Pembasmi-Kecoak Berjenggot

farijsvanjava tadi menjadi pahlawan pembasmi kecoak di kosan cewek. hwahaha…!

Ya, Farijs Rider kembali beraksi, Saudara-saudara. Kali ini musuhnya adalah para kecoak alias kakerlak alias kepuyuk alias Lipasjorokus corois. Awalnya sang Farijs Rider mendapat callingan-needed-help dari teman perempuannya karena kamar mandi kosannya diserang segerombolan lipas yang ganas. Sang teman yang kecoafobia itu nyaris putus asa menghadapi segerombolan lipas tersebut hingga akhirnya Farijs Rider datang dengan tiba-tiba. Wusssssh! Farijs Rider dengan gagah perkasa segera menunjukkan kejantanannya.

Layaknya para jagoan film sebelum bertarung melawan tokoh jahat, terjadilah perang kata-kata antara Farijs Rider dengan gerombolan Lipasjorokus corois.

Farijs van Java: Pegi lu lu pade! Jangan mangkal di marih lagi! Ini daerah kekuasaan gue!
Lipasjorokus corois: miwmiwwwkk nuwkkwik mwiiik //translate please// Enak aje! Siape elu??
Farijs van Java: Kalau begitu, bersiaplah untuk menerima seranganku. Hiaaaaaaaattt!

Karena omongan Farijs van Java tak digubris, diindahkan, maupun difitrikan //korban sinetron mode on// akhirnya ia menunjukkan kedigdayaannya. Diluncurkannyalah serangan demi serangan bertubi-tubi ke arah para Lipasjorokus corois. Kaboooomm!! Kapow!! Deziii..iingg!! Plakk!! Pok ame-ame belalang kupu-kupu… Para Lipasjorokus corois tak dapat menahan serangan membabi-bisu dari Farijs van Java tersebut. Mereka pun takluk. Terbuktilah bahwa Farijs Rider memang sakti mandragade!

Senang rasanya berbuat suatu kebaikan. Meskipun itu hanyalah membasmi kecoak di kosan cewek. Di samping kita mendapatkan pahala dari Yang Maha Kuasa //Insyâ Allâh//, kita juga mendapat traktiran makan malam. Hwehe.

Sembari menyembuhkan trauma dan tekanan batin akibat gangguan para lipas, kutemani dia membeli segala perlengkapan antikecoak. Mulai dari semprotan antiserangga, kapur barus, hingga kapur ajaib antikecoak ia beli sekaligus. Meski telah kuyakinkan padanya bahwa para kecoak itu takkan datang lagi, ia bersikeras untuk mempersenjatai dirinya dengan benda-benda itu. Tak apalah, kupikir. Hitung-hitung mengurangi beban mentalnya. Bertekadlah ia untuk menjadi orang yang paling tidak jorok di dunia agar para kecoak tak datang lagi menghampirinya. Wuih, ternyata ada manfaatnya pula kecoak diciptakan di dunia ini. Sesungguhnya Allâh tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia….

Setelah puas membeli segala macam amunisi antikecoak, makanlah kami sate padang. Sate padang pun kami makan. Akhirnya kami makan sate padang. Berceritalah ia tentang asal muasal kecoafobia yang dideritanya. Rupanya ketakutan akan kecoak dimulainya sedari SD. Waktu itu, ketika sedang //maaf// pup, hinggaplah seekor dua sungut kecoak di kakinya. Perasaan merasa terancam nyawa dan jiwanya oleh makhluk kecil mungil menggelikan waktu itu terbawa hingga kini. Duh duh kasihan….

Di saat menikmati sate padang yang baru pertama kali itu kumakan //sungguh, ndak enak banget//, datanglah seorang pengelana bergitar alias pengamen jalanan. Jreng ejreng ejreeeng, jreng jrenggg! Kuberikan selembar rupiah. Terima kasih, Kak//memandang ke arah kawanku//, terima kasih, Om//memandang ke arahku//, ucap si pengamen pamitan. Begitu si pengamen ngeluyur pergi, aku langsung syok! Lemas. Apa?? Dia dipanggil “kakak” sementara aku dipanggil “Oom”??! Tidaaaaaaaakk!

Sebegitu boroskah mukaku memakan usia?? Semirip inikah aku dengan oom-oom yang sedang berkencan dengan gadis abege?? Di saat aku mengutuk mukaku sendiri itu ia tertawa terpingkal-pingkal. Makin lemaslah aku. Huh!

Katanya sih itu gara-gara jenggotku. Jenggotlah yang membuatku tampak belasan tahun lebih tua. Apakah iya, Saudara-saudara? Apakah benar? Sepertinya sih memang ada benarnya juga. Sudah banyak yang berkata seperti itu. Teman-temanku, bos-bosku, pakdhe-budheku. Bahkan ummiku sendiri pernah menyuruhku mencukur jenggotku lantaran takut orang-orang nanti menyangka aku suaminya ketika aku pergi dengannya. Waduhaduh™….

Jenggot, sesungguhnya lewat jenggotlah aku ingin membangkitkan kepercayaan diriku. Bahwa aku dapat menjadi dewasa. Bahwa aku bukan anak kecil lagi. Bahwa aku bisa mulia. Bahwa aku tak butuh orang lain tempat bergantung. Dan yang lebih penting adalah untuk meneguhkan bahwa aku seorang laki-laki. Aku adalah laki-laki! Kalian boleh mencukur kumisku atau membabat habis jambangku. Tapi janganlah sekali-kali kalian memaksaku mencukur jenggotku. Karena ia adalah kelaki-lakianku. Harga diriku!

Dalam kolam ada berudu
Dalam hati ada rindu
Bukan perasaan cemburu atau terharu
Bukan mau berucap I Miss You
Bukan pula I Love You
Cuma ingin berpesan sesuatu
Kalau mau bubu
Pipis dulu!

