Batik

Barangkali hari ini hari-hariku penuh dengan batik. Serba batik.

1. Pakai baju batik:

Pulpen Parker Frontier-ku tersangkut di saku kemeja batik. Kalian lihat, kan, ujung klipnya masuk ke dalam jahitan di saku. Ujung anak panah yang menjadi khas pulpen Parker menusuk ke situ.

2. Membasahi map batik dengan tumpahan kopi:

Aku sedang asyik memotong dan menempel kertas motif bunga-bunga di suatu bidang balok tadi pagi. Tak sengaja siku kiriku menyenggol gelas besar penuh kopi panas. Tumpahlah itu kopi. Haha.

3. Ke kota penghasil batik?

Kalau tak ada aral melintang dan gendala menghadang, malam ini aku berangkat ke salah satu kota penghasil batik. Sampai jumpa di sana, Saudara!

Terbawa dari Kota Gudeg

Sungguh kenangan yang istimewa bepergian ke Yogyakarta tempo hari kemarin.

Berikut ini adalah beberapa kepingan kenangan tersebut. Tentu saja yang ingin kutunjukkan kepada kalian di sini adalah yang aneh-aneh atau yang absurd. 😛

Bencong Pengamen Ewer-Ewer
Bencong Pengamen Ewer-Ewer

Sudah banyak kudengar dari rekan-rekan kantor tentang legenda hidup Bencong Pengamen Ewer-Ewer yang seringkali muncul di kereta api ekonomi tujuan ke Yogyakarta. Katanya sosok itu akan muncul saat pagi tatkala kereta melintas di daerah Wates. Lanjutkan membaca “Terbawa dari Kota Gudeg”

Yang Tua Yang ‘Cool’, di Jogja

Berikut ini adalah beberapa pose keren yang berhasil kupotret dari beberapa orang yang sudah sepuh di Yogyakarta:

Bagaimana, Saudara? Mereka keren-keren, bukan?

Nah, kalau yang di bawah ini keren juga, tidak? (ninja) Lanjutkan membaca “Yang Tua Yang ‘Cool’, di Jogja”

Perhatikan Toilet Yogyakarta

Biasanya Bung Asop nih yang hobi membahas hal-hal beginian.

Baiklah. Berikut ini adalah pengumuman atau kertas petunjuk yang kutemukan di pintu sebuah toilet umum di sebuah SPBU di Yogyakarta:

Siram Sampai Wujudnya Menghilang
Siram Sampai Wujudnya Menghilang

Ada lagi yang ini:

Denda Memaki Toilet
Denda Memaki Toilet

Maka janganlah sekali-kali kalian memaki-maki toilet, karena harus membayar denda. 😛 Lanjutkan membaca “Perhatikan Toilet Yogyakarta”

Obrolan Pekan Ini: Tawaran Sadis

Seorang ibu paruh baya terlihat sedang gencar melakukan penawaran pada sebuah tenda yang menjual baju-baju daster di pasar minggu pagi di sebuah kampus di Yogyakarta. Berkali-kali ibu tersebut menawar beberapa baju yang menjadi idamannya.

Ibu Paruh Baya: “Kalau yang ini berapa?”

Penjual: “Yang ini Empat puluh ribu, Bu.”

Ibu Paruh Baya: “Mahal amat. Sepuluh aja, ya.”

Penjual: “Boleh. Tapi hapenya ditinggal ya, Bu.”

NB.
Penjual adalah ia orangnya perempuan yang menyimpan kekesalan dalam hati akibat barang dagangannya ditawar-tawar rendah sekali tetapi tetap dapat mengumbar senyum demi menarik pembeli.

Menikah!

Diawali dengan pernikahan pasangan Pengkhianats Bangsa Penampakanz ini, terciptalah pasangan-pasangan dari lingkaran perkawanan kami. Kemarin, Ahad, tanggal 18 September 2011 menjadi resmilah ikatan sepasang muda-mudi yang keduanya adalah kawan-kawan kami di sebuah masjid kampus di Yogyakarta.

Maka berbahagialah kami semua karena keluarga besar kami bertambah semakin besar dan erat.

Resepsi Pernikahan Pak Bambang dan Bu Bambang
Resepsi Pernikahan Pak Bambang dan Bu Bambang

Selamat menikah kepada Bambang Hartomo Ramadhan dan Alphine Ristina Puri. Semoga kalian senantiasa diberikan barakah oleh Allah SWT, jalinan keluarga yang sudah kalian ikat kemarin semoga menjadi sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Perjalanan Terbaik

Pekan keempat bulan Februari. Senin Kliwon ini aku sarapan dengan lima potong roti.

Seperti inilah topik Post a Day hari ini:

Describe the best road trip you’ve ever taken.

Bonus: If you’re feeling all glass half empty, the worst road trip. Or describe a road trip you’d like to take and why you want to take it.

Perjalanan darat terpanjang yang pernah kualami adalah ketika liburan kenaikan kelas 2 SMA: Darmawisata ke Bali! Berhubung berkas catatan perjalanannya telah terhapus dari komputer dan sudah tidak mungkin dibangkitkan kembali, juga karena sebagian besar ingatanku tentang perjalanan itu terhapus pula bersamaan dengan lenyapnya berkas catatan perjalananan itu, maka liburan ke Bali itu tidak bisa dikatakan sebagai perjalanan darat terbaikku. 😦

Awal bulan April tahun lalu aku dan kawan-kawan The Penampakanz melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta. Perjalanan dimaksudkan sebagai kunjungan balasan atas kunjungan kolega kami dari Kota Gudeg itu dua bulan sebelumnya. Selain itu kami juga bermaksud menjadikan beberapa area di Yogyakarta sebagai latar belakang dalam dua film yang akan kami buat. Yak! Benar sekali, kami syuting di Jogja!

Berangkat dari Jakarta menggunakan sebuah mobil dan supir sewaan. Total kami berenam, termasuk supir sewaan bernama Kang Badi. Perlu aku sampaikan di sini bahwasanya Kang Badi ini adalah seorang supir yang “gila”. Betapa tidak gila, hobinya mengebut, memanuverkan mobil ke kiri dan kanan secara cepat, dan menglakson sepeda-sepeda motor yang ada di depan dan samping mobil kami. Kang Badi telah sukses membuat kami menjadi semakin mendekatkan diri pada Sang Khalik dalam perjalanan itu.

Sepanjang perjalanan kami bernyanyi dan bercanda ria. Sesekali kami mengelus dada dan beristighfar manakala Kang Badi menyalip truk atau bus di depan kami dengan kecepatan yang luar binasa. Yah, dalam perjalanan itu kami semua bergembira.

Tak banyak yang ingin kuceritakan mengenai perjalanan ini. Yang jelas kami di sana berhasil menyelesaikan syuting film pendek perdana kami yang berjudul “Wasiat”. Kami berkunjung ke kompleks Candi Prambanan, Pantai Parangtritis dan Pantai Depok, Jalan Malioboro, Pasar Beringhardjo, Tamansari, dan objek-objek menarik lainnya di Yogyakarta.

Meski sangat menguras tenaga, kami puas. Kami bergembira. Aku berharap semoga pada kesempatan lain dalam perjalanan hidupku bisa bersama-sama lagi dengan mereka melakukan perjalanan yang serupa. Entah ke Jogja lagi, entah ke kota lain. Entah tahun ini, tahun depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi.

Maka berikut inilah sedikit dokumentasi perjalanan waktu itu: