Baru Tahu: Sinestesia

Hai, pesemangat!

Kuberi kalian tahu akan sesuatu bernama sinestesia: bukan majas atau gaya bermetafora; bukan makanan apalagi mainan, melainkan sebuah fenomena bercampurnya dua rasa yang ditangkap oleh satu indra seakan-akan satu indra yang lain ikut pula merasakannya.

Apabila dengan anestesi/a/ kita mati rasa, maka dengan sinestesia kita mendengar suara sekaligus melihat warna. Terkadang dengannya kita menghidu suara, atau malah melihat aroma.

Kata sinestesia, angka itu berona dan aksara itu penuh warna. Tak ayal lagi, baginya musik serupa nyala kembang api di malam tanpa purnama.

Bahan bacaan:

It’s Alright, Boy

Sudah kalian ketahui, barangkali, kalau perutku ini sedikit sensitif. Diberi susu sapi kebanyakan dikit saja atau diberi makanan sedikit pedas saja perutku ini langsung bereaksi dengan memuntahkan lahar encernya.

Setiap kali perutku demikian, entah mengapa aku selalu teringat sebuah lagu berikut ini yang kutemukan di Youtube beberapa tahun silam. Lagunya sangat menghibur, terutama pada masa-masa sulitku beberapa tahun lalu.

Berikut penggalan liriknya:

It’s alright, boy
I’m right here beside you
Take your time
And get her out of your mind
Hope you realize
She wasn’t right for you
Trust us, boy
We’re on this all day, oh hey

Lagu dengan nada-nada nan indah ini sungguhlah cocok bagi kita, kaum laki-laki, yang sedang sakit terutama sakit perut. Saat mendengarkan lagu ini, seakan-akan kita sedang dinasihati oleh ayah kita, bahwa beliau selalu di samping kita ketika kita sedang menderita dan dirundung duka. Seperti ayahku ketika itu, barangkali.

It’s alright, boy
You can cry it all out
Wash your memories
Allow the time to intrude
You were hungry
You had a terrible fruit
Trust us, boy
So she’ll be flushed from your life

Begitulah. Barangkali nanti, ketika anak lelakiku sudah sedikit besar… ketika ia sudah cukup umur untuk sekadar makan buah… dan dia makan buah yang hampir busuk, mungkin… lalu dia sakit perut… aku akan berkata kepadanya:

“Tak apa, boi. Menangislah. Engkau lapar, lalu oleh Mama diberi makan buah. Buahnya tidak cocok dengan perutmu. Percayailah Papa. Biarkan waktu berjalan, maka seketika ia akan lenyap dari hidupmu. Jangan lupa di-flush, ya.”

Entahlah. Itu nanti. Sekarang, dalam penantianku akan keberangkatan pesawatku, aku hanya bisa berbisik dan seolah-olah berkata kepada anak lelaki yang sedang berbaring lucu menanti dioperasi:

Hang in there, boy…

Rambut yang Melelahkan

Sudah dari kemarin-kemarin ingin kutunjukkan video ini kepada kalian. Tahu Alaa Wardi, kan? Nah, di video ini dia curhat mengenai rambut gondrongnya. Haha!

Seandainya aku lebih kreatif, barangkali aku pun ingin membuat semacam lagu tentang rambutku begitu, Saudara. Haha!

Si Alaa Wardi ini katanya sering dikata-katai seperti kera atau seperti manusia gua gara-gara rambutnya yang “begitu”. Haha. Sejatinya aku ingin rambutku gondrong seperti rambutnya. Tetapi kata si Alaa rambutnya yang begitu itu sungguh melelahkan. Meski begitu, tetapi dia tidak ingin mencukur rambutnya. Haha!

Jadi lewat video itu si Alaa meminta kita mencari solusi perkara rambutnya yang sering mengganggunya itu. Haha. Bagaimana? Kalian ada ide?

That’s Life, Allegedly

Kupikir lagu paling cocok untuk bulan Juli ini adalah lagunya Eyang Frank Sinatra berjudul “That’s Life”, Saudara.

That’s life (that’s life), that’s what all the people say
You’re ridin’ high in April, shot down in May
But I know I’m gonna change that tune
When I’m back on top, back on top in June

I said that’s life (that’s life), and as funny as it may seem
Some people get their kicks stompin’ on a dream
But I don’t let it, let it get me down
‘Cause this fine old world, it keeps spinning around

Sudah sejak empat hari lalu lagu ini kuputar-putar terus berulang kali, \seperti bumi ini yang terus menerus berputar, kan?\ kudengarkan dan kunyanyikan tiada bosan-bosannya. Memang benar apa kata orang, oldies never die.