Ayo laki-laki, tidooooorr…!

v(^_^)

Jualan Mbok-mbok Jamu!

Jamu… jamu…. Siapa yang mau beli mbok-mbok jualan jamu….

(^_^)v

sbg minuman tradisional, beras kencur dikenal sbg mnmn yg brmnfat unt mngtasi pegal2, perut kembung, pghngt badan, dan pnmbh nfsu mkn.

Message delivered to:
(banyak banget orang!)
08-Aug-2008 20:08

SMS dikirim….

SMS diterima….

Beragam balasan SMS kuterima. Ada yang menanyakan ini semacam kuis atau apa. Ada yang menambahkan khasiat beras kencur itu sendiri. Ada yang terbengong-bengong. Ada yang cekikikan sembari berpikiran jorok. Ada yang perhatian kepadaku, menanyakan kesehatanku. Ada yang menanyakan apakah ini semacam promosi MLM. Ada yang memesan jamu. Ada yang memesan mbok-mbok yang jualan jamu. Ada yang … ini yang paling lucu. Ada yang … //nahan ketawa// … bilang kalau diriku ini sudah gila! Hwahaha…. Ups, nggak lucu, ya? Hoho. Maap kalo jayus. Hwehe….

(^_^)v

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gelo

Suwe ora njamu
Njamu gendhong rondho
Suwe orang ketemu
Ketemu pisan ora kondho

Busyet! Jenuh banget. Buhuhu….

Hari ini aku sedang menjalankan sebuah misi yang teramat berbahaya. Sebuah misi dalam rangka menyelamatkan keuangan negara. Sebuah misi yang jika tidak dilaksanakan … halah! Nama misi tersebut cukup keren: Operasi Penghapusan GAME di Seantero Pusdiklat BC!

Ya, ini diriku sedang lembur. Menjalankan titah Surat Tugas yang merujuk kepada Surat Edaran yang teramat aneh. Bahwa dalam rangka melakukan efisiensi keuangan negara, memerintahkan segala bentuk GAME dalam komputer maupun laptop inventaris kantor. Hoho. Jadi tugasku ini teramat mulia sekali. Menghemat uang negara yang sedang dilanda krisis “koruptor” ini. Dan karena bahwasanya GAME itu juga merusak moral pelakunya, maka diriku juga melaksanakan sebuah misi sosial yang sangat besar. “Masa depan negara ini terletak di pundak Saudara,” begitulah mungkin yang disampaikan Ibu Menteri seandainya aku bertemu dengan beliau. Hwaha….

(^_^)v

Dah ah, makin siang makin lapar makin ngaco saja. Segera tuntaskan misimu, anak muda!

Semangat!

Farijs van Java gaat naar Parijs van Java

Yo!

Ahad kemarin. Dua hari kemarin. Oh, hari Ahad tanggal 8 kemarin. |sigh|

Ahad itu aku ke Bandung, bersama teman-teman. Kami bertiga, dengan menunggangi travel, berangkat jam 7.30 dari Bintaro Trade Center (BTC) menuju Cihampelas, Bandung. //Sempat melewati BTC juga. Bandung Trade Center. Hoho.// Jalan-jalan? Rekreasi? Tamasya? Piknik? Atau studi banding? Bukan! Tapi untuk suatu urusan yang wajib: menghadiri walimah pernikahan saudara kami, Kudang Boro Suminar. Mengapa ke Bandung? Ya karena memang resepsi pernikahannya di Bandung. Tepatnya di Jalan Asia-Afrika 114, Bandung. Lebih tepatnya di Gedung Keuangan Negara (GKN), Bandung. Di depan Hotel Grand Preanger persis.

Pukul 9.58 sampailah kami di Cihampelas. Menurut petunjuk si Gendut yang kutanya tadi malamnya, kami bisa naik angkot hijau jurusan Ledeng-Kalapa arah Kalapa untuk sampai di GKN. Naiklah kami dalam salah satu angkot hijau yang kami temui. Kejadian meng-uwâw-kan pertama: //Catatan: uwâw = kagum. Jadi meng-uwâw-kan = mengagumkan, mencengangkan. Kata “uwâw” diucapkan secara cepat di huruf “u”-nya kemudian diteruskan dengan melafalkan “wâ”-nya diucapkan secara halus sepanjang tiga ketukan dan akhirnya jatuh di huruf mati “w” dengan empuk. Ayo ucapkan bersama-sama: uwâw….//

“Ke Asia-Afrika, Pak?”

“Iya. Naik….”

Naiklah kami; dengan perasaan takjub akan kota Bandung. Uwâw…. Jalan-jalan raya yang tidak terlalu raya. Sempit. Merupakan jalan satu arah. Benar-benar meng-uwâw-kan. Tibalah kami di suatu jalan. Jalan Tamblong. Aku melihat gedung bertuliskan GRAND PREANGER.

“Loh, bukannya kata si Gendut GKN itu di depan Hotel Preanger?” kataku dalam hati.

“Eh, itu Hotel Preanger. Berarti GKN di situ, dong,” kataku pada kedua kawan sembari menunjuk ke arah yang berlawanan dengan GRAND PREANGER.

“Oh, iya ya. Tapi kok…masak itu GKN sih?” jawab kawan A.

“Iya, masak GKN berterali tertutup gitu…” timpal kawan B.

“Mbak, tahu Jalan Asia-Afrika nggak?” tanya kawan B kepada seorang penumpang.

“Ini Asia-Afrika,” jawab si Teteh. //Mbak = Teteh//

“Mas, kalau GKN di sebelah mana?” tanya kawan A kepada si supir angkot.

“Itu, di depan,” jawab kang supir. //Kang = Mas//

Kami bertiga berdecak “Oh….” dengan memalukannya.

