempat favorit Nobita untuk tidur siang itu.

Museum Fujiko F. Fujio
Museum Fujiko F. Fujio

Ah, sial. Makin suram, dah. Ternyata Pintu Kemana Saja-nya ketinggalan di sana. Kagak bisa ke sana, dah. Buhuhu… 😀