Ngendat

Malam tak lagi purnama. Angin pesisir pun hijrah dari kota. Aku duduk seorang diri di sebuah bangku peron. Pengeras suara stasiun mempermaklumkan keterlambatan datangnya kereta apiku. Dalam keadaan demikian telingaku menyimak senandung radio:

Telah putus cinta kini patah hati ♪
Mau bunuh diri di rel kereta api ♫

\Haha! Ha yo kok bisa pas begitu, ya? Lagi nyawang rel, eladalah lagunya beginian.\

Itulah Rabu malam kemarin, Saudara, kelakuanku ketika hendak beranjak dari tanah kelahiran kembali ke Jakarta.

Kalau disimak-simak, ternyata nada lagunya Jaja Miharja berjudul Putus Cinta tadi mirip dengan lagu zaman kanak-kanakku dulu:

Aduh duh, aduh duh, sakit sekali ♪
Kesandung, kesandung, kesandung batu ♫

Kalian tahu lagu itu?

Ngendat. Artinya bunuh diri, Saudara. Pertama kali tahu kata ini ketika masih SMP, kalau tak salah ingat. “Ngendat” waktu itu adalah judul sebuah cerpen di Majalah Krida. Barangkali karena anggota KORPRI, Bapakku berlangganan majalah ini. Tiap kali beliau pulang kantor bawa majalah ini, langsung kubaca-baca. Pas itu kan lagi zaman-zamannya krismon. Jadi semua isinya hampir bersinggungan dengan krisis moneter itu. Ya beritanya, ya komik Kang Dakri-nya, ya cerpennya. Lanjutkan membaca “Ngendat”

Kedewasaan dan Kesabaran

Seseorang tua baru saja mengirimiku sebuah surat yang berisi pertanyaan mengenai apa itu kedewasaan dan kesabaran, apakah sabar itu artinya tidak boleh marah, lalu apakah dewasa itu marah pada tempatnya, lalu tempatnya di mana. Begitulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang sedang menggelayuti pikirannya di usia senja.

Lantas apa jawabanku? Segera saja surat itu kujawab begini:

Kedewasaan adalah ukuran di mana kita dilegalkan untuk melihat dan melakukan hal-hal dan tindakan-tindakan yang dewasa seperti melihat ketelanjangan dalam wujud seekor rusa atau melakukan diam sebagai wujud protes atau menunggu dan berpikir untuk mengambil tindakan selanjutnya. Dalam hal yang terakhir ini, kedewasaan memiliki wujud kesabaran yang tak ada batasnya sehingga ia dapat melakukan tindakan marah pada waktu, tempat, dan objek yang tepat. Kedewasaan tidak akan mengambil kewenangannya secara sepihak melainkan memikirkannya terlebih dahulu secara cermat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Wujud kedewasaan dapat menjelma antara lain di dalam diri seorang muda manakala ia dapat memetik hikmah dari kebun buah kehidupan serta menerapkannya secara nyata dalam rasa, sikap, dan perbuatannya. Wujud kedewasaan tidak akan pernah ada di dalam diri seorang tua manakala ia membuang hajatnya dan amarahnya tidak pada tempatnya.

Kesabaran adalah sewujud kecil dari rupa kedewasaan. Kesabaran sejati sesungguhnya hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang memiliki kedewasaan lagi kaya akan monyet, nilai-nilai moral, dan ilmu pengetahuan. Kesabaran sejati ini mutlak dimiliki oleh seorang yang menghendaki kebahagiaan dalam hidup dan membuang hajat.

Menurutmu?

Tangga

Tangga selalu diidentikkan dengan naik (ke atas). Misal di permainan ular tangga, mendaki tangga kekuasaan, dsb. Kan ada juga tangga yang khusus dibuat untuk turun (ke bawah)? Mengapa oh mengapa?

Sekian pemikiran tengah malam kali ini. Selamat makan.

Tengah Malam Bersaudara

Akhirnya, selesai pula mendengarkan satu album penuh Koes Bersaudara 1986. Mantap!

