Bunda

Malam yang hening, pikiranku kembali membuncah. Sujudku pada-Nya, pintaku akan ampunan-Nya, senantiasa tak lekang dari sosoknya. Ummiy.

Sesalku tiada terkira. Ingin segera kubersimpuh di hadapannya. Mencium kedua kakinya. Memohon maaf atas sikapku tadi sore padanya. Ummiy.

kubuka album biru
penuh debu dan usang
kupandangi semua gambar diri
kecil bersih belum ternoda

pikirku pun melayang
dahulu penuh kasih
teringat semua cerita orang
tentang riwayatku

kata mereka diriku s’lalu dimanja
kata mereka diriku s’lalu ditimang

nada-nada yang indah
s’lalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
takkan jadi deritanya

tangan halus dan suci
t’lah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan

kata mereka diriku s’lalu dimanja
kata mereka diriku s’lalu ditimang

oh bunda ada dan tiada dirimu
‘kan selalu ada di dalam hatiku

POTRET – Bunda

Aku tak ingin menjadi pendurhaka. Pun tak ingin beliau gundah gulana. Ingin kulihat darinya sebuah senyum bahagia. Bukan senyum yang menyembunyikan duka. Ummiy.

Seperangkat kain batik berwarna jingga. Tulus ingin kusampaikan kepadanya. Sebagai tebusan atas kedurhakaanku padanya. Sebagai sebuah tanda cinta untuknya. Ummiy.

Bukan suap, bukan pula sihir.

v(^_^)

SPT: Surat Pajak Tanah!

Ummiy: “Lagi ngapain?”

SiAnakNakal: “Hwehe…. Lagi mo mandi.”

Ummiy: “Eeeh, jam segini baru mau mandi? Emang ngapain aja tho Lé?”

SiAnakNakal: “Ya abis lembur, baru aja pulang.”

Ummiy: “Ya tapi mosok yo mandi jam delapan malem gini?”

SiAnakNakal: “Ya mo piyé menèh, Miy?”

Ummiy: “Udah, ndak usah mandi. Kalo mandi malem-malem nanti kamu bisa kena encok. Bisa…bla bla bla… /menjelaskan panjang-lebar-tinggi/”

SiAnakNakal: /Mendengarkan sambil buka baju/ “Inggih, nggih….”

Ummiy: “Oya, tadi ada surat buat kamu.”

SiAnakNakal: “Surat? Surat apaan? Dari mana, Miy?”

Ummiy: “Itu, Surat Pajak Tanah. Emang kamu wis dhuwé tanah, tho Lé?”

SiAnakNakal: “Pajak tanah?”

Ummiy: “Ato jangan-jangan kamu ndak pulang-pulang itu kamu di sana udah kawén ama anaknya juragan tanah, po?”

SiAnakNakal: “Yaelah, Miy. Ya enggak, lah. Ngapain pula aku kawén-nya ama anak juragan tanah. Mending kawén ama anaknya juragan roti , lah.”

Ummiy: “Lha terus kowé kapan muléhé?”

SiAnakNakal: “Ya nantilah, yèn mpun punya anak. Hwehe….”

Ummiy: /Teriak/ “Lééééééé!”

Hoho. Seorang ibu yang merindukan anaknya. Sampai-sampai berkata SPT adalah Surat Pajak Tanah, bukannya Surat PemberiTahuan. Hwehe…

v(^_^)