Takut Waktu

Kalian tahu buku “Puisi-Puisi Remy Sylado: Kerygma dan Martyria”? Yang katanya setebal 1.056 halaman itu? Kira-kira lebih tebal mana dengan buku “Nagabumi”, ya?

Kata Remy Sylado di buku itu, dalam sebuah puisinya berjudul “Jarum Waktu”, takutlah pada masa datang, jangan pada masa lalu.

Kerygma dan Martyria: Puisi-puisi Remy Sylado - Remy Sylado - Google Books
Kerygma dan Martyria: Puisi-puisi Remy Sylado – Remy Sylado – Google Books

Waktu mana yang kalian takuti, Saudara? Aku sungguh takut waktu mati. Siapa bisa menjamin waktu mati kita dalam keadaan baik? Kan?

Bosan

Apa yang kunamakan dengan bosan sesungguhnya tidak lari ke mana-mana dari sekitar jemu. Suatu keadaan kubilang membosankan yaitu ketika keadaan tersebut sudah menjemukan. Mengapa menjemukan? Mengapa membosankan? Karena keadaan tersebut sudah terlalu sering terjadi sehingga menyebabkan aku tidak menyukainya lagi.

Maka ketika terlalu sering waktu terluang, aku pun bosan.

Sekian.

Ide: Jam Dinding

Ide ini tercetus begitu saja, Saudara.

Adalah jam dinding berbentuk piringan bundar, seperti standarnya jam dinding zaman sekarang. Tidak ada angka. Hanya ada satu jarum, yaitu jarum penunjuk hitungan jam. Tidak ada jarum penunjuk menit maupun detik.

Papan bundar sebagai latar belakang satu-satunya jarum yang ada tersebutlah yang dapat menunjukkan menit. Papan akan berubah warna tergantung menit keberapa pada saat itu. Warna merah adalah penunjuk menit pertama, demikian seterusnya warna berubah mengikuti spektrum hingga warna biru sebagai penunjuk menit keenam puluh atau kenol.

Sekian. Selamat berimajinasi.

Kutipan Pekan Ini: Waktu

Beginilah pendapat Pidi Baiq yang menjawab semaunya perihal masa:

Lantas bagaimanakah konsep waktu menurut Pidi Baiq ini jika dipersandingkan dengan konsep waktu menurut Doraemon?

Seribu Detik

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Tak sedetik pun aku akan memikirkanmu

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Takkan kubiarkan kau membuyarkan konsentrasiku

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Jangan harap kau bisa masuk ke dalam otak kiriku

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Selama itu aku takkan pernah ragu untuk melenyapkanmu

Berbekal tekad membaja untuk mengakhiri kekuasaanmu atas benakku
Berharap kemerdekaan itu akan segera datang menyapaku
Hingga seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Aku takkan gentar sedikit pun untuk melawanmu

Seribu detik yang akan datang setelah detik ini
Dan aku akan dengan sukses melupakanmu

Bye bye lapar!

v(^_^)

Waktu

Waktu.
Serasa cepat berlalu.
Entah mengapa, aku merasa selalu menyia-siakan waktu.
Waktuku banyak terbuang.
Kebanyakan kugunakan untuk sesuatu yang tak penting.
Menyesal!
Sungguh menyesal!
Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur.
Waktu yang lalu takkan pernah kembali.
Selanjutnya, semoga tidak terulang lagi.
Semoga dapat kumanfaatkan waktu; seoptimal mungkin.
Kucoba gunakan waktu tersisaku untuk melakukan hal-hal yang penting.
Hal-hal yang berguna.
Semoga bisa!
Ya, Allâh, berilah hamba kekuatan untuk itu.

Semangat!