Turunlah kami dari angkot setelah melihat sebuah gedung bertuliskan “Gedung Keuangan Negara”. Oh, ternyata Jalan Tamblong itu memotong Jalan Asia-Afrika menjadi dua blok. Sementara GKN ada di tepi perpotongan Jalan Tamblong dan Jalan Asia-Afrika. Grand Preanger tepat di depannya, di tepi perpotongan kedua jalan itu juga.

Waktu baru menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Sementara acara resepsi dimulai pukul 11. Jadilah kami menunggu di depan masjid kompleks GKN tersebut. Pas hampir pukul 11, rombongan pengantin keluar dari masjid tersebut. Akad nikahnya memang dilaksanakan di masjid tersebut, pada pukul 8.30-nya. Dan sebelum resepsi dimulai rombongan berdiam di dalam masjid. Waktu kedua mempelai keluar //yang notabene mempelai laki-laki adalah teman kami// uwâw…! Gagah sekali teman kami itu. Di sampingnya itu siapa, ya? Kok berani-beraninya merangkul tangan teman kami? Oh, iya benar. Dia istri teman kami. Istri-baru-jadinya. Hoho. Kami hanya bisa melongo di belakang rombongan.

Rombongan menaiki mobil menuju ruang resepsi. Tak berselang lama kami pun mengikuti. Di depan ruang resepsi…kejadian meng-uwâw-kan kedua berlangsung. Mojang-mojang Bandung, saudara-saudara! Bertindak sebagai penerima tamu! Uwâw…! Cantik-cantik nian. Berjilbab hijau, berkebaya hijau. Wah, semua hijau. Hijau itu memang indah! //Mau dong dilamarin. Hwehe….//

BERSAMBUNG

//Hwehe. Lagi sibuk, saudara-saudara. Belum sempat melanjutkan. Nantilah kapan-kapan kulanjutkan kisah Farijs van Java gaat naar Parijs van Java ini. Dijamin seru, pokoknya jaminan mutu, lah. Hoho. Semangat!//

Another Karma

Nenekku pernah mengatakan kepadaku bahwa berdasarkan hasil riset yang dilakukan para sesepuh orang Jawa, sebagian besar //jauh lebih besar daripada 68%// penyakit manusia bersumber dari perut. Ya, perut yang ada udelnya itu. Maksudnya adalah sebagian besar penyakit disebabkan karena masalah pencernaan, entah itu salah makan, makan tak teratur, kurang makan, kelebihan makan, makan yang bukan haknya, dsb. //Termasuk makan pion catur, makan asam dan garam kehidupan, dan makan kambing.//

Setelah cukup berpengalaman dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, aku menjadi semakin paham bahwa hasil riset para sesepuh Jawa itu adalah benar. Buktinya adalah apa yang akan kuceritakan dalam postingan ini nanti.

Karma. Sesungguhnya apakah arti karma? Karma adalah hukum sebab-akibat, barangsiapa berbuat suatu sebab, maka ia akan menuai akibat. Mengapa pula postingan ini kuberi judul “Another Karma”? Yah, karena cerita berikut ini mungkin terkait dengan postinganku sebelumnya yang berjudul “Kabur vs Karma“. Ada baiknya segera kuceritakan kisah yang kualami berikut ini:

Kisah ini mungkin berawal dari kisah kaburnya tiga pendekar-kir hingga akhirnya terdampar di sebuah tempat bernama Dunkin’ (lihat kembali “Kabur vs Karma“). Atau mungkin juga berawal dari kisahku mengenai angin di Jakarta dalam “Jakaruta no Kaze“. Yah, entah dari mana pun awal mula kisah ini, yang jelas kisah berikut ini begitu tragis.

Pada hari ini, Sabtu, 10 Mei 2008, aku merasakan ada yang tidak biasa dengan perutku //lagi-lagi//. Perutku sakit, sangat melilit. Kupikir ini karena kemarinnya aku memaksakan diri berlari keliling lapangan lima putaran hingga aku nyaris pingsan! Tapi kemudian perutku yang melilit itu semakin menjurus ke arah mules. Walhasil, berkali-kali aku sukses bolak-balik ke WC. Sungguh tragis….

buhuhu..
ToT
mbak, perutku skt..skt bgt!
kèkny ini another karma, dèh.
yah, doain biar cpt smbh y.
dah brkali2 bolakbalik ke wc nih..
buhuhu..

Delivered to:
A lotta mbakmbaks
//Kenapa pasti ngadunya ke mbak2…//

Date and time:
10-May-2008
11:01:35

Beragam jawaban dari mbak-mbak yang kutuai. Ada beberapa mbak-mbak yang dengan sangat bijaknya menyarankan agar aku minum teh pahit hangat //tanpa gula//. Semakin hangat dan semakin pahit semakin bagus katanya. Ada pula dua mbak-mbak yang merekomendasikan agar aku minum air putih yang banyak karena cairan tubuhku sudah banyak berkurang. Ada yang menyuruhku minum obat dan pergi ke klinik dokter 24 jam. Ada pula yang dengan tenangnya menasihatiku agar bersabar, karena dengan begitu Allâh akan menggugurkan dosa-dosaku. Yah, jadi teringat akan postinganku cobaan (lihat postingan “Cobaan“). Meski banyak yang bereaksi positif, tak sedikit pula yang menyukuri sakitku ini dengan berkomentar seperti:

Sukurin, lu.
Makanya, jangan suka godain anak gadis orang mulu.
Kena karma tuh.
wkwkwkwkwk

Buhuhuhu…. Kena karma apalagi, Mbak? //Tapi keknya iya juga, sih. Loh?// Ada lagi yang berkomentar seperti ini:

Merawanin anak pak haji, lu ye?
Kacaw, lu…
Tp ada positifnya.
Abis ni lu ga ndut lg ;p

Yang ini apa lagi? MasyaAllâh…. Anak pak hai yang mana dulu ini? Haji Sabeni, Haji Sapii, Haji Romli, ato haji yang mana lagi nih? ToT

Overall, semuanya mendoakanku semoga lekas sembuh. Thanks, guys. Thanks, gurls. Danke schön. Semuanya, terima kasih. Berkat doa kalian aku sekarang sudah baikan. Alhamdulillâh. Yah, meskipun akhirnya aku tak bisa datang ke walimah pernikahan temanku, Umar Doni. Dari sini aku hanya bisa mendoakan semoga pernikahan kalian berdua dibarakahi oleh Allâh. Semoga kalian dapat menjalani hidup yang penuh barakah. Amin.

