Kawan Masa Kini

Katanya, kawan itu sudah lama saling kenal.
Katanya, kawan itu sering berhubungan.
Lantas, apakah yang sudah lama saling kenal tetapi tidak lagi sering berhubungan?
Sebuah dilema masa kini: ketika perkawanan menjadi pudar lantaran perbedaan haluan dalam memilih layanan jejaring sosial.

Haha. Nasib ya nasib. Kalau ingin meneruskan perkawanan, apakah harus mengaktifkan semua layanan jejaring sosial? Dari Fa-cebok, Tuiter, Nge-pet, Lain, Wacap, Wecat, In-sakgram, Piber, Pelurek, Bebem, dan lain-lain, haruskah kita punya semua akunnya?

Ah, alangkah indahnya masa yang sudah lampau, yaitu masa ketika kawan hanya memiliki satu alamat pos, satu nomor telepon rumah, satu alamat pos-el, satu nomor SMS, satu profil ACS, dan satu muka.

Kawan gelak tiada,
Kawan menangis jarang bersua.

+-+-+
Berdasarkan maraknya permintaan, maka dengan ini kujelaskan bahwa dua baris terakhir di atas adalah plesetan sebuah peribahasa yang bunyi aslinya yaitu “Kawan gelak banyak, kawan menangis jarang bersua”. Adapun arti peribahasa asli tersebut adalah kira-kira seperti ini: kawan di saat senang banyak, kawan di saat sedih sedikit.

Kutip Mengutip

Terkadang, kalau hatiku sedang resah, aku membuka-buka Plurk lama yang berisi bagian-bagian masa lalu. Seringkali dengan membaca-baca kalimat-kalimat terdahulu, jiwaku menjadi tenang dan berkurang kegelisahan hati. Bahkan, tak jarang aku menemukan kalimat-kalimat dahsyat yang bisa kukutip sebagian di antaranya:

“women LOOOOVESSSS knowing a MAN would FIGHT or even DIE 4 her! In case he died, meski tu CW lalu menikah dgn yg lain, kau sllu dikenang”

“gw yakin bgt dia mau sama elu, tapi elu kan kadang nyebelin, ngeselin, ngebetein, gak peka, sok cuek, sok gak peduli, sok kambing”

kita kan udah keluarga, jadi gak perlu dikenal2in lagi”

“Dari seberang telepon sana, saudara jauh berkata, ‘Ya sudah, kalo gitu, mau nggak kalo kamu dikawinin sama orang tua?’ Aku pun menjawab, ‘Maaf, Mas. Saya ga mau dikawinin sama orang tua. Saya masih doyan orang muda.'”

Sampai ada pula yang begini:

“mencabut bulu ketiak itu wajib hukumnya…”

Ah, masa lalu yang menyenangkan ini memang patut dikenang.

Bermain dengan Sugesti #2

< Bermain dengan Sugesti #1

Permainan sugesti itu ada bermacam rupa, Saudara. Salah satunya adalah mengenai rindu.

Pada tulisan “Merindu Pulang” aku mengeluarkan sebuah pernyataan begini:

“… barangkali karena aku tak punya sesuatu atau sesiapa yang kurindukan di sini, atau barangkali sesuatu atau sesiapa itu tidak pagi atau tidak bisa segera aku jumpai, maka wajarlah jikalau ternyata sesampainya aku di Jakarta sini hatiku hampa.”

Kemudian aku pun bermain dengan sugesti. Aku pengaruhi hatiku sendiri untuk rindu bukan kepada sesuatu atau sesiapa yang senyatanya kurindukan, melainkan kepada sesuatu atau sesiapa yang ada dalam jangkauanku. Aku pikir pengalihan kerinduan semacam ini terbukti efektif.

Hari ini aku berencana akan berkumpul kembali dengan kawan-kawan setelah sekian lama tidak berjumpa. Kerinduanku akan mereka dan suasana kebersamaan bersama mereka tentulah sudah lama kupendam. Barangkali satu atau beberapa orang dari mereka membatalkan kepergiannya ke tempat berkumpul secara mendadak. Tentu hal ini akan sangat disesalkan. Daripada menyesal tak berguna, aku pun sudah bersiasat. Akan kulakukan permainan sugesti: rinduku akan kualihkan kepada makanan. Beres sudah! 😀

< Bermain dengan Sugesti #1

What’s in a name…

Salah satu inti kalimatku sewaktu berbincang-bincang dengan seorang kawan adalah begini, Saudara: memangnya jikalau dia mempunyai anak dia akan merelakan aku menjadi pemilih nama untuk anaknya itu.