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate, a poet, a pawn and a king
I’ve been up and down and over and out and I know one thing
Each time I find myself flat on my face
I pick myself up and get back in the race

Dalam hidup, kadang kita merasa sedang di atas, kadang pula kita di bawah. Kadang kita buka puasa dengan sekuali spageti, kadang pula hanya dengan sebiji kurma. Tetapi seperti kawanku si Imam, mari kita mengusahakan agar selalu berbuka dengan si yang manis.

That’s life (that’s life), I tell you I can’t deny it
I thought of quitting, baby, but my heart just ain’t gonna buy it
And if I didn’t think it was worth one single try
I’d jump right on a big bird and then I’d fly

Lanjutkan membaca “That’s Life, Allegedly”

Pengaruh Hobi Pulpen

Apabila kalian sedang “menganggur”, cobalah menyimak video berikut ini:

Tuh, kan. Si Brian Goulet aja bilang kalau kaos berkerah juga nyaman dikenakan. Tak mengapalah kalau terkesan kebapak-bapakan atau keom-oman. 😀

Perhatikanlah pertanyaan pertama tentang bagaimana meyakinkan orang-orang bahwa pulpen (fountain pen) itu berharga dan layak.

Kalau aku, biasanya aku coba pamerkan pulpen-pulpenku. Aku biarkan mereka memeganginya, mencobanya untuk menulis. Ah, andaikan ada tersedia banyak pulpen-pulpen murah di sini, tentu aku takkan enggan untuk memberikannya cuma-cuma kepada orang yang benar-benar antusias. Bagaimana?

Pintu Kemana Saja

Sudah sejak bulan lalu sejatinya aku ingin memosting perihal ini, Saudara. \Karena puasa, barangkali sebagian orang akan sedikit ofensifisasi kurang berkenan.\

Kan kalian tahu aku adalah penggemar Doraemon? Kalian tahu pula kalau malam ini tepat di langit akan ada bulan (moon) yang berbentuk persis seperti kantong ajaib 4-matranya? Maka ingin kusampaikan pula kepada seorang gadis di luar sana, bahwa kita tidak bisa selalu bergantung pada Pintu Kemana Saja.

Apapun perkara kalian, cobalah hadapi sesekali. Jangan kabur terus-terusan. Haha. Aku akan ingat postingan ini pada Jumat depan. 😀

Jadi video di atas adalah PV-nya Doko Demo World-nya Ken Tanaka Band. Kalian tahu Ken Tanaka? \Bukan yang di Glee, woi!\ Dia adalah makhluk nyentrik yang mengarang buku “Everybody Dies: A Children’s Book for Grown Ups“. Buku itu sungguh menyentuh sekali, Saudara. Betapa semua makhluk akan meninggal. Di buku itu dikatakan beberapa orang berusaha menghindari kematian. Beberapa orang malah mencoba “bermain” dengan kematian. Sedangkan yang lain justru tak bisa menunggu kematiannya sendiri \bunuh diri\.

doko demo dowa ga attari, nakattari suru kara yo
(kita tidak bisa selalu mengandalkan Pintu Kemana Saja)

Sebuah lagu yang ringan didengar, ringan pula dilagukan. Tetapi memiliki makna filosofis yang teramat mendalam. Halah. Ini dia versi lain:

Selamat berak hir pekan!

Huruf Gerak

Aku suka dengan huruf. Aku suka dengan rangkaian acak huruf-huruf. Maka aku pun suka dengan film-film animasi pendek berikut:

Aku pernah dua kali bermimpi dikejar-kejar oleh suatu makhluk menyerupai manusia dengan tubuhnya berupa susunan huruf-huruf Bookman Oldstyle. Pada waktu itu memang aku sedang sibuk-sibuknya menyusun dokumen dengan menggunakan huruf itu.

Silakan saja kalian nikmati animasi, juga buah karya Chris Gavin, berikut ini:

Bagaimana?

Oh, Amelia (Video)

Kan kalian sudah tahu lagu dendanganku beberapa waktu lalu bertajuk Oh Amelia? Apabila belum tahu, atau sudah tahu tetapi ingin bernostalgila dengan lagu tersebut, baiklah akan kusajikan sebuah video clip dari Dhea Ananda berikut di bawah ini. Selamat berkarokowe, eh, karaoke. 😀