Perihal Menakik

Hal yang paling membuatku frustasi saat ini adalah kehabisan tinta di saat kepala dipenuhi dengan banyak aksara. Artinya aku tidak bisa lagi menyalin aksara-aksara itu ke atas lembar-lembar nyawa pohon berwujud buku tulis. Dengan demikian sepertinya aku harus pula belajar menakik leherku sehingga getah aksara itu bisa keluar dengan sendirinya. Bagaimana?

My Recent Acquisition

Jadi, Saudara. Tadi malam itu aku ke MOI. Niat janjian dengan kawan-kawan nonton The Internship. Itu loh, filmnya Owen Wilson yang magang di kantornya Google.

Sebelum ke bioskop aku sempatkan mampir dulu ke Gramedia. Ternyata persis di bawahnya bioskop. Aku pun lihat-lihat di bagian pulpen. Setelah lihat sana lihat sini, aku pun tertarik dengan pulpen Sheaffer warna merah bening. Pulpen yang kumaksud di sini tentu saja adalah vulpen atau fountain pen.

Entah Sheaffer seri apa, yang jelas bukan produk keluaran baru. Ringan sekali pulpen ini. Terkesan murahan. Akan tetapi berhubung aku menyukai warna merah transparannya (belum punya pulpen yang transparan), aku beli pulpen ini. Aku rasa harganya Rp265k, tanpa converter.

Si Mbak Pramuniaga aku tanya tentang tinta. Dikeluarkanlah beberapa tinta cartridge dan beberapa tinta botolan. Aku tidak tertarik dengan tinta cartridge, maka aku tidak membelinya. Aku lebih tertarik dengan tinta botolan yang diperlihatkan oleh si Mbak. Karena ada dua botol yang merupakan tinta produk lama Sheaffer. Botolnya unik, seperti botol selai dengan tutupnya yang kaleng.

Aku tanya harga tinta botol itu berapa, si Mbak jawab Rp60k. Aku tahu harga tinta botol Sheaffer yang baru, yang bentuk botolnya mengerucut itu, memang segitu. Tetapi ini kan produk lama, dan di salah satu botol masih tertera label harganya pula. Tertera Rp24k, bukan Rp60k!

Aku coba protes dong ke si Mbak. Si Mbak kemudian BBM ke “bos”-nya. Lama sekali aku menunggu balasan. Aku pikir terlalu mahal membeli tinta “biasa” seharga Rp60k begitu. Tinta Pelikan 4001 lama yang kubeli di Malang dua pekan lalu saja harganya Rp17,3k. Belum lagi tinta Parker Quink harganya cuma Rp27k. Maka tentulah harga tinta Sheaffer Skrip ini memang benar cuma sebesar Rp24k.

Akhirnya si “bos” membalas, dan harga kedua botol tinta ini Rp60k masing-masing. Aku pun mengalah dan membelinya seharga segitu. Lumayanlah untuk menambah koleksi.

Jadi, inilah koleksiku terbaru:

Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip
Pulpen Sheaffer dan Botol Tinta Sheaffer Skrip

Tintailah Parker Vector

Jadi, Saudara, tadi pagi aku membersihkan pulpen Parker Vector-ku. Aku bongkar-bongkar, tuh. Bagi yang ingin tahu bagaimana membongkar Parker Vector, silakan tonton video berikut:

Kemudian aku pun bingung. Haruskah aku menintai pulpen ini?

Parker Vector Metal
Parker Vector Metal

Sejujurnya, aku kurang begitu suka dengan pulpen ini, Saudara. Ketika aku menulis menggunakan pulpen ini, maka aku pun meletakkan jari telunjuk dan jempolku sedemikian rupa sehingga pulpen terpegang dengan nyaman. Akan tetapi bagiku pegangannya ini terlalu licin, Saudara. Apalagi ketika tanganku mulai basah oleh keringat.

Ditambah lagi ujung penanya tidak begitu bagus. Tentu saja ini adalah penilaianku. Sering terjadi “skipping” alias garis terputus apabila kugunakan untuk menulis. Kan tentu ini tidak nyaman, bukan?

