Masjid di Kala Ramadhan

Kran Air
Kran Air Tempat Wudhu @ Masjid Baitut Taqdis - Kompleks Pusdiklat BC

MASJID DI KALA RAMADAN

Masjid di awal bulan Ramadan
Tumpah-ruah dengan manusia yang butuh peningkatan iman
Masjid di awal bulan Ramadan
Ajang fashion show dan pameran

Masjid di tengah bulan Ramadan
Tempat berkumpul dan mengadakan pengajian
Masjid di tengah bulan Ramadan
Menjadi saksi atas orang-orang yang benar-benar beriman

Masjid di akhir bulan Ramadan
Kembali lengang seperti kebiasaan

Hari kedua Ramadhan Empat Belas Dua Puluh Sembilan. Di luar kepanasan, di dalam kedinginan. Alhamdulillâh, aku tidak kelaparan. Hwehe.

Ingin membicarakan kebiasaan masyarakat kita dalam hal be-Ramadhan dan bermasjid, nih. Tapi mungkin saudara-saudara sudah tahu semua. Bukan begitu? //Bukaaaaaan.//

Fenomena apakah yang sedang hot belakangan ini? Ialah fenomena membanjirnya manusia-manusia di masjid. Khususnya ketika waktu Isyâ’ tiba, orang-orang sudah berada di masjid. Tarawih berjamaah menjadi rutinitas di awal bulan Ramadhan ini. Bagus. Bagus sekali. Tapi sebentar, kita tengok mall, swalayan, dan supermarket. Oh, ternyata manusia-manusia itu masih membanjiri pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Ya, tapi setidaknya sudah banyak orang-orang yang kadar keimanannya meningkat. Tapi, tunggu dulu, saudara. Akankah orang-orang yang mulai membanjiri masjid ini akan tetap bertahan hingga Ramadhan berakhir kelak?

Jamaah Isya’ yang Aneh

Jamaah Isya’ yang aneh. Ya, hanya ini komentarku. Mungkinkah ini satu dari berbagai bukti mengapa bangsa Indonesia tidak maju-maju? Kisahku berikut ini memang bisa disimpulkan macam-macam.

Isya’ tadi aku shalat jamaah di masjid kantor. Karena asyik mengobrol setelah mengecek makan malam siswa, waktu Isya’ aku masih di kantor. Sewajarnya ketika hendak shalat para jamaah mengambil wudhu. Setelah iqamah para jamaah berbaris rapi di belakang imam. Segalanya masih wajar tatkala imam takbir dan membaca surah al Fatihah dan dilanjutkan dengan surah al Maun. Pun masih normal sampai pada rakaat ketiga para jamaah masih setia mengikuti semua gerakan imam.

Hingga ketika setelah pada sujud kedua rakaat ketiga sang imam tidak berdiri melanjutkan rakaat terakhir melainkan duduk tasyahud akhir. Para makmum tidak ada yang mengingatkan imam, termasuk aku. Tidak ada yang berucap “subhanallah” mengkritik imam. Semuanya turut duduk. Aku yang sebenarnya meragukan imam pun turut duduk, meski posisi duduk istirahat. Aku memang sering lupa jumlah rakaat ketika shalat. Makanya aku suka shalat berjamaah. Kupikir sang imamlah yang benar sebab tak ada yang menginterupsi, sehingga aku pun ikut saja.

Setelah imam salam diikuti para makmum, para makmum tampak kelimpungan. Beberapa kemudian memprotes kalau jumlah rakaatnya kurang satu. Aku yang mendapatkan pembenaran atas kesangsian yang tadi malah berujar dalam hati, “Loh, trus kenapa tadi ga protes? Kenapa malah pas udah selesai baru protes?? Ga pedean banget, sih! Cemen!”

Yah, memang harusnya diriku sendiri yang harus kukritik terlebih dahulu. Tapi, masak semua jamaah Isya’ tadi hobi kelupaan rakaat shalat seperti diriku ini, sih?
Berpikir positif sajalah, siapa tahu semuanya memang lupa. Hoho.

Akhirnya kami pun mengulang jamaah Isya’ sekali lagi. Betul-betul jamaah Isya’ yang aneh….