Beberapa kawan sering menggantungkan keputusannya menggunakan sesuatu pada preferensiku. Misalnya ketika hendak menamai kucing-baru-lahir-nya, si kawan menanyakan apa warna kesukaanku. Maka apabila jawabanku adalah merah jambu, si kawan tadi akan menamakan kucing-baru-lahirnya dengan Pinky.

Misalnya lagi ketika hendak membuat blog pada layanan WordPress.com, si kawan menanyakan apa makanan kesukaanku. Ketika kujawab dengan kebab, aku pikir dia akan membelikanku seporsi besar kebab atau paling tidak membuatkannya. Maka aku pun kecewa ketika kemudian dia melanjutkan dengan memintaku memilihkan tema untuk blog-baru-akan-dibuat-nya.

Tulisan ini sejatinya bukan untuk mengabarkan bahwa aku menyukai warna merah jambu dan makanan kebab, akan tetapi mengenai penyandaran preferensiku dalam menentukan pilihan seseorang. Sejujurnya aku tidak berkeberatan terhadap hal tersebut \toh karena badanku sendiri sudah sedemikian berat\.

Aku hanya sedikit terbebani manakala preferensiku akan menjadi pengaruh besar bagi kehidupan seseorang. Lagi pula, bukanlah seseorang akan merasa lebih puas bilamana keputusannya dalam hal tertentu tidak dipengaruhi oleh preferensi apalagi tekanan dari luar dirinya?

Kepada si kawan sebagaimana kusebutkan di alinea awal, aku menekankan bahwa membuat blog di WordPress.com jauh lebih keren daripada sekadar membuat tulisan-tulisan aneh di titik-titik lain. Sekian.

Hidup Menghidupi

Aku adalah orangnya yang tidak sependapat dengan kalian yang:

  1. menjadi anggota Gerombolan Penumpas Kebajikan; dan atau
  2. memiliki pemikiran bahwa kehidupan di dunia maya terlepas sama sekali dari dunia nyata.

Kan kalian tidak membuka Facebook di dunia mimpi? Kan si Pocong itu tidak lantas membuka Twitter di dunia kubur?

Seperti topeng, karakter orang itu bisa dibuka-pasang berkali-kali, berulang kali berganti. Seperti bunglon pula terkadang, tabiat orang bisa berubah tergantung lingkungannya.

Kawan pun demikian: di taman berbaikan, di lapangan menjadi lawan. Mereka itu datang dan pergi silih berganti, seperti musim layangan yang sebentar lagi tampaknya akan digeser oleh musim gundu. Persahabatan sejati, itulah yang kurindu.

Ada kalanya aku terlalu berusaha keras membangun sebuah persahabatan. Apakah ia sewujud dengan permen karet yang makin sering dikunyah makin keras jadinya?

“Hidup itu harus menghidupi,” begitu kata seorang kawanku almarhum.

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4

Iseng melihat-lihat Draft Posts. Eh nemu tulisan ini. Tak terasa, sudah lebih dari tiga tahun. Revisi terakhir tulisan ini kulihat tanggal 10 Juli 2008 pukul 16:58.

Sebenarnya dulu sudah punya ide jalan cerita dan pengkhataman kisahnya. Akan tetapi… Ya sudahlah. Berikut ini adalah sebuah tulisan tak-terselesaikan dari rangkaian kisah garing nan lapuk (langsung dari kotak draft tanpa disunting):

===

Ini adalah episode terakhir dari tetralogi kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Setelah dua bulan lebih beberapa hari akhirnya penulis menyelesaikannya juga. Untuk itu pertama-tama penulis ingin mengucapkan puji syukur Alhamdulillâh kepada Allâh Subhânahu wata’âla. Tak lupa pula penulis ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, adik-adik, handai taulan. Juga kepada para guru yang telah berhasil mengantarkan penulis hinga menjadi gak-genah writer seperti sekarang ini. Dan yang lebih penting, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian, para fans The-Penampakanz Band, atas segala cacian dan makiannya yang sungguh menusuk kalbu serta segala sambitan yang ditujukan kepada penulis. Thank you very much. Ateng ngguyu makan tomat. Syukran jiddan. Ahlan wa sahlan. Ilal-liqa’. (^_^)v