Maka, haruskah aku menyimpannya saja dan tak lagi menintainya?

Dari mana datangnya tinta?

Seorang profesor penologi berujar begini:

Maka aku pun kemudian memikirkan begini:

Dari manakah datangnya tinta?

Dari sawah turun ke kali. Ups! 😀

Memulai hobi pulpen atau fountain pen ini sedikit sulit dilakukan di sini. Betapa tidak, Saudara. Tinta yang ada di sini semuanya tidak tahan air (waterproof). Yang aku tahu hanya tinta hitamnya Parker yang tahan air. Tintanya Sheaffer, Lamy, Montblanc, Faber-Castell, Cross, semuanya tidak tahan air. Setidaknya itu yang kutahu.

Di sini itu kan lembab udaranya. Kertas-kertas sering lembab, kemudian berjamur. Kalau tintanya tidak tahan air, ya pasti bakalan luntur. Kalau lunturnya masih menyisakan tulisan yang masih bisa dibaca sih masih mending, yak? Lah ini, lunturnya benar-benar luntur tiada tersisa. Mau bagaimana, coba?

Ditambah, aku adalah orangnya yang kata dokter kelenjar keringat pada telapak tangan cenderung aktif. Jadi kalau menulis seringkali tanganku basah akan keringat. Bagaimana bisa dipaksakan menggunakan tinta yang tidak tahan air ini, coba?

Ada banyak sebenarnya tinta untuk pulpen (fountain pen) di luaran sana yang tahan air, bahkan ada yang disebut bulletproof, ya tahan berbagai cairan kimia semacamnya. Tetapi mereka tidak tersedia di sini. Setidaknya setahuku begitu. Lantas bagaimanakah aku harus bertahan dengan hobi ini, Saudara? Ada ide? Atau ada yang mau mengeksporkan tinta tahan pelurunya ke sini untukku? 😀

Tiga pulpen hitam
Tiga pulpen hitam

I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.

Kutuliskan postingan ini dalam keadaan selangkangan menahan beban air kecil. Sementara di luar sana hujan turun tak berkesudahan seperti kasih ibu kepada beta, karena tak terhingga sepanjang siang ini. Telingaku tidak saja khusyuk mendengarkan orkestra alam ini melainkan juga Simfoni Nomor 7-nya Beethoven (Beethoven’s Symphony No. 7, Opus 92 opening). Adapun teh tubruk di gelas sudah pada masanya mendekati satu tegukan terakhir.

Di hadapanku tergeletak satu buah salak sehingga aroma segarnya terhidu dengan sedapnya. Di sampingnya terdapat buku catatan tempatku mencatatkan kata-kata arkais dan segala hal mengenai Org Mode dan LaTeX. Itulah sejatinya rencanaku dari semula. Sehingga apabila di lain hari buku catatan itu tiada lagi mencatat hal-hal tersebut melainkan hal-hal lain, maka jangan salahkan anjing menggonggong.

Semenjak hari pertama aku memiliki buku catatan itu, semenjak itu pula aku kecewa. Buku catatan semahal itu seharusnya menyenangkan untuk ditulisi, bukan? Akan tetapi kenyataan telah berkata lain, Saudara. Buku catatan tersebut tidak menyenangkan apalagi mengasyikkan karena kertasnya gampang berdarah (bleed-through) alias tertembusi oleh tinta merahku. Haruskah aku menderita karenanya? Oh, tentu saja tidak perlu.

Kertas Tertembus Tinta
Kertas Tertembus Tinta

Lanjutkan membaca “I’ll banter. I’ll brag. I’ll gawk.”

Api Tinta

Ternyata benar apa kata pepatah, Saudara.

Janganlah engkau bermain api jika tak ingin terbakar. Janganlah pula engkau bermain tinta bila tak ingin ternoda.

Kan?

Tangan Ternoda Tinta
Tangan Ternoda Tinta