Giliranku … kapan?

(^_^)v

Minna genki?

Postingan yang kemungkinan terkait: (manually generated)

Kabur vs Karma

Jakaruta no Kaze

Cobaan

Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3¾

Dalam ¾ episode sebelumnya telah dikisahkan kehidupan karier AANK, BNGKY, dan KRISNAAA sebagai musisi jalanan. Kemudian bergabunglah IRRR ke dalam grup pengamen mereka tersebut. Pada episode kali ini, akan diceritakan bagaimana kelima calon personil The-Penampakanz Band memulai kariernya dari bawah. Bagaimana keempat grup pengamen cikal bakal The-Penampakanz Band yang beranggotakan BNGKY, AANK, KRISNAAA, dan IRRR menjalani hari-harinya. Juga dikisahkan bagaimana FARIJS menjalani kehidupannya di pengungsian. Dalam episode ini juga akan dikisahkan … //Ah, kelamaan nih intronya. Buru atuh, Bang Penulis. Sok masuk ke ceritanya.//

Oke. Sekarang mari kita mulai episode kali ini. Sebelum kita lanjutkan, terlebih dahulu penulis informasikan bahwa ini adalah episode 3¾ dari total 4 episode “Perjalanan The-Penampakanz Band”. Harap pembaca catat bahwa penulis tidak bermaksud ikut-ikutan Bang Andrea Hirata dengan tetralogi “Laskar Pelangi”-nya yang sangat terkenal itu. Penulis memang membuat kisah ini menjadi empat episode karena memang sudah tidak ada ide lagi dalam meneruskan kisah perjalanan mereka. Dan harap pembaca catat juga bahwasanya setelah episode ini masih ada sekitar ¼ episode lagi untuk menggenapkan tetralogi Perjalanan The-Penampakanz Band.

Dalam episode terakhir tersebut nantinya akan diceritakan kehidupan pribadi masing-masing personil The-Penampakanz Band. Mulai bagaimana pertobatan FARIJS, apakah tobat yang sungguh-sungguh. Bagaimana juga kisah percintaan antara AANK dengan ITEMZ. Tentang KRISNAAA dengan sepeda kuntet kesayangannya, apakah akan dipertemukan kembali, tentang…. //Ah, kelamaan! Udah dong. Penonton udah nggak sabar, nih!//

Ya sudah kalau begitu. Akan kita lanjutkan kisah “Perjalanan The-Penampakanz Band” ini, tentunya setelah kita saksikan pesan-pesan berikut ini. //Huuuu! Penonton kecewa! Kembalikan uang kami! Kembalikan uang kami! [nimpuk-nimpukin telor mata sapi ke penulis]// Lanjutkan membaca “Perjalanan The-Penampakanz Band Episode 3¾”

Tugas Berantai (Delapan Fakta Mengenai Farijs van Java)

//Gara-gara pembalasan dendam kawanku ini, aku disuruh menyelesaikan tugas berikut ini. Yah, dengan sangat terpaksa kuselesaikan juga. Waduhaduh™….//

Aturan pengerjaan tugas:

1. Postinglah aturan pengerjaan tugas ini di dalam blog Anda.
2. Tulis delapan kebiasaan atau fakta tentang diri Anda (pilih secara acak).
3. Di bagian akhir tulisan, tulis delapan nama teman Anda yang ingin Anda suruh untuk mengerjakan tugas ini juga.
4. Jangan lupa untuk memberitahu delapan orang tersebut agar mereka membaca blog Anda dan kemudian mengerjakan tugas ini juga.
5. Tersenyumlah dengan penuh rasa puas setelah Anda menyelesaikan tugas ini.

Delapan Fakta Mengenai Farijs van Java:

SATU

Farijs sangat suka memakai kaos kaki.

Entah kebiasaan ini berawal sejak kapan, Farijs suka memakai kaos kaki. Waktu di rumah maupun kos, kaos kaki hampir tak pernah lepas dari kedua kakinya. Baik hari sedang hujan maupun sedang panas-terik, kaos kaki selalu menemani langkahnya (di rumah maupun di kos). Bahkan sampai tidur pun kaos kaki tak pernah ia lepas.

Ketika tidur, Farijs harus memakai kaos kaki. Sudah menjadi kebiasaan yang tak tahu sedari kapan bermula, Farijs akan susah tidur jikalau tidak memakai kaos kaki. “Dingin,” jawabnya ringan sembari ngemut lolipop.

DUA

Farijs sangat suka kecap, terutama ketjap tjap poelo djawa.

Farijs memang menyukai olahan keledai, eh kedelai, yang satu ini. Makanan apa saja dikecapinya. Tempe goreng, tahu rebus, kerupuk, mi ayam, soto, bahkan sampai sayur bayam pun ia “olesi” kecap.

Dari sekian banyak merk kecap yang beredar di pasaran, Farijs paling menyukai kecap Tjap Poelo Djawa. Kecap yang made in Pekalongan ini memang paling yahud. Sudah kental, hitam, manis pula rasanya. Dijamin akan mak nyuss apabila kecap ini Anda “taburkan” pada segala macam makanan.

TIGA

Farijs sangat suka minum kopi.