Seperti telah dijanjikan dalam ¼ episode sebelumnya, pada episode terakhir ini nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band, mulai bagaimana karier copetnya FARIJS, kisah cintanya AANK, KRISNAAA dengan sepeda kesayangannya, IRRR dan para babysitter-nya, serta BNGKY dan gitar tuanya. Pada episode ini juga akan dikisahkan awal mula The-Penampakanz Band menampakkan diri di tengah gegap gempita panggung hiburan dunia demitz, bagaimana mereka mulai memasuki dapur rekaman hingga dapur warteg, dst. Jadi tunggu apa lagi, anak muda serta kaum perempuan kudu gabung dan kudu menang! //Yah, kek kampanye salah satu parpol baru bikinan Mister Sys Ente aja. Buru atu Bang Penulis, segera ceritakan kepada kami!// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 4”

Pertemanan

Memang pertemanan itu tak ada yang abadi. Terlalu banyak dinamika. Dulu waktu SD sudah bersohib karib, akrab sekali. Bisa ke toilet bareng, main bareng, makan satu piring, dsb. Kalau ada si A, pasti ada si B. Waktu kuliah masing-masing merantau ke luar kota. Sampai sekarang tak tahu kemana rimbanya.

Nikah … Katanya kalau satu nikah bakal rame, karena bawa anggota pertemanan baru. Eh nyatanya pas udah mulai pada nikah satu-satu udah mulai hilang dari lingkaran pertemanan. Masing-masing sibuk dengan pasangannya, masing-masing sibuk dengan lingkaran pertemanan baru yang diakibatkan oleh pernikahannya itu.

Derita lajang sisa pertemanan memang, senantiasa sendirian, dengan memegang penuh prinsip-prinsip status quo.

Mohon maaf, hari ini sedang galau gundah gulana bin bambang.

Kawin Dulu Baru Selingkuh

Selamat pagi, Saudara!

Ahad pagi yang cerah, matahari yang bergegas terbit, membuatku jadi tak nyaman tidur sampai siang. Hoho. Ya sudah, tunaikan hajat saja.

Nanti siang hendak pergi ke walimahan nikahnya seorang kawan. Sebaris teks dalam otakku dapt dibaca sebagai: Beruntung sekali dia, dalam hidupnya mulai hari ini akan ada yang mengurus.

Oh, Alhamdulillah. Ada seorang (maksudnya sepasang) lagi yang lulus dari predikat tunaasmara. Lantas bilakah aku?

Baru saja kututup telepon. Tadi berbincang cukup lama dengan seorang kawan yang sudah lama di kampuang nan jauh di mato. Isi perbincangan pun tak jauh-jauh dari pernikahan.

Berceritalah kami tentang bagaimana si fulan menikah, kapan si fulanah melahirkan, dan semacamnya. Rupa-rupanya sudah banyak pula kawan-kawan kami yang berumah tangga, sebagian sudah pula berkembang biak. Lantas giliran kami kapan?

Menikah itu tidak perlu terburu-buru. Kalau sudah waktunya, segerakanlah. Begitu nasehat seorang ustadz kepadaku beberapa tahun yang lalu.

Maka aku pun kembali berpikir, sudah waktunyakah bagiku untuk dapat menyegerakan? Lama kupikir, sembari membuang semua hajatku di pagi yang cerah ini, lantas kudapatkan sebuah jawaban. Adalah bagi mereka yang sudah, sudahlah memang waktunya, dan bagiku waktu belum sampai hingga tak perlulah aku bersegera.

Sudahlah. Takkan lari pula gunung dikejar. Baiknya nanti kupuas-puaskan diri di kondangan nanti. Kalau perlu kubawa serta rantang agar sepulangku dari sana aku tidak bertangan kosong.

😀

Buku-buku itu…

Saudara-saudara, coba perhatikan foto di bawah ini:

 

Buku-bukuku kini...
Buku-bukuku kini...

 

 

Hoho. Foto di atas memang sengaja dibuat gelap, agar segi artistiknya kelihatan. //Halah, bilang aja kagak bisa moto, Bang!//

Buku-bukuku kini
Entah siapa nanti yang akan mengopeni

Buku-bukuku. Sebagian telah berhasil kubaca sampai khatam. Sebagian belum sempat aku berikan kepada beberapa kawan. Sebagian sudah berhasil aku jamah sebagian. Sebagian baru bisa kulihat-lihat beberapa halaman.

Nasibmu kini, buku-bukuku. Tiada tempat yang layak untuk menampungmu di dalam kamar kecilku.

Saudara-saudara, masalah mendasar bagi orang-orang yang gemar membeli buku namun tidak terlalu gemar membaca buku layaknya aku ini adalah tidak terlalu memikirkan bagaimana nasib atau masa depan buku-buku yang dibelinya kelak. Ada solusi?