Mulai pukul sepuluh malam tadi menyimak acara di Radio Sonora Koes Plus Night d.h. Legenda Musik Nusantara. Sedih sekali, sampai acara berakhir pas tengah malam tadi SMS-ku tidak dibacakan sehingga lagu rikuesku tidak diputarkan. Buhuhu… T~T

Biasa, rikues lagunya Koes Bersaudara yang berjudul Sayangku Untukmu. Kangen sekali mendengarkan lagu itu. Ada kenangan tersendiri.

Iseng, kemudian kucari lagi di internet. Sudah beberapa kali mencari sebelumnya, padahal, tetapi tidak ketemu. Eh, tadi Alhamdulillah ketemu. Satu album pula! Ya sudah, tengah malam ini bernostalgilalah aku dengan satu album penuh Koes Bersaudara 1986 ini.

Yang paling nostalgik adalah lagu Ponirah. Sudah lama pula kucari lagu ini. Keren!

Oh Ponirah
Wo ai ni
Oh Ponirah
Wo ai ni
Aku gelisah selalu bila kau senyum padaku

Kemudian ada pula lagu Kala Rembulan Tersenyum. Ada pula Si Rambut Panjang. Aih, betapa riang hatiku tengah malam ini, Saudara.

Bagaimana tidur kalian? Nyenyakkah?

Ocehan: Yang Mana

Saat ini saya sedang mendengarkan Delta FM yang mana lagu-lagu yang diputarkan cukup mendayu-dayu yang mana dapat sebagai lagu pengantar tidur atawa lagu sebelum bobok yang mana tidak dapat membuatku mengantuk yang mana perutku kepanasan karena menyantap nasi goreng yang pedas yang mana oleh abangnya lupa dan diberinya sambal banyak-banyak yang mana aku harus segera tidur agar supaya tidak diculik oleh peri malam yang mana bulan belum penuh benar sehingga belum ada bidadari dari khayangan yang turun ke bumi untuk mandi yang mana ingin kuintip dan kuambil selendang terbangnya agar supaya aku menjadi terkenal seperti Joko Tarub atau Malim Deman yang mana termasyhur sebagai tokoh dalam dongeng yang mana diceritakannya kisahnya dari mulut ke mulut sebagai dongeng sebelum tidur yang mana dapat membuat anak-anak terlelap dalam tidurnya dan hanyut dalam mimpinya yang indah.

Gaya Tidur Tik Tok

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

Seperti itulah kira-kira bunyi jam dinding di dapur terdengar sampai ke dalam kamarku. Entah mengapa pula di dapur dipasang jam dinding. Menghitung jangka waktu merebus air atau menggoreng ikan, barangkali. Yang jelas bukan untuk menghitung seberapa lama jatah makanan habis.

Wer.. Wer.. Wer..

Begitulah bunyi kipas angin di pojok kamarku. Kencang bunyinya, namun pelan sekali dia berkitar. Tak apalah. Tujuan dia berkitar adalah untuk mengusir nyamuk dan sedikit mengusir hawa gerah.

Aduh, jadi malu dengan salah seorang adik kelasku. Dulu kuejek dia karena tidak bisa tidur tanpa kitaran kipas angin kesayangannya yang berbunyi nyaring itu. Sekarang aku sendiri yang tidur harus ditemani oleh pusaran angin dari kipas anginku.

Apa kabar dia, ya? Sudah lama aku tidak menghubunginya setelah ia bersuami. Toh sudah lupa mungkin dia denganku. Hoho.

Kalian pasti sedang nyenyak tertidur pada pukul segini. Berbeda denganku yang masih terjaga ini. Bosan aku tidur berbaring atau telentang begini. Inginnya sesekali ganti gaya tidur. Bergantung seperti kalong, mungkin. Atau tidur gaya melotot seperti Nemo? Ah, kalau seperti itu sih tidak mungkin. Atau bisa juga mencoba tidur berdiri ala ayam?

Kalian jangan tidur saja, dong. Ayo bantu aku memikirkan gaya tidur yang tidak membosankan. Enak sekali kalian bisa bermimpi indah. Aku juga ingin memimpikan si Indah. :p

Kruk.. Kruyuk..

Bukan begitu bunyi ayam, Saudara. Itu bunyi perutku yang kelaparan.

Jam segini malah lapar; makan apaan, dong? Makan angin bisa kembung nanti.

Ah, sudahlah. Pura-pura tidur saja. Selamat mamam. Nyam nyam!