Entah sejak zaman apa, Farijs sampai hari ini suka minum kopi. Awalnya sedari kecil Farijs suka minum teh. Namun entah mengapa, sejak duduk di bangku kuliah kesukaan akan teh ini menjadi beralih ke kopi.

Kopi selalu menemani harinya. Tiada hari tanpa kopi bagi Farijs, kecuali hari libur. Bahkan sewaktu penulis mengetik postingan ini Farijs sedang menikmati secangkir kopi hangat. “Srpppppp…! Enyak enyak enyak….” begitu kata si Farijs sembari menyeruput kopinya ketika ditanya apa kabarnya hari ini.

EMPAT

Farijs ingin menjadi duta besar suatu hari nanti.

Entah dari mana asal ide ini, Farijs semakin hari semakin bersemangat ingin menjadi seorang duta besar. Ya, duta besar atau yang lebih sering disingkat dengan dubes. Farijs sangat ingin menjadi wakil diplomatik tertinggi yang mewakili pemerintah Indonesia di negara lain. Terserah di negara mana. Di negara antah berantah pun okelah. Di negara Republik Mimpi juga oke.

Farijs ingin di hari tuanya ia tinggal di luar negeri, jauh dari tanah air yang semakin carut-marut ini. Bersama sang istri tercinta, ia ingin hidup secara bebas di luar sana. Tenang dan nyaman, sembari memimpin sebuah “negara dalam negara”. Nikmatnya….

LIMA

Farijs paling tidak suka pedas.

Farijs paling anti dengan makanan yang pedas. Lidah serta bibirnya sangat tidak bisa menerima asupan-asupan makanan (maupun minuman) yang berasa pedas. Seolah-olah terbakar bibir maupun lidah Farijs apabila ia memakan (atau meminum) sesuatu yang pedas. Yah, sepertinya Farijs ini tidak akan betah berlama-lama di neraka.

Selain makanan atau minuman yang pedas, Farijs juga tidak menyukai perkataan yang pedas. Apabila makan atau minum yang pedas-pedas lidah dan bibirnya terasa terbakar, maka kalau mendengar perkataan yang pedas, hatinya akan terbakar.

Berkebalikan dengan itu, Farijs ternyata menyukai perempuan yang pedas (hot). Apabila ia melihat perempuan yang pedas, matanya langsung terbakar. Syahwatnya langsung membara, membakar seluruh urat nadinya. Makanya meskipun menyukai perempuan yang pedas, namun Farijs tidak kuat betah berlama-lama melihat perempuan yang pedas. Repotnya jadi Farijs….

ENAM

Farijs paling tidak suka ditarik lengan bajunya.

Sejak zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda tampan bernama Farijs van Java yang sangat tidak menyukai lengan bajunya tertarik. Apabila ada orang lain yang sengaja maupun tidak sengaja menarik lengan bajunya, pastilah orang tersebut babak belur keesokan harinya.

Yah, tanpa memiliki alasan yang masuk akal dengan tanpa pembuktian secara ilmiah, Farijs tidak menyukai lengan bajunya ditarik orang. Kalau ditarik monyet sih sudah pasti Farijs tidak akan marah. Farijs akan sangat memakluminya, secara monyet pastilah iri karena tidak memakai baju seperti yang ia pakai. “Monyet sirik tanda tak mampu,” tukas si Farijs sambil nyengir.

TUJUH

Farijs jarang sekali menghitung uang kembalian.

Tanpa bermaksud menyamai ataupun mencontek hasil kerjaan tugasnya si Pe, penulis nyatakan bahwa Farijs memang paling malas menghitung uang kembalian. Mau bagaimana lagi, Farijs kan orangnya memang terlalu suka percayaan. Segalanya dijalankan atas dasar sistem kepercayaan yang berlebihan. Makanya, Farijs berpotensi tinggi untuk terjangkit penyakit kecewa.

Setiap kali membeli sesuatu, entah itu di warteg, swalayan, atau di emperan jalan, Farijs selalu percaya kepada yang memberikan uang kembalian. Langsung saja uang kembaliannya ia masukkan ke dalam kantong celananya. Yah, berisiko sekali. Berisiko kena tipu. Berisiko terbohongi (terbohongi = dibohongi secara tidak sengaja). Berisiko pula mengambil sesuatu yang bukan haknya. Yang terakhir inilah yang Farijs khawatirkan. Makanya, mulai sekarang Farijs bertekad untuk menghitung uang kembalian terlebih dahulu sebelum meninggalkan kasir atau penjual yang bersangkutan.

DELAPAN

Farijs sedang ingin membuat font.

Sejak mengenal dan mulai menyukai dunia tipografi, Farijs bercita-cita ingin membuat sebuah (atau beberapa buah) font buatan sendiri. Apalagi setelah mengetahui ada opensource software untuk membuat font, yaitu FontForge. Namun impian itu kemudian berhamburan setelah Farijs tidak mengerti bagaimana cara menginstal software tersebut. Ditambah lagi sekarang komputer kesayangan Farijs sudah meninggal dunia. Sungguh malang….

Sekarang lain lagi, Farijs kembali bersemangat ingin meraih cita-citanya tersebut setelah mengetahui bahwa aplikasi yang sudah dimilikinya, CorelDRAW, bisa digunakan untuk membuat font. Yah, meski tidak terlalu lengkap fiturnya sebagaimana yang dimiliki aplikasi yang memang khusus untuk membuat font. Ayo semangat, Farijs!

Font pertama yang ingin Farijs buat adalah bertema huruf Jawa Hanacaraka. Nama font-nya malah sudah ia siapkan: DR Van Java. Ya, Farijs ingin membuat font latin yang mirip dengan aksara Jawa tersebut. Meski sekarang sudah ada orang yang membuat produk tersebut, namun font yang ingin Farijs buat itu berbeda dari yang sudah ada. Karena desain huruf-huruf yang mirip dengan aksara Jawa tersebut sudah ia peroleh sejak SD. Semoga saja Farijs dapat membuat font tersebut. “InsyaAllâh, segera setelah aku mendapat rapelan dan membeli komputer baru,” kata Farijs sambil terisak, terharu, sedih.

Untuk selanjutnya, Farijs ingin membuat berbagai font untuk media cetak. Font serif, maupun sans-serif, yang beberapa desainnya sudah ia buat. Yah, ada kemungkinan Farijs ingin beralih profesi menjadi ahli tipografi profesional. Kita doakan saja….

Begitulah kiranya delapan fakta mengenai Farijs van Java. Demikian daripada itu, penulis ingin memberi komando kepada orang-orang yang tertera dalam senarai berikut di bawah ini untuk mengerjakan tugas seperti ini. Orang-orang yang sial tersebut antara lain:

1. IRRRR (PR terselesaikan!)
2. NAIA (PR terselesaikan!)
3. NEK WINDA (PR terselesaikan!)
4. PAKDHE DHIMAS
5. GARING
6. BENGKY (PR terselesaikan!)
7. ART87
8. ANTHO HIU (PR terselesaikan!)

Semoga kedelapan orang ini dapat mengamalkan apa yang penulis perintahkan. Dan ingat, jangan menyontek!

(^_^)v

Dari NAC, Farah, Stationery, sampai Pensiun

Sabtu kemarin seperti biasa aku melakukan sebuah perjalanan panjang nan berliku //dengan aral rintangan menghadang di hadapan// dari Rawamangun ke Bintaro. Bismillâh, aku pergi berniatkan mencari ridha-Mu, Yâ Allâh. Pukul 9.34 sudah sampai di kampus. Padahal janjiannya pukul 10.30. //Selalu over-ontime!// Untungnya bertemu beberapa kawan seangkatan. Akhirnya ngobrol-ngobrol tentang bermacam hal, termasuk rencana perpisahan tanggal 19 nanti. //Yah, nggak janji bisa ikut aku. Dah jauh-jauh hari ada rencana kegiatan lain.//

Pertemuan selesai sekitar pukul 13. Aku bermaksud menengok //atau melawat atau meninjau// kegiatan NAC yang hari itu adalah pelaksanaan Seleksi Pendahuluan. Tak menyangka tahun ini ternyata ada 110 tim yang terdaftar sebagai peserta NAC 2008, jauh melebihi tahun lalu yang 70-an. Alhamdulillâh. Sewaktu menilik posko NAC, terlihat hanya ada dua orang, para sekretaris NAC, yang ada di situ. Mereka sedang mencetak sertifikat untuk para peserta. Di sekeliling mereka … busyet! Barang-barang berantakan! Segala potongan kertas, plastik, gunting, amplop, bantal, dan sebagainya semuanya berhamburan, tercecer di semua titik dalam ruangan tersebut. Seakan baru saja terjadi gempa berkekuatan tujuh skala richter. Kondisi yang jauh lebih parah daripada tahun lalu di saat serupa. //Dasar panitia sekarang ga ada yang rajin beres-beres kek aku dulu, nih!//

Setelah puas menilik aku bergegas pergi menuju Blok M. Di sana aku bermaksud mencari tas baru karena tas yang lama sudah usang dan berlubang. Sekalian ingin mampir ke Toko GA di Plaza Blok M untuk mencari binder loose leaf. Sesampainya di toko buku tersebut aku bergegas pergi ke bagian stationery. Kulihat tas-tas di sana jelek semua. Urung kubeli tas di situ. Kemudian aku beralih ke bagian buku-buku Islam. Teringat akan pesan seorang kawan //mbak-mbak, teteup// yang minta dicarikan nama perempuan untuk calon keponakannya. Sekalian saja aku melihat-lihat buku tentang nama-nama bayi.

Setelah lama memindai, kutemukan beberapa nama. Di antaranya adalah Fayrûz Fâtin yang berarti “permata yang mengagumkan.” Nama cantik untuk seorang anak perempuan yang cantik. //Cantik.// Di deretan nama-nama berawalan huruf F lainnya kudapati nama Farah (baca: Faroh) yang berarti kesenangan, bergembira. Tiba-tiba dalam anganku terbayang sesosok perempuan, kawan semasa SMA, yang bernama Faroh. Langsung terasa nostalgik. Hatiku merasakan kerinduan yang luar biasa akan dirinya. Faroh Arina Zulfa. Ya, aku tiba-tiba rindu padanya.

FIOL FAHRUN ARAZA, nama sandi yang sering disebutnya yang ia bentuk dari susunan acak huruf-huruf pada namanya, tiba-tiba terngiang dalam benakku. Sosok yang hangat dan lembut, itulah Faroh. Teman sekelasku dulu waktu kelas satu SMA. Juga teman satu tim dalam ekstraturikular KIR. Pernah juga bersama-sama mewakili sekolah menjadi tim penyusun makalah penelitian. Tentang pompa air kalau tidak salah.

Sosok yang ramah itu tiba-tiba tebersit dalam ingatanku. Ia yang selalu berbalutkan baju panjang dan nan lebar, memenuhi otakku kala itu. Yah, mengapa aku jadi begitu rindu. Sampai-sampai malam harinya ia hadir ke dalam mimpiku.

Kami masih berhubungan //maksudnya saling kontak-kontakan!// sewaktu kami sama-sama mulai memasuki dunia kampus. Awal-awal perkuliahan itu kami masih saling berbalas SMS. Terakhir aku terima SMS darinya ketika lebaran 2005. Sesudah itu dia gone with the wind. //Halah, sok english lagi!// Nomor ponselnya entah mengapa tak bisa kuhubungi lagi. Pudar sudah silaturahim yang terjalin. Aku hanya bisa berdoa semoga engkau selalu dalam kebaikan. Semoga engkau selalu dalam lindungan, rahmat, dan hidayah Allâh.

Sekian lama aku berdiri di depan rak buku-buku Islam sementara hari semakin sore. Kuletakkan kembali buku tentang nama-nama bayi di tempatnya semula. Kemudian bergegas kembali ke bagian stationery. Segera kucari binder loose leaf. Sebuah binder yang pengaitnya dari plastik, bukan dari besi. //Sewaktu kuliah, aku pernah mempunyai sebuah binder yang pengaitnya dari besi. Sekarang pengaitnya tersebut sudah berkarat. Karena itu aku sekarang mencari binder yang berbuat dari plastik.//

Ada beraneka ragam binder plastik di situ. Beragam warna dan model. //Baru tahu aku kalau ternyata binder itu ada beragam bentuk dan model. Ada yang cara membuka pengaitnya dengan cara ditekan, ditarik, direnggangkan, dsb.// Ada yang bermerk Kokuyo (dari Jepang) dan ada Pantone Universe. Kuambil binder yang nyantol di hati. Sebuah binder Kokuyo berukuran besar (B5). Namun setelah kutilik harganya … wow! MasyaAllâh! Harganya nyaris Rp 80 ribu! Kulihat yang bermerk  Pantone dengan ukuran yang sama harganya Rp 60 ribu lebih sedikit. Mahal sekali. Padahal binder yang seperti waktu masih kuliah dulu, dengan ukuran yang sama, harganya tidak sampai Rp 40 ribu. Mengapa harganya jauh begitu berbeda? Nyaris dua kali lipat. Busyet! Apakah ini gara-gara ia produk impor yang terkena bea masuk yang tinggi? Bisa jadi. Bisa jadi pula karena telah dibebani beragam pajak yang kawanku dari spesialisasi perpajakan saja mungkin kerepotan menghitungnya. Lagi-lagi aku kecewa dengan kondisi pasar //dalam arti luas menurut ekonomi// dalam negeri.

Ironis memang. Hampir semua stationery yang dijajakan di situ berasal dari mancanegara. Ada yang dari Jerman, Cina, Jepang, dan Korea. Apakah perusahaan-perusahaan domestik tidak ada yang bergerak di bidang stationery? Atau apabila ada apakah produk-produk mereka kalah bersaing dengan produk-produk impor? //Yah, kebalikan dari ayam kate: kalah di kandang sendiri.// Atau mungkin produk-produk stationery kita diekspor semua ke luar negeri seperti halnya minyak bumi kita? Atau apakah ini yang dimaksud dengan ekonomi biaya tinggi? Lagi-lagi kecewa dengan pasar domestik.

Urung kubeli binder tersebut. Keluar dari toko tanpa membeli apapun. Yah, mau bagaimana lagi. Uang yang kubawa hanya cukup untuk membeli tas. Tak ingin kuulang kejadian minggu lalunya yang berencana membeli tas malah sweater yang terbeli. Memang dasar tidak mahir berbelanja. //Atau tidak kuat hati menahan diri? ^^//

Segera saja kuberpindah ke Mal Blok M, mencari tas. Aku masuk ke sebuah swalayan di situ yang sedang memberi banyak diskon. Sekian lama aku bolak-balik di kios yang memajang tas-tas. Setelah memperhatikan dengan saksama //dan dalam tempo yang lama// kuputuskan untuk membeli tas hitam yang kuminati. //Sayang tas yang itu tidak kena diskon Kata mas penjaganya, itu karena tas dengan merk dimaksud punya kualitas yang bagus. Alasan yang nggak nyambung menurutku.// Tanpa sadar aku sudah berada di depan kasir. //Emang dari tadi nyadar, mas?// Kukeluarkan sejumlah uang yang tak etis untuk kusebut di sini. //Takut melanggar UU ITE soalnya. Halah, nggak nyambung!// Hati pun puas karena sudah mendapatkan barang yang diinginkan.

Sesampainya di kos, aku bersedih hati. Mengapa? Karena harus berpisah dengan tas lamaku yang usang ini. “Oh, tas tuaku. Jasa-jasamu tiada tara.” //Hiks… hiks…// Sekarang tas lama itu kugantung di sudut kamar. Sebagai balas jasa atas keberanian dan kerja kerasnya selama lebih dari tiga tahun ini, tak kan kubuang ia. //InsyaAllâh.//

“Dengan segala hormat, Anda saya pensiunkan. Sekarang Anda dapat menyandang gelar veteran.”

(^_^)v

“Darah itu merah, Jenderal!”

Weather Report, SMS, and A Friend

//Ceile…. sekarang judulnya sok english. Emang bisa ngartiinnya, penulis?//

Dulu sewaktu masih kuliah, aku sering ber-SMS seperti ini //Seperti ini apa?// dengan salah seorang kawanku se-SMA yang ini. //Yang ini mana?? Seperti biasa nih, penulis lagi nggak jelas!// Tak hanya sekadar iseng sih, tapi sebagai bentuk sapaan karena tak bisa bertatap muka untuk sekian lama. Berikut salah satu SMS yang sering kukirim kepadanya:

Weather report: langit cerah, secerah hatiku.
Activity: beli ayam bakar, biasa.
Situation: rame lancar, aman trkendali.
Condition: lg mo flu, laper.
(^_^)v

Delivered to:
Indah, nama malam
+628CCCCCCCC

Date and time:
XX-Xxx-2007
18:20:11

Jawaban SMS pun beragam. Kadang ia memakai format yang sama seperti SMS-ku itu, kadang langsung menceritakan keadaan dirinya dan Kota Pekalongan. Seterusnya kami ngobrol ngalor-ngidul barat laut-tenggara. Yah, sebuah perkawanan yang sangat manis. Alhamdulillâh.

Namun sekarang sudah tak lagi kami berkirim SMS seperti itu. Segala kontak pun sudah tak lagi terjadi. Entah mengapa, sejak kululus kuliah dia mulai jarang menghubungiku atau membalas SMS-ku. Terakhir ku-SMS dia pada Ahad malam kemarin.

Weather report: ujan.
Activity: nunggu busway dateng.
Location: halte busway kuningan madya utara aini.
Situation: sepi, serem!
Condition: laper (dr td pg lom mkn).

Delivered to:
Indah, nama malam
+628CCCCCCCC

Date and time:
06-Apr-2008
19:55:27

Sama sekali tak ada respon dari dirinya. Sedih.

Yah, semoga engkau baik-baik saja, kawan. Semoga engkau selalu dalam perlindungan Allâh. Semoga engkau senantiasa dalam daftar orang-orang yang Ia beri rahmat. Serta semoga engkau cepat menikah. //Halah! Lagi-lagi nikah. Forget ’bout marriage!//

Pekerjaan Rumah

Yah, sudah lama aku tak dapat pekerjaan rumah alias pe-er alias homework. Terakhir kudapat semasa SMA, tuh. //Waktu kuliah ga ada yang namanya pe-er, yg ada pe-ka alias pekerjaan kos. ^_^// Ini malah kawanku memberiku pe-er meski seharusnya bukan pe-er, tetapi pe-ka alias pekerjaan kantor. Yah, memang dasar si IRRR Setiangatjir kurang kerjaan….

(^_^)v

Ya sudah, kukerjakan saja soal-soal berikut ini:

1. Sebutkan pekerjaan-pekerjaan yang Anda gemari!

Jawaban:

  • Berduaan dengan komputerku //yg sudah meninggal itu//;
  • Makan cokelat dan minum kopi //so pasti…//;
  • Sedang mencoba menggemari membaca dan menulis //semoga berhasil!//;
  • dan lain-lain //kuingat-ingat dulu, ya…//.

2. Sebutkan hal-hal yang Anda sering ucapkan!

Jawaban:

  • Ai… //bukan “ai” bahasa Jepang yang artinya cinta, tapi “ai” kata seru semisal “alamak…”//;
  • Yarhamukallâh //kebiasaan, bila dengar orang berucap Alhamdulillâh aku bilang Yarhamukallâh, meski orang tersebut tidak baru saja bersin//;
  • Welehweleh™… //ini mah bukan diucapkan, tapi diketik pada sms ato komentar-komentar di blog atau di ACS//;
  • Waduhaduh™… //sama seperti “Welehweleh™…”//;
  • Ye… //sama seperti “Waduhaduh™…”//;
  • Yah… //sama seperti “Ye…”//;
  • O //sama seperti “Yah…”//;
  • dan banyak lagi yang lainnya //lupa aku ^_^v//.

3. Sebutkan buku-buku yang sedang Anda baca akhir-akhir ini!

Jawaban:

  • “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” //pinjaman dari kawan, belum selesai dibaca//;
  • “Keunggulan Ekonomi Islam” //buku pemberian seorang kawan//;
  • “Pengantar Mikroekonomi” //pinjaman dari kawan juga; dari dulu kuliah ga paham-paham juga, euy//;
  • dan beberapa buku lainnya //boong//.

4. Sebutkan hal-hal yang ingin Anda lakukan sebelum Anda meninggal!

Jawaban:

  • Menjadi duta besar //hehe, mantap sekali impianku//;
  • Membangun dan meramaikan masjid //ini nih yang butuh konsentrasi tingkat tinggi; ya konsentrasi pikiran, ya konsentrasi material, ya konsentrasi material beneran semacam bata, semen, pasir, dsb//;
  • Melihat para Faris dan Feriska junior sukses dan bahagia //hehe…//.

5. Sebutkan lagu-lagu yang bisa Anda dengarkan lagi dan lagi berulang kali belakangan ini!

Jawaban:

  • “Canon”-nya Johann Pachelbel yang versinya Jerry Chang //wuih, bener-bener mantap!//;
  • “Canon”-nya Johann Pachelbel yang versi pianonya George Winston //yang ini mantap banget!//;
  • “Jangan Takut Gelap” yang dinyanyikan Tasya //jadi keinget masa-masa SMA…//;
  • “Hai Mujahid Muda” yang dinyanyikan Izzatul Islam //majulah wahai mujahid muda…!//;
  • “In Between”-nya Linkin Park //so cool//;
  • “Satu Rindu”-nya Opick //yah, jadi kangen ummi//.

6. Sebutkan hal-hal yang sudah Anda pelajari tahun lalu sampai tahun ini!

Jawaban:

  • Etika memasuki ruangan bidang lain di kantor //mesti ngetuk pintu dulu tuh//;
  • Sahabat seharusnya saling mengingatkan //saling mengingatkanlah dalam kebenaran dan kesabaran//;
  • Sarapan itu penting //baca tulisanku yang ini//;
  • Hati-hati sendirian //baca juga tulisanku yang ini//;
  • dan banyak lagi yang lainnya.

Yah, beginilah usahaku dalam menyelesaikan pe-ka ini. Semoga nilainya memuaskan.

(^_^)v

Ingin kuberikan juga pe-ka ini kepada beberapa kawanku. Namun sayangnya mereka tidak/belum menjelajahi rimba belantara maya ini.

[UPDATE]

Ya sudah, kuberikan PR ini kepada Fauziah dan Endah. Selamat kepada Anda berdua. Semoga Anda bisa mengerjakan PR ini dengan sebaik-baiknya.

NB. Dilarang nyontek, ya…. ^_^)v

[UPDATE LAGI]

Kuberikan PR ini juga kepada Petta Rosetta. //Nih kukasih PR-nya, Dek. Ada-ada aja. PR kok malah diminta.//

(^_^)v